Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Gadis kampung


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Kak Dira. Mas Nathan".


Nando datang dengan membawa kantong berwarna hitam cukup besar ditangannya.


"Sudah dapat Ando?". Nandira bangkit dari bahu suaminya.


"Kak lihat Ando dapat banyak". Ujarnya dengan bangga menunjukkan isi kantongnya.


"Wahhh besar-besar sekali. Pasti ini sangat enak". Nandira sudah ngiler duluan.


"Apa ini?". Nathan bergidik ngeri "Nando kau kotor sekali, nanti kau sakit bagaimana?". Omel pria itu.


"Tidak akan sakit Mas. Ando sudah biasa". Jawabnya "Kak Dira bagaimana kalau kita cari belut. Disana banyak Kak". Ajaknya


"Boleh banget Ando. Kakak sudah lama tidak menangkap hewan itu". Seru Nandira sumringah.


"Mas ayo". Sambil mengandeng tangan suaminya.


"Cari apa sayang?". Nathan merenggut kesal. Sungguh badannya sudah gatal-gatal dan tidak tahan


"Belut Mas. Itu paling enak". Seru Nandira "Ayo".


Nathan dengan sangat terpaksa mengikuti langkah kaki istrinya. Astaga dia benar-benar tak sanggup. Meski suasana persawahan cukup indah dan nyaman tapi tetap saja dia merasa jijik. Apalagi banyak lumpur, bagaimana kalau ada cacing. Bisa mati kutu Nathan ketakutan melihat cacing-cacing liat itu.


"Kak aku dapat satu". Sambil mengangkat belut yang dia tangkap.


"Aaaaa. Apa itu?". Sontak Nathan memeluk istrinya ketakutan "Nando bagaimana kau memang ular itu? Nanti kalau dia mengigit mu bagaimana?". Ujar pria itu ketakutan sambil memeluk Nandira.


"Mas ini bukan ular. Ini belut sawah. Ini enak Mas diolah jadi makanan. Kak Dira suka". Jelas Nando memasukkan belut itu kedalam kantong plastik nya.


"Jauh-jauh Nando. Aku takut". Pria itu merenggek seperti anak kecil sambil berlindung ditubuh kecil istrinya.


"Mas". Nandira geleng-geleng kepala "Belut itu tidak gigit". Tuturnya.


"Mas tunggu disini ya. Aku mau bantu Ando ambil biar cepat dapat banyak". Ucap Nandira berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Jangan sayang. Aku tidak mau kau di gigit". Cegah Nathan. Jangankan memakannya melihatnya saja dia benar-benar ketakutan dan juga jijik.


Nandira menghela nafas berat. Suaminya ini penakut sekali.


"Ya. Kita tunggu Ando ambil ya". Gadis itu mengalah "Ando, ambil yang sedikit besar ya. Hari sudah tengah hari, kita pulang". Ajaknya.


"Iya Kak".


Lelaki yang menginjak baku Sekolah Menegah Atas itu dengan sigap dan cepat menangkap belut-belut sawah. Dia seperti sudah biasa dan tak canggung apalagi takut. Kehidupan dikampung memang harus berani dan bisa apa saja.


Sementara Nathan tidak mau jauh dari istrinya. Rasanya dia menyesal tadi ikut kesini. Meski begitu pria itu tetap bahagia asal jangan melihat belut saja.


Cukup lama mereka mencari keong dan belut disawah. Hingga hampir menjelang sore. Nandira membawa suaminya pulang kasihan sultan seperti Nathan harus dibawa jalan-jalan ke sawah.


"Dira".

__ADS_1


Langkah ketiga orang itu terhenti saat ada yang memanggil nama Nandira.


"Kak Nana. Kak Nara".


Dua gadis cantik berwajah mirip berjalan menghampiri ketiga orang itu. Mungkin mereka kembar karena terlihat dari wajah yang begitu mirip.


"Apa kabar mu kapan kau datang?". Tanya salah satunya "Ehhh Tuan Nathan". Langsung membungkuk hormat.


"Baik Kak". Sahut Nandira "Kak perkenalkan ini suamiku". Ucapnya memperkenalkan Nathan. Apalagi Nathan sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada sang istri.


"Suami?". Beo Ayana dan Anara.


"Iya Kak. Suamiku". Senyumnya "Mas perkenalkan ini Kak Nana dan Kak Nara. Mereka saudara sepupu dari Ayah". Ucapnya.


Nathan mengangguk saja. Dia bahkan tak menerima uluran tangan Ayana dan Anara. Dia memang selalu begitu. Hanya Nandira saja yang berhasil membuatnya tak jijik dengan wanita.


"Ayo Kak. Ikut kami".


Mereka pulang menuju rumah Nandira. Nathan berjalan memepet Nandira takut melihat isi kantong Nando yang bergerak-gerak.


"Kalian sudah pulang?". Hellena menyambut kedatangan anak-anak nya.


"Iya Bunda".


"Tuan".


Mata Aris membulat saat melihat penampilan Nathan. Kaos oblong berwarna putih itu putih dengan lumpur. Apalagi kaki Nathan sudah berlumpur-lumpur.


Apalagi Nathan adalah pria yang memiliki tingkat kebersihan tinggi. Paling tidak suka sesuatu yang kotor. Pria ini cerewet dan rewel.


"Iya Bunda. Bersihkan dulu keong dan belut nya. Biar nanti Dira yang masak. Ayo Mas".


"Bik, biar kami bantu". Tawar kedua gadis kembar itu.


"Iya sudah ayo".


Ayana menatap nanar wajah Aris. Dia tak berkedip beberapa kali melihat pria tampan itu. Tinggi dan bersih. Seperti oppa-oppa didrama Korea yang dia tonton.


"Hallo Tuan. Perkenalkan Ayana". Sambil mengulurkan tangannya.


"Aris". Jawab Aris cuek tanpa menyambut uluran tangan Ayana.


"Na, ayo". Anara menarik tangan adiknya. Gadis itu memang sedikit dingin dari sang adik.


"Kakak, aku masih ingin berkenalan dengannya". Gadis itu mencebik kesal.


"Nanti saja. Kita bantu Bibi masak dulu". Sergah Anara.


Aris menatap kedua gadis itu. Wajah mereka sangat mirip. Jika tidak memakai baju yang berbeda akan sangat sulit membedakan wajah mereka.


"Maaf ya Nak Aris". Namsin melihat tak enak "Dia keponakan Ayah. Memang Ayana anaknya begitu kurang sopan". Tuturnya lagi.


"Tidak apa-apa Ayah". Sahut Aris memaksakan senyum.

__ADS_1


.


.


.


.


"Mas kulitmu merah-merah. Maaf ya Mas". Nandira panik melihat kulit suaminya yang memerah mungkin akibat tersentuh daun Adi yang mengandung hama.


"Tidak apa-apa sayang. Nanti aku akan minta Aris untuk bawakan obat". Ujarnya.


"Mas, tunggu disini ya. Aku ke dapur dulu".


Nathan mengangguk dan menatap istrinya yang keluar dari kamar. Senyumnya terbit. Senang rasanya ada yang perhatian.


"Disini nyaman dan tenang. Istriku gadis unik dan menggemaskan. Sayang masih polos, bagaimana nanti aku mengajarinya malam pertama. Ciuman saja masih belum bisa? Hadehhh". Nathan menghela nafas panjang.


Namun jauh didalam hati Nathan dia benar-benar bersyukur menjadi pasangan Nandira meski gadis itu terlalu jujur mengatakan belum mencintainya tapi Nathan akan membuat istrinya jatuh cinta kepadanya.


Nandira masuk kedalam kamar sambil membawa mangkuk yang berisi sesuatu disana.


"Apa itu sayang?". Kening Nathan berkerut heran.


"Ini abu dari kayu bakar Mas. Orang-orang disini sering memakai ini sebagai obat gatal-gatal". Jelas Nandira "Buka baju mu Mas dan berbalik lah".


Nathan menurut. Pria itu membuka bajunya. Dibelakang tubuhnya memang terlihat merah-merah.


Nandira menaburkan abu itu ke punggung suaminya. Lalu meratakan nya dengan pelan.


"Kenapa rasanya dingin sayang?".


"Iya Mas. Memang dingin". Sahut Nandira.


Lama gadis itu mengobati bentol-bentol merah ditubuh suaminya. Dia sudah biasa. Waktu kecil saat pertama kali ke sawah dia juga sama seperti Nathan.


"Sudah Mas. Pakai baju mu". Ucapnya "Apakah masih gatal?".


"Tidak sayang. Obatnya langsung beraksi, kren juga ya. Sama seperti iklan". Pria itu terkekeh pelan.


"Ohhh ya Mas. Kak Nana dan Kak Nara itu belum dapat kerja. Mereka sedang cari kerja. Apakah boleh mereka ikut kita ke kota dan mencari pekerjaan disana?".


Nathan tampak berpikir. Sebenarnya dia tidak terlalu suka ada orang baru yang masuk kedalam kehidupan rumah tangga nya.


"Boleh sayang. Tapi mereka tidak bisa tinggal bersama kita. Aku akan menyiapkan Apartement untuk mereka. Nanti biar Aris yang urus semuanya". Jelas Nathan.


"Lho memangnya kenapa mereka tinggal dengan kita Mas?". Kening Nandira berkerut heran.


Nathan menghela nafas panjang lalu mengenggam tangan gadis cantik itu.


"Begini sayang. Tidak baik ada orang lain yang tinggal bersama kita. Kita tidak tahu apa yang bisa terjadi". Jelas Nathan.


"Ohhh begitu ya Mas. Ya sudah tidak apa-apa mereka tinggal di Apartement saja". Sahut Nandira.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2