
Nara sedang sibuk dengan pekerjaannya, dia pagi ini terlihat begitu bahagia.
"Hay kamu....." tiba-tiba ada tangan kekar yang menarik Nara, membuat Nara terkejut.
Nara melihat seseorang yang tiba-tiba menarik tangannya, tatapannya seketika menjadi tidak suka pada orang itu.
"Apasih? Aku sedang kerja, kamu ganggu aja." Omel Nara, dengan tatapan sengit tapi laki-laki itu menatapnya dengan senyum iblis.
"Ganggu! Hey, aku mencarimu untuk menanyakan baju yang kamu cuci kemarin," ujarnya dengan nada seru.
Nara semakin kesal menatapnya, dasar tidak tahu orang lagi kerja padahalkan bisa nanti pas sudah selesai kerja.
"Tuan Davin yang terhormat, baju anda belum kering dan akan saja bawa kalau sudah kering dan saya gosok dulu," tandas Nara dengan tegas.
Davin menganggukkan kepalanya, Nara masih menatapnya dengan tatapan tidak suka.
"Aish dasar, bukannya kamu laundry saja!" Davin berdecak kesal sambil melihat Nara yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Maaf, kemarin anda yang menyuruh saya mencuci baju anda, jadi saya cuci!" Tandas Nara, dalam hatinya kesal sekali pada Davin.
Davin kembali mendengus kesal. "Terserah kamu sajalah! Dasar gadis kampungan, tidak tahu apa-apa." Kata Davin, Nara hanya diam. "Hay gadis kampungan, buatkan aku jus jeruk jangan terlalu manis!" Titah Davin, sungguh Nara hanya bisa menahan rasa kesalnya.
"Baik tuan."
"Hay gadis kampungan, panggil nama aku dengan benar!"
__ADS_1
"Itu sudah sangat sopan, dasar laki-laki sombong."
"Panggil aku Davin! Bukan laki-laki sombong, ingat panggil nama aku yang benar!"
"Jika sampai salah, maka aku....." Davin menghentikan kata-katanya.
"Maka apa?" Tanya Nara, sambil menaruh jus jeruk pesanan Davin di hadapan Davin.
Davin diam, dia mencoba jus jeruk buatan Nara. "Aku bilang jangan terlalu manis, tapi kamu membuatnya sangat manis sekali." Omel Davin sambil meludahkan jus jeruknya.
Nara menghela nafas panjang, bisa-bisanya Davin terus menganggu pekerjaannya.
"Davin, aku sedang bekerja. Jangan ganggu aku!" Nara meninggalkan Davin begitu saja.
"Daniel, apa kamu bodoh? Kamu bisa-bisanya menyukai gadis kampungan seperti dia," batin Davin dalam hatinya.
Alvian dan Daniel ternyata sudah berdiri dan memperhatikan Davin dan Nara saling menatap, mereka sama-sama geleng-geleng kepala melihat sikap Daniel pada Nara.
"Lihat Davin mendekati gadis incaran aku!" Daniel berdecak kesal, tapi Alvian malah mengeluarkan tawanya.
"Davin sudah mengenalnya lebih dulu, hanya saja aku tidak tahu Davin menyukainya atau tidak?" Cerita Alvian, sambil melihat wajah Daniel yang kini sedang kesal.
Daniel terdiam, lalu bersama-sama berjalan ke tempat Davin sedang duduk.
"Dasar Davin, awas saja jika kamu merebutnya dariku!" Kata Daniel penuh dengan ancaman.
__ADS_1
"Kalian bersainglah secara sehat, lagian yang aku lihat Davin tidak suka dengan Nara. apa lagi Nara adalah gadis kampung," ujar Alvian membuat Daniel tersenyum penuh kemenangan.
"Baguslah," Daniel terlihat begitu semangat.
Kini mereka sudah duduk bergabung dengan Davin. Davin menatap Daniel dengan tatapan masih kesal, gara-gara kejadian semalam di clup malam.
"Hay Dan, kamu mencari gadis kampungan itu?" Tanya Davin, nadanya agak sedikit menyebalkan.
"Vin, nama dia Nara. Panggillah namanya yang benar!" Jawab Daniel, terlihat tidak terima dengan pertanyaan Davin.
Alvian hanya geleng-geleng kepala, pasti kedua sahabatnya akan berdebat seperti tadi malam.
"Sudah-sudah kalian jangan berdebat!" Lerai Alvian, agar kedua sahabatnya ini tidak berdebat.
"Mulut Davin itu Al, seperti cabe setan." Daniel mengadu pada Alvian.
"Aish, kamu ini Dan. Banyak gadis cantik yang lainnya, kenapa harus gadis kampungan itu?" Lagi-lagi Davin bertanya dengan nada meremehkan.
Daniel terlihat menahan amarahnya, kedua tangannya sudah mengepal dengan sempurna ingin menj*t*os Davin, tapi tangan Alvian terus memeganginya.
"Sudahlah, kalian itu ya. Jangan hanya gara-gara seorang gadis persahabatan kita jadi hancur," tandas Alvian dengan tegas. Kali ini menurut Alvian kedua sahabatnya ini terlalu kekanak-kanakan.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1