Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Posessif


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Seorang wanita tengah sibuk merias dirinya didepan cermin. Wajahnya mulus dan terawat. Beberapa alat make up menempel diwajah cantiknya. Dulu dia sama sekali tidak tahu apa itu make up tapi saat menikah dengan pria terkaya seperti suaminya membuatnya harus banyak-banyak belajar.


Senyumnya menggembang, dan tak lupa lipstik itu menempel dengan kuat dibibir manisnya. Bibir tipis dan seksi yang begitu menggoda.


"Sayang." Sang suami tadi terus merenggek "Untuk apa sih cantik-cantik tanpa memakai apapun kau sudah cantik! Lagian kau berdandan untuksiapa sih?" Dia mengerutu kesal.


Namun wanita itu tampak tak peduli dia terus menempelkan alat make up diwajahnya. Sejak hamil dia bertambah semakin cantik dan menawan.


"Sayang." Suaminya berdiri dan memeluk wanita itu dari belakang karena malas dari tadi dia merenggek tapi istrinya seolah tak peduli.


"Mas kau ini kenapa sih?" Dia geleng-geleng kepala


"Kita tidak usah pergi ya sayang? Kita titip saja hadiahnya pada Aris." Ucap nya membalikkan badan wanita hamil itu.


Sang istri langsung berubah masam "Kau ini bagaimana sih Mas? Ranti sudah menggundang kita masa kita tidak hadir. Lagian kan tidak lama." Protes Nandira.


"Tapi sayang_."


"Siap-siap Mas. Cepat pakai pakaian mu. Kasihan Mas Aris dan Kak Nara sudah menunggu dari tadi." Nandira mengambil pakaian suaminya yang terletak diatas ranjang.


Nathan menghembuskan nafasnya kasar. Sumpah demi apapun rasanya dia tidak mau pergi ke pesta ulang tahun Ranti. Apalagi disana nanti pasti ada Mars, bagaimana kalau Mars malah melirik Nandira dan jatuh cinta lagi pada istrinya.


"Sayang kau itu terlalu cantik malam ini. Bagaimana kalau ada yang melirik mu rasanya aku tidak rela." Bibirnya mengerucut namun menurut saat Nandira memasangkan kemeja ditubuhnya.


Nandira menghela nafas panjang "Mas tenang saja ya supaya mereka tidak melirikku biar aku saja yang melirik mereka." Celetuk Nandira.


"Sayang kau berani macam-macam?" Ancam Nathan kesal.


"Memangnya kenapa harus takut?" Nandira menahan tawa.


"Kau ya....."


Cup cup cup cup cup


Pria itu menghujani wajah istrinya dan dengan banyak ciuman.


"Hahha Mas hentikan nanti riasanku bisa rusak." Nandira berusaha menghindari Nathan.


Nathan berhenti kasihan juga istri nya nanti bisa lelah dan bisa berakibat fatal untuk kandungan Nandira.


Keduanya keluar dari kamar dan Nathan memeluk pinggang istrinya dengan posessif. Seolah dia takut Nandira menjauh barang seinci pun.


Tampak di ruang tamu Aris dan Anara sudah menunggu kedua pasutri itu.


"Selamat malam Tuan. Nona." Sapa keduanya sambil membungkuk hormat.


"Selamat malam juga Mas. Selamat juga Kak Nara." Balas Nandira tersenyum sumringah.

__ADS_1


Wajah Nathan ditekuk kesal. Rasanya dia tak rela membawa Nandira keacara ulang tahun Ranti.


"Mas Aris sudah disiapkan kado nya?"


"Sudah Nona." Jawab Aris.


"Terima kasih ya Mas. Maaf sudah merepotkan." Ucap Nandira


"Tidak apa-apa Nona sudah tugas dan tanggung jawab saya." Sahut Aris.


"Ck, sayang, kenapa kau berbicara dengan Aris terus." Gerutu Nandira


"Memangnya aku harus berbicara dengan siapa Mas?" Nathan menatap suaminya heran.


"Ya berbicara denganku sayang. Aku kan suamimu."


"Kan memang Mas suamiku. Tidak mungkin suami Mas Aris kan?"


Nathan dan Aris menelan salivanya kasar. Nandira sejak hamil berbicara tak beraturan kadang membuat Nathan pusing sendiri dengan ucapan sang istri.


.


.


.


.


"Kau kenapa sih kebelet pipis?" Tanya Mars melirik gadis itu


"Tidak." Ayana menggeleng sambil memaksakan senyum.


"Astaga, kenapa aku gugup begini ya? Bagaimana jika kedua orangtua Tuan Mars malah menolakku karena aku hanya rakyat jelata, tapi bukankah hal itu bagus karena aku tidak perlu berpura-pura untuk menjadi kekasihnya." Batin gadis itu berjingkrak senang.


"Ck, kau itu kenapa sih?" Mars bergidik ngeri. Tadi terlihat sedih sekarang malah tersenyum tidak jelas.


"Tidak apa-apa Tuan." Ayana tersenyum kaku sambil mengigit bibir bawahnya.


"Pasti disana ada Tuan Aris dan Kak Nara, ahhh malas sekali melihat mereka." Batin Ayana kesal.


"Apa Ranti menggundang Nathan dan Nandira ya? Rasanya aku rindu sekali dengan Dira. Apa kabar dia?" Batin Mars.


Keduanya terdiam hanya deru suara mobil yang menggema sedangkan keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan.


Ayana pikir dia bisa mengenyahkan Aris dalam pikirannya dan mengikhlaskan pria itu dengan sang Kakak namun nyatanya tak segampang itu.


Mars melirik Ayana yang tiba-tiba diam dengan tatapan kosong. Kenapa rasanya aneh saat Ayana tak berceloteh seperti biasanya.


"Sedang memikirkan Tuan Aris?" Tebak Mars.

__ADS_1


Ayana mengarahkan pandangan kearah Mars. Lalu gadis itu mengangguk dengan polosnya karena memang dia sedang memikirkan pria yang akan menjadi calon Kakak iparnya itu.


"Apa begitu terlihat?"


Mars mengangguk. Entah kenapa hatinya mencelos sakit saat Ayana memikirkan pria lain padahal sedang bersamanya.


Sampai di Mansion mewah keluarga Mars, keduanya turun masing-masing. Memang tidak ada romantis-romantis seperti pasangan pada umumnya.


"Kenapa?" Tanya Ayana ketika melihat Mars tiba-tiba berhenti.


"Cepat peluk lenganku." Suruh Mars menarik tangan Ayana dengan agresif.


"Ck, kenapa dipeluk-peluk sih?" Protes Ayana hendak menarik tangannya yang ditarik Mars.


"Kau lupa atau bagaimana? Kau lupa kalau kita ini sepasang kekasih ya harus mesra seperti yang lain, kau memeluk lengan ku begitu." Jelas Mars sabar.


"Memangnya begitu ya?" Gadis itu menurut lalu memeluk lengan Mars "Begini?"


"Nahhh gadis pintar." Dia tersenyum devil melihat Ayana yang menurut.


"Tapi_."


"Tapi kenapa?" Langkah Mars kembali terhenti


"Kenapa harus memeluk lenganmu? Ck, aku tidak mau."


"Jangan dilepas." Cegah Mars ketika Ayana hendak menarik tangan nya.


"Tuan aku malu." Ucap Ayana memelas


"Cih, kau ini pantas saja tidak pernah pacaran kaku begini." Sindir Mars.


"Apa katamu....?" Ayana menatap Mars tajam "Aku bukan tidak laku aku hanya tidak mau saja."


"Alah, bukan tidak mau memang tak ada yang mau dan kasihan cintaku bertepuk sebelah tangan." Ledek Mars.


"Apa bedanya dengan mu? Bukankah cintamu juga bertepuk sebelah kiri?." Balas Ayana tak mau kalah.


"Kau........"


Hanya perdebatan kedua nya terhenti saat melihat sebuah mobil mewah yang baru saja berhenti tidak jauh dari mereka berdua.


Mars dan Ayana melihat orang yang turun dari mobil mewah ini. Tanpa sadar Ayana memeluk lengan Mars dan Mars melingkarkan tangannya dipinggang gadis itu.


"Tuan Aris, kenapa sulit sekali mengikhlaskanmu bersama Kak Nara? Kenapa semakin hari aku semakin sakit melihat kemesraan kalian berdua?" Batin Ayana dengan mata berkaca-kaca.


"Dira, kau semakin cantik! Dan kenapa aku iri pada Nathan yang bisa memiliki jiwa dan ragamu." Batin Mars


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2