Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Kehangatan keluarga Nandira


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹


"Ayo Nak Nathan. Nak Aris silahkan makan". Ucap Namsin mempersilahkan kedua pria itu ikut sarapan bersama mereka.


"Terima kasih Ayah". Senyum Nathan.


"Nak layani suamimu ya". Perintah Namsin pada putrinya.


"Iya Ayah". Nandira mengambilkan makanan untuk suaminya.


Aris melirik Nathan, dari sedikit tercengang melihat Nathan yang bisa berbaur dimeja makan. Biasanya pria itu sangat terganggu dengan kebisingan dimeja makan. Namun seperti nya Nathan mulai terbiasa.


Mereka makan sambil mengobrol hangat. Sesekali diselingi tawa saat Nandira dan Nando berdebat. Kakak beradik itu memang suka berdebat hal-hal tidak penting.


Nathan dan Aris terharu. Mereka benar-benar kagum dengan keluarga sederhana ini. Meski rumah mereka tak mewah tapi mereka terlihat nyaman dan aman. Meski rumah mereka kecil tapi mereka saling melindungi satu sama lain.


Dan pertama kali nya Nathan dan Aris makan tanpa sendok. Mereka yang sudah biasa makan dengan sendok atau garpu kini harus mulai belajar makan dengan tangan.


"Bagaimana Mas, enak kan makan dengan tangan?". Tanya Nandira disela-sela makannya.


"Iya sayang enak. Lebih leluasa". Jawab pria itu jujur.


Namsin dan Hellena tersenyum simpul. Mereka pikir Nathan pria sombong namun malah Nathan dengan mudah berbaur meski terbilang masih baru dan awam.


Setelah makan mereka berkumpul diruang keluarga milik keluarga Nandira. Rumah keluarga Nandira tidak mewah, tidak besar namun nyaman dan terawat kebersihan nya.


"Ayah, Dira ingin mengunjungi kebun kita. Sudah lama Dira tidak kesana". Gadis itu meletakkan nampan berisi kopi panas diatas meja.


"Iya Nak. Ajak adikmu ya". Sahut Namsin.


"Iya Ayah". Kata Nandira "Mas mau ikut?".


"Boleh". Seru Nathan semangat.


Aris mendelik kearah Nathan. Seumur hidup baru kali ini pria itu akan menginjak tanah secara langsung dan ke kebun.


"Ya sudah ayo Mas". Ajak Nandira


"Ayah. Bunda. Saya ikut Dira ya". Ucap Nathan berpamitan.


"Iya Nak Nathan. Hati-hati ya". Pesan Namsin.


"Mas Aris, mau ikut?". Tawar Nandira.


"Iy_".

__ADS_1


"Tidak usah. Biar Aris dirumah saja temani Ayah mengobrol". Nathan menatap asisten nya tajam dia tidak mau waktunya bersama Nandira tersita gara-gara Aris.


"Baik Tuan". Sahut Aris mengangguk dan langsung kikuk.


Nathan, Nandira dan Nando pergi ke kebun. Nathan menggeleng jijik ketika kakinya menginjak tanah yang dingin itu. Dia tidak mau melepaskan tangannya digenggaman tangan istrinya.


"Mas Nathan belum pernah ke kebun?". Tanya Nando berjalan didepan Nathan dan Nandira.


"Belum Ndo". Jawab Nathan. Jangankan ke kebun melihat kebun saja dia tidak pernah.


"Mas pasti suka. Dikebun suasana nya adem dan nyaman Mas. Membuat suasana hati hangat". Seru Nando "Iya kan Kak?". Imbuhnya lagi.


"Iya Mas benar kata Nando". Sahut Nandira "Pegang tanganku ya Mas takut Mas terjatuh".


Mereka menyusuri jalan kebun. Memang benar suasana dikampung itu membuat hati nyaman dan damai. Suasana masih alami dan hangat.


"Kak, bawa Mas nathan istirahat dipondok. Aku mau kesana dulu, cari kepang". Ujar Nando


"Iya Nando. Jangan jauh-jauh". Pesan Nandira.


"Ayo Mas duduk kesana dulu".


Nandira membawa suaminya duduk dipondok tempat biasa Namsin dan Hellena istirahat disela-sela pekerjaan nya.


"Sayang apa nanti tidak gatal-gatal?". Nathan menatap banyak bekas tumbuhan daun padi dipondok itu.


"Setelah ini mandi Mas biar tidak gatal". Sahut Nandira.


"Nando cari apa?". Nathan membersihkan tangannya yang sedikit berlumpur akibat berpegangan pada daun padi.


"Cari keong mas". Jawab Nandira.


"Tanaman apa itu?". Tanya Nathan penasaran belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.


"Bukan tanaman Mas. Tapi itu sejenis hewan yang bisa dimakan. Warga disini biasa mengolah itu menjadi bahan makanan. Rasanya enak dan pas untuk menu makan malam keluarga". Jelas Nandira.


"Begitu ya sayang. Maaf kurang tahu". Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Para warga yang kebun nya bersebelahan dengan keluarga Nandira. Menatap Nathan dan Nandira dengan iri. Apalagi Nathan adalah suami Nandira. Mereka tentu tahu siapa Nathan pria kaya yang sering masuk televisi.


"Indah ya sayang. Disini nyaman". Nathan menghirup udara segar dipersawahan itu.


"Mas suka?". Nandira juga ikut menikmati suasana pagi yang nyaman disana.


"Sangat suka sayang. Rasanya tidak ingin pulang. Ingin disini. Tapi ada yang lebih indah dari ini".

__ADS_1


"Apa Mas?". Nandira menatap Nathan.


"Istriku. Dia lebih indah dari segalanya".


Blushhhhhhhhhhh


Wajah Nandira langsung merah merona mendengar gombalan suaminya itu. Gadis itu memalingkan wajahnya kedepan takut kelihatan gugup didepan Nathan.


"Mas".


"Aku tidak menggombal sayang. Kau lah anugrah terindah dalam hidupku". Nathan menggenggam tangan istrinya "Apa aku mencintai ku sayang?". Nathan menatap istrinya penuh harap.


Nandira menggeleng dengan polosnya "Aku tidak tahu cinta itu seperti apa Mas. Yang pasti saat bersama Mas aku senang dan nyaman aku merasa terlindungi. Aku merasa memiliki. Aku merasa jantung ku berdebar tak seperti biasanya". Jawab Nandira.


Nathan terkekeh pelan "Tidak apa sayang. Aku akan mengajarimu cara mencintai. Mungkin kau sudah mencintai ku juga?".


"Bisa jadi Mas. Karena setiap kali didekat Mas aku bahagia". Gadis itu memeluk lengan suaminya dengan manja.


"Kau ini.....". Nathan membiarkan gadis itu bersandar dibahu nya.


Sejenak keduanya terdiam menikmati suasana pagi menjelang siang disawah itu. Daun padi yang saling berlambai-lambai membuat hati seketika menghangat. Ditambah udara segar yang seolah mengajak mereka untuk saling menghangatkan.


"Sayang, kau tahu tidak. Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Sebelum kau hadir, hari-hari ku terasa mati. Jiwaku seolah tak memilih roh. Tapi kehadiran mu bisa membuka mataku untuk menatap dunia".


"Kenapa bisa begitu Mas?". Nandira mendongkrakkan kepalanya menatap sang suami.


"Karena saat kau hadir semuanya terasa indah". Nathan tidak tahu dari mana dia bisa menemukan kata-kata manis itu. Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya.


Nandira tersenyum dan kembali merebahkan kepalanya dibahu pria itu. Nyaman sekali bahu pria itu.


"Sayang kau tahu tidak? Aku takut sekali saat tahu kau pulang kampung". Ucap Nathan menghela nafas panjang.


"Kenapa bisa takut Mas?". Tanya gadis itu menatap suaminya.


"Firasat ku mengatakan ada yang tidak beres_".


"Untung Mas cepat datang. Aku juga takut Mas. Mas Karel itu orang nya nekad. Aku tahu dia benar-benar membawaku pergi".


Nathan merengkuh tubuh kecil Nandira "Tenang ya. Jangan takut lagi. Takkan ada yang bisa membawamu pergi dari sisiku. Aku akan menjagamu". Ucapnya penuh keyakinan.


"Terima kasih Mas".


Awal yang baru untuk keduanya. Sama-sama belum pernah jatuh cinta. Belum pernah berhubungan dengan siapapun. Nathan berharap suatu saat nanti Nandira bisa mengatakan mencintainya. Dia yakin istrinya akan jatuh cinta padanya jika waktunya sudah tepat nanti.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2