Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Manja.


__ADS_3

Yuk kesem-kesem bareng Nathan dan Nandira lagi. Jangan lupa dilike ya... LoveUsemua.......


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Mas ini makan siang nya." Nandira meletakkan semangkuk capcai kuah didepan suaminya.


"Uhhhh harumnya sayang, membuatku semakin lapar." Nathan mengenduskan hidungnya sambil menghirup asap yang meluap dari mangkuk itu.


"Ayo Mas, makan ya?." Nandira mengambilkan nasi untuk suami tercinta nya itu.


"Sayang suapi." Renggek Nathan manja. Kapan lagi bisa bermanja-manja pada istri sendiri?


"Iya Mas." Nandira yang polos tak pernah protes pada suami nya yang manja malah dia senang.


Wanita itu mengambil nasi dan menuangkan kuah capcai diatas nya. Tak lupa tempe goreng kesukaan Nathan. Entah sejak kapan pria itu suka tempe goreng, pokoknya apapun yang dimasak Nandira selalu pas dilidah Nathan.


"Ayo Mas makan." Nandira menggeser kursinya.


"Iya sayang." Nathan tentu dengan senang menerima suapan demi suapan dari istri tercinta nya itu.


Nathan makan dengan lahap beberapa kali Nandira menambahkan nasi dan lauk kedalam piring suaminya.


"Sayang kenapa aku tidak bisa kenyang ya? Apalagi kalau aku makan memakanmu." Nathan tersenyum devil sambil mengedipkan makannya.


"Kenapa Mas ingin makan aku? Aku bukan makanan Mas." Celetuk Nandira.


"Kau enak sayang." Nathan lagi-lagi tersenyum genit.


"Memang Mas pernah makan aku? Kok Mas bisa tahu kalau aku ini enak?." Tanya Nandira heran dari mana suaminya itu tahu kalau dia enak.


"Ehem." Nathan menggaruk tengguknya yang tidak gatal.


"Tidak sayang." Pria itu memilih mengalah dari pada menjelaskan apa arti 'memakanmu' pada istri kecilnya.


"Mau lagi sayang." Pinta Nathan.


Nandira kembalu menyuapi pria itu. Sesekali membersihkan bibir Nathan yang blepotan. Setiap siang seperti itu menyuapi suaminya seperti bayi. Dan Nandira tak pernah protes, karena dia selalu ingat pesan Ayahnya untuk melayani suami dengan tulus dan ikhlas.


Setelah selesai makan Nandira membuatkan kopi kesukaan suaminya itu.


"Mas kopinya."


"Iya sayang."

__ADS_1


Nathan tengah membaca administrasi pendaftaran kuliah istrinya. Dia harus memastikan bahwa semuanya aman. Untung saja nilai sekolah Nandira tinggi hingga istrinya itu hanya melakukan beberapa test.


Kuliah kedokteran tidak main-main, begitu banyak test yang harus Nandira jalani. Nathan pikir dengan kekuasaan nya dia bisa meminta pemimpin fakultas untuk menerima istrinya tanpa seleksi. Namun hal itu tak berlaku, untuk bisa menjadi mahasiswi kedokteran harus ditest dan seleksi dengan ketat.


"Sayang seperti nya Minggu depan kau harus ikut test dulu. Ada beberapa test yang harus kau lakukan agar bisa menjadi mahasiswi kedokteran." Jelas Nathan menutup map ditangannya.


"Tidak apa-apa Mas, aku sudah mempersiapkan diri." Sahut Nandira.


"Tapi kalau kau tidak lulus bagaimana?." Nathan sedikit pesimis. Karena dia tahu bagaimana sulitnya test menjadi mahasiswi kedokteran itu.


"Kan aku belum coba Mas." Nandira mengupas buah jeruk yang ada diatas meja.


"Kalau misalnya tidak lulus bagaimana?." Nathan menatap istrinya. Kasihan kalau Nandira tidak lulus istrinya ini sangat ingin sekali menjadi dokter.


"Aku bisa ambil fakultas ekonomi atau fakultas sastra atau sains." Jawab Nandira tenang-tenang saja.


"Tapi kan kau sangat ingin menjadi dokter sayang?." Nathan menatap istrinya dengan sendu.


"Ya kalau memang jalanku tidak disana. Aku tidak mungkin memaksa. Lagian tidak menjadi dokter agar bisa menolong orang. Aku bisa jadi guru dan membuat orang pintar. Bukankah itu juga menolong orang?." Seru Nandira.


Nathan mengangguk paham. Dia tahu istrinya ini hanya mencoba percaya diri dan semoga saja Nandira lulus dan bisa menjadi dokter sesuai dengan keinginan wanita cantik itu.


"Istriku hebat." Nathan menarik Nandira kedalam pelukannya.


"Siapa dulu suaminya?." Nandira membalas pelukan pria itu.


"Mas mau?."


Nathan mengangguk dan menerima suapan dari tangan istrinya.


"Sayang, apakah kau mau ku ajak jalan-jalan dan belanja di Mall. Selama menikah aku belum pernah mengajakmu jalan-jalan." Ucap Nathan.


"Boleh Mas."


Sebenarnya Nathan ingin mengajak Nandira bulan madu keluar negeri dan menemui adiknya Mey. Namun Minggu depan istrinya itu harus mengikuti test jadi dia tidak bisa mengajak istrinya itu.


"Aku ganti baju dulu Mas." Nandira berdiri dari duduknya.


"Ikut." Pria itu mengulurkan tangannya manja agar Nandira menyambut nya.


Nandira tersenyum dan menyambut uluran tangan suaminya. Pokoknya dia menurut apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Tidak pernah membantah sama sekali.


Kedua nya masuk kedalam kamar. Tangan Nathan memeluk pinggang istrinya dengan sayang. Untung saja hari ini jadwal nya tidak padat dan bahkan setelah ini dia tidak kembali kekantor jadi dia bisa menghabiskan waktunya berdua saja dengan sang istri.

__ADS_1


"Sayang jangan pakai ini." Protes Nathan.


"Memang kenapa Mas?." Kening Nandira berkerut heran.


"Jelek." Cetus Nathan.


Padahal bagus tapi karena dia tidak mau jika orang lain akan menikmati kecantikan istrinya itu.


"Mas kalau ini bagaimana?." Nathan mencoba lagi pakaian nya yang lain.


"Jelek Sayang. Ganti."


Beberapa kali gadis itu berganti pakaian selalu saja tidak pas di mata suaminya.


"Mas kenapa semuanya tidak cocok? Aku harus pakai baju yang mana Mas?." Gerutu Nandira mulai kesal kenapa mau jalan-jalan saja ribet.


"Tunggu sebentar sayang biar aku yang pilihkan."


Nathan menuju walk in closet dan mencari baju-baju istri nya yang berjejer rapih disana. Semua pakaian itu Nathan yang pilihkan karena dia tidak mau istrinya memakai pakaian terbuka.


"Ini saja sayang." Nathan memberikan baju kodok yang baju dan celananya menyatu jadi satu.


"Iya Mas." Lagi-lagi wanita itu menurut.


Nathan tersenyum simpul. Istrinya ini memang masih polos-polosan. Tidak pernah membangkang dan menurut apa saja yang Nathan katakan.


Kadang Nathan khawatir saat istrinya kuliah nanti. Dia takut jika istrinya itu malah dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.


"Bagaimana Mas?." Seru Nandira sambil memutar-mutar tubuhnya.


Nathan tersenyum. Pilihannya selalu tak pernah salah. Tepat dan pas. Seperti Nandira selalu pas dihatinya.


"Pas sayang." Sahut Nathan.


"Ya sudah aku pakai foundation sedikit yaa?." Nandira duduk dikursi depan meja riasnya


"Jangan sayang, begitu saja sudah cantik." Cegah Nathan. Tidak memakai apapun istrinya itu cantik apalagi jika memakai make up dan lipstik.


"Ohh sudah cantik ya Mas begini." Seru Nandira berdiri dari duduknya.


"Sudah cantik sayang." Nathan tersenyum senang karena Nandira menurut.


"Ya sudah ayo." Nathan menggandeng tangan istrinya.

__ADS_1


Hari ini dia sendiri yang akan menyetir karena dia tidak mau waktunya dan Nandira diganggu. Dia ingin selalu menikmati waktu bersama istri kecilnya itu. Bagi Nathan selalu tak cukup meski setiap hari bersama.


Bersambung....


__ADS_2