Cinta Manis Sang Presdir

Cinta Manis Sang Presdir
Bab 19. Mars & Ayana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Didalam mobil, Mars masih tidak mau bicara. Wajahnya ditekuk kesal gara-gara Ayana yang tidak ingat dengan panggilan sayangnya.


Dia ingin dipanggil sayang, biar terlihat manis dan romantis seperti di novel-novel dan drama Korea.


Sedangkan Ayana santai-santai saja sambil mengotak-atik ponselnya. Padahal gadis itu melipat bibirnya menahan tawa melihat wajah Mars yang seperti baju kusut tidak disetrika itu.


"Sayang." Renggek Mars sambil menyetir.


"Iya Mas kenapa?" Ayana memasukkan ponselnya didalam tas nya.


"Aku sedang merajuk dan ngambek. Kau tidak ingin merayuku atau membujukku?" Bibirnya lagi-lagi menggerecut kesal.


Ayana lagi-lagi ngakak. Astaga kenapa kekasihnya ini seperti anak kecil saja.


"Mas, mana ada orang yang ngambek dan merajuk bilang dulu ke orang lain?" Ayana geleng-geleng kepala


"Maafkan aku ya Sayang ku. Jangan ngambek lagi dong, nanti tampan nya hilang." Ayana menarik sudut bibir pria itu agar tersenyum.


Mars tak mampu menahan tawanya. Dia tersenyum lebar. Senang sekali dipanggil sayang oleh wanita yang dia cintai.


"Nahhh begitu kan tampan!" Ayana mengedipkan matanya jahil.


"Kau ini...." Mars menarik Ayana kedalam pelukannya. .


"Mas." Protes Ayana "Kau sedang menyetir. Bahaya." Dia melepaskan diri dari pelukan Mars.


Sampai dikantor. Keduanya turun dari mobil. Seperti biasa, keduanya akan menjadi pusat perhatian.


Mars menggandeng tangan Ayana masuk kedalam gedung tersebut. Dia tak malu lagi mengumbar kesemesraan didepan semua karyawan nya. Semua orang harus tahu jika Ayana adalah kekasih hatinya.


.


.


.


.


Galvin menghela nafas panjang. Dia memakai arloji itu dipergelangan tangannya. Dia menatap pantulan dirinya didepan cermin.


"Aku harus ikhlas melepas Ayana untuk Kak Mars. Asal Ayana bahagia." Gumamnya.


Bayangan Ayana yang menangis didalam pelukkan Mars, membuka pikiran Galvin bahwa cinta memang tidak bisa dipaksa. Ayana tampak lebih bahagia berada didekat Mars.


Pria itu mengambil jas dokter nya dan tas yang dia tenteng berisi beberapa peralatan medis didalamnya.

__ADS_1


"Pagi Mom. Pagi Dad." Dia duduk kursi meja makan dan ikut sarapan bersama kedua orangtuanya. Galvin anak tunggal jadi tak memiliki saudara yang sekandung dengannya.


"Pagi juga Nak." Balas sang Ayah.


"Pagi Kak Galvin." Tanya gadis kecil, adik sepupu Galvin yang kebetulan tinggal bersama kedua orangtuanya. Karena orangtua gadis itu sudah meninggal.


"Ini makan Son." Utami mengolesi roti untuk putra tunggalnya itu.


"Terima kasih Mom." Galvin mengambil roti itu dan menggigitnya.


"Bagaimana pekerjaan mu Son? Apa kau betah menjadi direktur rumah sakit?" Tanya sang Ayah disela-sela makan mereka.


"Ya begitulah Dad. Tapi aku menyukai pekerjaan ini." Jawab Galvin.


"Ck, jangan bahas pekerjaan. Lebih baik bahas kapan putra tunggal kita ini laku. Umurnya sudah hampir memasuki kepala tiga tapi belum juga dapat jodoh." Omel Utami


Galvin mendengus kesal. Di meja makan selalu saja sama di cecar kapan menikah? Kapan menikah? Rasanya Galvin muak dengan pertanyaan seperti itu. Sungguh membosankan sekali.


"Mom berhenti menanyakan kapan menikah? Aku saja tidak tahu kapan!" Ketus Galvin.


"Makanya Galvin, cari pasangan. Kau mau Daddy dan Mommy meninggal sebelum melihat cucu. Kau itu anak tunggal dikeluarga Wijaya." Omel Utami.


Galvin menghela nafas panjang. Ibunya ini kalau bicara memang suka asal. Galvin belum berpikir untuk menikah. Baru saja mau membuka hati untuk seseorang malah dia dipatahkan dan ditolak begitu saja.


"Sudahlah Mom. Jangan bahasa itu terus." Sang suami mencela sambil geleng-geleng kepala.


"Itu akibat kau suka membela pria tua ini Dad. Makanya dia tidak laku." Ujar Utami dengan wajah kesal nya "Mana si Ayana mu itu? Katanya kau sudah memiliki pacar bernama Ayana?"


"Sudah jadi milik orang lain." Sahut Galvin asal "Aku berangkat dulu." Dia menyalimi kedua orangtuanya serta adiknya. Tak lupa dia mengecup pipi Utami yang masih kepo siapa Ayana.


"Ehhh Galvin jangan pergi dulu, kau harus jawab pertanyaan Mommy. Jika Ayana sudah jadi milik orang lain lantas kenapa kau selalu memanggil namanya setiap malam?"


Galvin tak menanggapi, dia malah berjalan keluar tanpa peduli dengan ocehan sang Ibu. Seandainya dia dulu yang bertemu dengan Ayana. Pastilah gadis itu akan jadi miliknya.


Galvin menyalakan mobilnya lalu menjalankan nya dengan kecepatan sedang. Pria itu tersenyum kecut ketika mengingat penolakan Ayana. Gadis itu dengan terang-terangan menolak pernyataan cintanya. Ayana memang berbeda meski terkesan kasar dan bar-bar, tapi kalau bicara dia selalu apa adanya tanpa mau menjadi orang lain agar disukai orang lain.


Galvin memincingkan matanya, ketika melihat seorang Bapak-bapak dan seorang gadis berhijab yang berjalan tertatih di trotoar jalan.


Galvin menepikan mobilnya. Dia keluar dari mobil karena penasaran kenapa Bapak-bapak itu tampak kesakitan. Dan anak gadisnya memapahnya dengan langkah tertatih.


"Permisi Pak. Bapak kenapa?" Galvin menghampiri kedua orang itu.


"Dokter Galvin."


"Ehhh Ara." Balas Galvin "Apa yang tefajdi kenapa Ayahmu bisa terluka?" Cecarnya.


"Tadi Bapak jatuh dari tangga Dok. Ini mau bawa ke rumah sakit, sambil menunggu taksi." Jawab Zahra. Dia melirik Ayah nya yang tampak kesakitan.

__ADS_1


"Ya sudah naik mobil saya saja." Tawar Galvin membantu pria paruh baya itu.


"Tidak usah Dok. Saya sudah pesan taksi." Tokal Zahra tak enak hati.


"Jangan menolak. Ayahmu harus segera di obati. Nanti kaki nya bisa infeksi." Sahut Galvin.


"Baik Dok." Zahra pun tak enak menolak apalagi Galvin terlihat tulus membantunya.


Galvin dan Zahra membantu Slamet masuk kedalam mobil. Pria paruh baya itu tampak kesakitan dibagian kaki nya yang mengeluarkan darah serta sudah membengkak.


Galvin menjalankan mobilnya kembali. Sesekali dia melirik kebangku belakang dimana Zahra tampak sabar meniup-niup kaki Ayahnya yang luka. Wanita berhijab itu jika dilhat-lihat memang cantik dan manis. .


Sampai dirumah sakit, mobil Galvin terparkir dilobby.


"Ayo Pak." Galvin membantu Slamet turun dari mobil


"Terima kasih Nak. Kau baik sekali." Puji Slamet.


"Sama-sama Pak."


Slamet langsung ditangani oleh dokter yang bertugas di UGD tentunya atas perintah Galvin.


"Pak, ini nanti diminum ya. Supaya tidak terasa nyeri lagi." Galvin memberikan kantong obat pada Slamet.


"Terima kasih Nak."


"Bapak tunggu disini sebentar. Ara mau bayar administrasi nya dulu."


"Jangan Ra." Cegah Galvin "Tidak perlu bayar. Biar nanti saya yang urus." Sambung Galvin.


"Tapi Dok_."


"Sebaiknya temani Bapak istirahat. Saya mau kembali ke ruangan dulu." Potong nya "Bapak sudah boleh pulang. Tapi istirahat dulu saja sebentar ya." Ucap Galvin lembut.


"Baik Dok. Terima kasih." Sahut Slamet.


Sedangkan Zahra merasa kagum dengan sifat ramah Galvin. Meski terlihat dingin dan cuek tapi sebenarnya dia memiliki hati yang lembut. Zahra bisa rasakan bahwa Galvin memang orang baik.


'Sadar Zahra. Kalian berbeda.' Batin nya berusaha menepis perasaan kagumnya pada Galvin.


Bersambung...


Maaf Mak cuma bisa dua bab.


Jangan lupa mampir ke karya sebelah author yaa....


Benang kusut di pernikahan ku...

__ADS_1


Love Me Please (Penyesalan suami Kejam)


Dinikahi Crazy Rich....


__ADS_2