Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Bab 23. Mars & Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Cinta adalah ketika kau menemukan dia diantara rasa sakit. Lalu menjadikan dia sebagai obat yang ampuh untuk mengobati luka yang membelit. Jika datang begitu saja tanpa diundang. Dia memberi bahagia kepada mereka yang merasakannya. Namun jika bisa menjadi petaka dan luka bagi orang-orang yang salah dalam memaknai nya.


Mobil Mars memasuki pekarangan rumah mewah keluarga William. Malam ini Mars membawa kekasihnya itu menemui kedua orangtuanya membicarakan tentang hubungan mereka yang sudah serius ini. Mars tak mau lagi menunggu lama. Dia takut nanti akan ada lelaki lain yang merebut Ayana darinya.


Keduanya masuk dengan tangan yang saling menggenggam dan menggandeng. Maklum sedang jatuh cinta dan pasangan baru, memang masih hangat seperti tai ayam.


"Ayana."


"Mom."


"Eitssss, stop.. Mom jangan sentuh milikku." Sergah Mars saat Syentia hendak memeluk calon menantu nya itu.


"Mas." Tegur Ayana kesal.


"Astaga Mars. Kau ini. Memangnya kenapa kalau Mommy memeluk calon menantu Mommy? Minggir." Syentia menyingkirkan tubuh putranya.


"Ck, tidak bisa." Mars malah menarik Ayana kedalam pelukannya "Peluk saja Daddy. Jangan kekasih ku." Pria itu malah mengeratkan tangannya dipinggang Ayana.


"Ini barang limited edition, aku mendapatkan nya penuh perjuangan. Jadi tidak ada yang boleh menyentuh nya selain aku. Aku takut nanti malah lecet." Celetuk Mars.


"Mas." Renggek Ayana.


Nafas Syentia memburu. Dia menatap putranya dengan tajam, geram dan juga gemes. Ingin dia memasukkan Mars kembali kedalam perutnya saking kesalnya.


Sedangkan Dennis hanya tersenyum sambil menggeleng. Begitulah Mars, dia akan posesif jika sudah menemukan orang yang tepat sebagai pendamping hidupnya.


"Sudahlah Mom. Banteng Pencemburu itu memang menyebalkan. Ayo masuk bawa calon Kakak Ipar." Ujar Ranti malas.


"Mas, kau ini." Ayana mencubit pinggang pria itu dengan gemes.


"Awww Sayang, sakit." Renggek Mars manja.


"Dasar manja." Sindir Ranti.

__ADS_1


Mars tak peduli. Siapa yang akan marah jika dia manja pada kekasihnya sendiri. Suka-suka dia lah.


Mereka masuk. Mars terus saja menempel pada Ayana, seolah takut ada yang mengambil gadis nya itu. Padahal semua sudah memiliki pasangan juga.


"Apa kabarmu Nak?" Tanya Dennis ramah pada calon menantunya. Dia geleng-geleng kepala melihat Mars yang menempel seperti prangko pada Ayana.


"Puji Tuhan, Ayana sehat Dad." Senyum Ayana. Gadis itu sedikit bergeser ketika Mars terus memepet dirinya seperti orang gila.


"Syukurlah." Senyum Dennis.


"Hem, Mas kau ini kenapa sih? Bisa tidak, jangan menempel terus. Kau seperti nyamuk penghisap darah!" Geram Ayana. Dia malu sendiri dengan sikap Mars yang seperti ini.


"Ayana, kau sudah makan?" Syentia bertanya ramah pada calon menantunya itu. Bersyukur kehadiran Ayana dapat mengubah sifat Mars yang dingin.


"Sudah Mom. Sebelum kesini tadi Ayana sudah makan." Jawab nya.


Ranti juga bahagia melihat kedua pasangan baru ini. Dia tak menyangka jika akhirnya Ayana berhasil menaklukkan si killer Mars yang selalu menyebalkan setiap kali pertemuan mereka. Ranti berharap ini akan menjadi kebahagiaan untuk Mars dan Ayana sebab Ranti tahu jika Mars adalah tipe orang setia ketika sudah menemukan wanita yang tepat. Semoga mereka bahagia hingga maut memisahkan.


"Dad. Mom. Ada yang ingin aku bicarakan." Sebelum nya Mars menatap Ayana dan tersenyum.


"Aku ingin meminta restu kalian untuk menjadikan Ayana istri ku. Aku ingin menikahi nya." Senyum Mars sambil menatap Ayana dengan cinta. Sedangkan Ayana berkaca-kaca, dia tidak tahu kenapa? Kenapa perasaan nya bisa sebesar ini pada Mars?


"S-serius?" Tanya Syentia setengah tak percaya "Lalu bagaimana dengan Aris, bukan kah dia....?"


"Masalah Tuan Aris sudah kami berdua selesai kan Mom. Jadi jangan khawatir." Sahut Mars tangannya mengenggam tangan Ayana "Izinkan aku menikahi nya Dad. Mom. Restu kalian akan mengantarkan kami ke jalan bahagia." Tutur nya kemudian.


"Kami merestui kalian Son. Bahagia lah. Jaga Ayana dengan baik. Jadilah suami dan Ayah untuk nya." Ucap Dennis


"Terima kasih Dad restunya." Sahut Mars.


"Mommy juga merestui hubungan kalian berdua. Jangan lama-lama ya. Langsung gaskeuun tancap gass, tembak saja si Ayana biar keturunan William semakin bertambah." Seru Syentia.


"Mom, bicara itu disaring sedikit." Tegur Dennis pada istrinya.


"Kan memang harus begitu Honey. Biar kecebong Mars cepat tumbuh dirahim nya Ayana. Atau kalian sudah bercocok tanam duluan?" Syentia memincingkan matanya curiga.

__ADS_1


"Mom."


"Tentu saja. Tenanglah Mom. Cucumu akan segera hadir." Sahut Mars meluruskan. Padahal dia saja belum menyentuh Ayana diluar batas.


"Mas." Ayana mencebik kesal "Mom jangan didengarkan ucapan Mas Mars itu tidak benar." Ucap Ayana. Dia tidak mau nanti orangtua Mars beranggapan kalau dirinya bukan wanita benar.


"Benar juga tidak apa Kakak ipar." Sambung Ranti "Biar nanti kita bisa menggendong baby bersama." Celetuk wanita hamil itu.


Dennis dan Ivan yang normal menggeleng saja. Kalau Mars dan Ayana sudah menikah dan tinggal disini, pasti suasana Mansion ini akan semakin ramai ditambah dengan kehadiran anak-anak Mars dan Ranti nantinya.


"Percepat pernikahan kalian ya. Biar nanti Mommy yang urus semuanya." Seru Syentia.


"Mom tidak usah." Tolak Ayana "Maksud Ayana, pernikahan ini milik Mas Mars dan Ayana. Biarkan kami mempersiapkan segalanya. Kami hanya perlu restu dari kalian Mom." Ucap Ayana sambil tersenyum, takut jika penolakan nya nanti malah membuat calon mertuanya itu salah paham.


Syentia tersenyum. Tidak salah Mars memilih Ayana sebagai pasangan hidupnya. Gadis ini sudah memiliki pikiran yang dewasa.


"Baiklah. Mom percayakan pada kalian berdua. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan ya Sayang, minta tolong Mommy." Syentia mengusap lembut tangan Ayana. Tak sabar jika Ayana menjadi bagian dari keluarga nya.


"Terima kasih Mom."


Mars tersenyum hangat mendengar ucapan Ayana. Memang dari awal Ayana tidak mau merepotkan orang lain masalah pernikahan mereka. Dia ingin menyiapkan segala sesuatu nya sendiri. Karena menurut Ayana yang menikah mereka berdua. Yang menjalani hubungan rumah tangga juga mereka berdua. Jadi yang harus menyiapkan segala sesuatu nya juga mereka berdua.


"Terima kasih Sayang. Kau hebat." Bisik Mars tersenyum menggoda.


Ayana hanya tersenyum malu. Mungkin terbiasa mandiri dan melakukan segala sesuatu nya sendiri. Apalagi dia memang sudah lama kehilangan sosok orangtua jadi dia harus melakukan segalanya sendiri tanpa melibatkan orang lain. Semua kemandirian itu Ayana pelajari dari Kakak nya, Anara. Anara yang selalu mengajari nya hal-hal yang membuat Ayana mengerti arti kehidupan.


**Bersambung....


Malam para bundaku Sayang...


Apa kabar para bunda ku hari ini???


Terima kasih banyak buat kalian yang selalu setia sama cerita author remahan dari kampung ya wkwkw...


Mohon maaf author belum bisa balas komen kalian satu satu tapi Author baca kok dan author ucapkan banyak terima kasih buat kalian...

__ADS_1


Love kalian banyak-banyak**.....


__ADS_2