Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Bab 13. Mars & Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Ayana, please dengarkan aku." Mata Mars sudah berkaca-kaca. Apalagi melihat gadis ini hanya terdiam saja.


Ayana memalingkan wajahnya. Dia menyeka air matanya yang menetes. Dia pikir patah hati itu takkan sakit, ternyata sesakit ini. Saat dia patah hati gara-gara mencintai Aris dalam diam. Itu rasanya masih biasa. Kenapa sekarang serasa seluruh jiwanya terbang melayang?


Ayana menarik tangannya dengan paksa. Dia mengambil berkas yang jatuh ditangannya lalu membawanya dan meletakkannya diatas meja Mars.


Dia tak ingin menangis. Dia bukan wanita lemah yang akan menangis hanya karena cinta. Tapi kenapa malah air matanya menetes.


"Ayana, jangan marah Ayana. Tolong dengarkan aku. Dengarkan penjelasan ku. Ini tidak seperti yang kau lihat Ayana. Ini tidak benar." Mars masih memohon sambil memegang kedua tangan Ayana.


Ayana lagi-lagi menariknya. Percayalah tidak ada hati wanita yang baik-baik saja ketika melihat kekasihnya saling bertempelan bibir dengan wanita lain.


"Ini berkas yang perlu anda tandatangani Tuan. Saya permisi."


Ayana melewati Mars dan tak mau mendengar penjelasan lelaki itu. Dia ingin sendiri dan merenungi segala rasa sakit yang terturih didalam hatinya.


"Ayana."


Secepatnya Mars memeluk gadis itu dari belakang. Tidak. Tidak. Dia tidak mau Ayana salah paham. Dia tidak mau Ayana pergi. Dia takkan sanggup tanpa Ayana. Gadis itu sudah berhasil membuatnya bangkit dari patah hati yang sempat membuatnya tak percaya akan adanya cinta.


"Ayana jangan pergi. Dia tiba-tiba datang lalu duduk di pangkuanku dan mencium ku Ayana. Sungguh aku tidak tahu kenapa dia bisa datang dan aku terkejut saat dia mencium ku lalu kau datang. Tolong Ayah. Jangan tinggalkan aku."


Ayana memejamkan matanya. Membiarkan Mars memeluk nya. Sungguh hatinya teriris sakit. Kalau Mars tidak mau, kenapa hanya terdiam saat Rayana mencium nya? Kenapa tidak menolak saja? Kenapa tidak mendorong Rayana? Kenapa saat Ayana datang keduanya masih berciuman.


Ayana melepaskan pelukan Mars dibelakang nya. Dia berbalik dan menatap lelaki yang tampak menangis itu. Seumur hidup baru kali ini Ayana melihat Mars menangis. Tangan Ayana mengusap pipi Mars


"Aku tidak akan pergi tapi untuk sementara aku ingin sendiri."


Gadis itu berbalik lelehan bening itu kembali lagi menetes dipipi nya. Ahh kenapa dia jadi lemah seperti ini jika masalah perasaan.


"Ayana. Jangan marah. Jangan pergi." Mars mencengkram tangan gadis itu.


Ayana berbalik. Dia tersenyum. Senyum menutupi luka yang terasa perih dan ditumpahi cuka.


"Aku tidak marah. Aku hanya kecewa. Kau berubah menjadi orang yang kau benci. Pahami perbedaan nya. Beri aku waktu."


Ayana menepis tangan Mars lalu keluar dari ruangan Mars. Niat hati ingin bermanja-manja dengan Boss sekaligus kekasihnya itu. Tapi ternyata malah luka yang dia dapatkan.


Mars tersungkur dilantai sambil menangis bahkan dia tak gengsi lagi untuk mengeluarkan air matanya. Dia tidak mau Ayana pergi hanya gara-gara masalah ini. Ini tidak seperti yang Ayana pikirkan.


"Ayana. Maafkan aku Ayana. Kumohon jangan pergi hiks hiks." Sambil menutup wajahnya.

__ADS_1


Mars memukul lantai hingga buku-buku tangannya mengeluarkan darah. Tapi dia sama sekali tidak merasakan sakit. Hatinya jauh lebih dari pada tangannya.


.


.


.


.


Ayana terduduk lemas di kursi nya. Dia memejamkan matanya sambil memegang dadanya yang masih terasa perih.


"Tidak Ayana. Jangan menangis. Kau itu wanita kuat. Kau tidak pantas menangis lelaki seperti nya." Secepatnya dia menyeka air mata nya dangan kasar.


Bayangan wanita itu mencium Mars dengan agresif masih terngiang-ngiang dikepala Ayana. Setiap kali bayangan itu melintas dipikiran nya. Dia merasakan sakit yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.


Drt drt drt drt drt drt


Ayana mengambil ponsel yang dia letakkan diatas meja. Dia lagi-lagi menyeka air matanya yang sialnya masih saja menetes meski dia sudah sekuat tenaga untuk tidak menangis.


"Iya Mas Aris. Baik Mas. Aku segera kesana."


Ayana berdiri sambil memasukkan benda pipih itu kedalam tasnya. Dia tampak berjalan tergesa-gesa.


"Siang Nang Ayana." Si perusuh Ferry datang lagi menganggu gadis itu.


"Ada apa?" Ketusnya menatap Ferry jenggah.


"Mau kemana Neng? Mau Aa temani?" Dia tersenyum menggoda.


"Tidak perlu."


Ayana keluar dari lift dengan langkah lebar. Dia mengambil kunci mobil dan masuk kedalam mobil.


Gadis itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia panik saat mendengar telpon dari Aris.


"Kak Nara, semoga kau baik-baik saja Kak." Ayana sudah cemas bukan main. Anara adalah saudara yang dia punya satu-satunya. Dia tidak mau terjadi sesuatu dengan Kakak nya itu.


Sampai dirumah sakit. Gadis itu langsung masuk bahkan setengah berlari.


"Mas."


Dia menghampiri Aris yang tampak duduk diruang tunggu.

__ADS_1


"Na."


"Mas, bagaimana keadaan Kak Nara?" Cecar Ayana.


Aris menggeleng dengan lelehan bening dipipinya.


"Nara harus di operasi tapi harus memilih antara menyelamatkan bayi atau Ibu nya." Jelas Aris.


Deg


Ayana langsung terdiam. Tubuh nya seketika lemah. Kenapa bisa seperti ini? Kenapa harus memilih? Bukankah Kakak nya itu baik-baik saja.


"M-maksud Mas?"


"Nara menderita kelainan rahim. Dia tidak pernah menceritakan kondisi pada Mas dan tadi, ketika Mas mau kasih susu untuknya. Dia sudah tergeletak dilantai dengan darah yang mengalir dari bagian bawahnya. Dokter mengatakan kondisi bayi kami kritis. Dan Dokter tidak bisa menyelamatkan keduanya. Harus memilih diantara mereka berdua. Mas tidak bisa Ayana. Mas tidak bisa kehilangan salah satu diantara mereka."


Ayana bersandar lemah. Apa selama ini Kakak nya itu benar-benar menderita kelainan rahim? Lantas kenapa tidak bercerita? Anara tetap dengan sifat lamanya tidak bisa terbuka dan selalu tertutup dengan masalahnya.


"Mas tidak mau kehilangan mereka. Mas memilih menyelamatkan Nara. Karena dia segalanya untuk Mas."


Ayana memejamkan matanya. Pipinya terasa panas dan matanya berkaca-kaca. Netra matanya mulai kabur dan penglihatan nya tak jelas ternyata air mata sudah menganak disana dan sebentar lagi akan membasahi pipinya.


Kenapa hari ini dunianya serasa runtuh? Begitu banyak masalah yang menghantam tubuhnya.


Ayana menggeleng tak percaya. Tidak. Kakak kembarnya harusnya hidup bahagia. Namun kenapa harus dihadapkan dengan dua pilihan rumit seperti ini.


Hidup Anara tak pernah baik-baik saja. Dia selalu hidup dalam penderitaan. Kehilangan kedua orangtuanya. Kehilangan tunangan nya. Dan sekarang dia harus kehilangan buah hatinya yang bahkan belum sempat melihat dunia.


"Dokter bagaimana?" Aris berdiri dan langsung mencecar dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.


"Kita harus segera melakukan operasi Tuan. Persiapkan diri anda untuk menemani Nyonya Nara dan memberinya kekuatan." Ucap sang Dokter.


"Mas Galvin."


"Ayana."


Ayana berdiri menghampiri Galvin dan Aris.


"Mas tolong selamatkan keduanya. Apapun yang terjadi mereka berdua harus baik-baik saja." Ayana sampai mengenggam tangan Galvin benar-benar memohon takdir memberikan Kakak nya kesempatan untuk hidup.


"Akan Mas usahakan Na." Galvin menarik gadis itu kedalam pelukannya.


"Terima kasih Mas." Ayana memang butuh pelukkan. Sangat bahkan rasanya dia ingin menangis meluapkan semua perasaan lelahnya.

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2