Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Menjadi pelayan cafe


__ADS_3

"Apa kamu mau Vin, menjadi seorang pelayan?" tanya Alvian pada Davin.


"Al....."


Davin kembali terdiam, ia tidak yakin jika dirinya harus menjadi pelayan cafe, apalagi seumur hidupnya Davin tidak pernah merasakan susah, tidak pernah mencuci piring ataupun melakukan hal lainnya, yang Davin lakukan setiap hari hanyalah foya-foya dan bersenang-senang, tapi ia juga punya perusahaan yang ia bangun sendiri, hanya saja karena masalah ini Marlin lagi-lagi membuat ulah agar Davin tidak tahan dengan hukumannya dan tentunya Marlin percaya kalau Davin itu akan segera pulang ke rumah, menurut Marlin, Davin itu tidak bisa melakukan apa-apa tanpa dirinya dan tentunya tanpa uang yang selalu di berikan pada Davin.


"Aku tahu Vin, bagian ini sangatlah tidak cocok untukmu, bagaimana kalau nanti aku tanyakan pada Daniel, pasti di kantor dia ada lowongan pekerjaan," kata Alvian dengan sorot mata serius.


Seketika otak Davin berputar-putar seperti komedi putar. "Daripada bekerja di kantor Daniel, mending aku kerja di cafe Alvian saja, ya jadinya kan bisa terus-terusan melihat Nara dan setiap hari dekat sama Nara." Davin senyam-senyum dalam hatinya.


"Jangan-jangan Al.....!!" larang Davin dengan cepat.


"Lebih baik aku berkerja di cafe kamu, tidak apa-apa sebagai pelayan yang penting halal dan aku juga tidak mau pulang ke rumah begitu saja," sambung Davin dengan cukup yakin.


Davin sadar jika dirinya pulang ke rumah begitu saja, pasti Marlin akan semakin melunjak dan tentunya akan menertawainya.


"Baiklah, jika kamu mau, kamu bisa mulai berkerja hari ini, untuk gajian sama dengan pelayan yang lain tidak apa-apakan Vin?" Alvian memastikan, karena Al juga sebenarnya merasa tidak enak pada Davin, apalagi Davin itu terhitung anak orang paling kaya di kota ini.


"Iya Al, tidak apa-apa," jawab Davin.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan pagi Alvian, Nara dan Davin berangkat bersama menuju ke cafe milik Alvian.


Alvian yang menyetir mobil, Davin duduk di sebelah Alvian sedangkan Nara duduk di bangku belakang.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama mereka pun sampai di cafe milik Alvian.


"Nar, kamu tolong ajarin Davin berkerja ya!" titah Alvian pada Nara, dan Nara mengangguk paham.


"Oh iya Vin, ingat jangan membuat masalah ataupun perdebatan," ujar Alvian pada Davin.


Davin mengangguk malas, membuat Alvian menatapnya dengan malas juga. "Biarlah Davin mau melakukan apa saja," batin Alvian dalam hatinya.


Alvian masuk ke dalam ruangan kerjanya sedangkan Nara mengajak Davin masuk ke dalam dapur.


"Vin, kamu ganti dulu bajumu, itu ada lemari pakaian khusus untuk pelayan baru, kamu pakai dulu! Lalu setelah itu aku akan mengajarimu dalam melakukan pekerjaan," kata Nara pada Davin.


Davin mengangguk, lalu ia berlalu pergi untuk berganti pakaian pelayan dulu, Nara juga pergi untuk berganti pakaian hanya saja tempat ganti pakaian laki-laki dan perempuan itu berbeda.


"Davin, kamu harus siap hidup miskin, sekarang kamu menjadi pelayan cafe, yakinlah jika mamamu melihat ini pasti dia akan tertawa meremehkanmu." Davin berbicara dalam hatinya, Malang sekali nasibnya tapi ini semua terjadi juga karena sandiwara cinta yang konyol itu.

__ADS_1


Setelah selesai berganti pakaian, Davin kembali ke dapur dan disana sudah ada Nara yang menunggunya.


"Tunggu, bukankah itu Tuan Davin."


"Iya, tapi dia memakai pakaian pelayan."


"Aku rasa Tuan Davin sedang gabut, makanya dia mendadak menjadi seorang pelayan cafe."


Para pelayan cafe yang lainnya tidak percaya melihat Davin memakai baju pelayan, mereka tahu Davin itu tidak bisa apa-apa, karena setiap datang ke cafe Alvian juga hanya duduk manis saja bersama dengan Alvian di ruangan kerja Alvian.


"Nara, itu bukannya Tuan Davin, tapi kenapa dia memakai baju pelayan?" tanya Sita, yang dari tadi berdiri di samping Nara dan tentunya memperhatikan Davin.


"Orang kaya sedang gabut kak," jawab Nara yang diiringi dengan tawa kecil di sudut bibir mungilnya.


"Gabutnya orang kaya, ternyata lucu juga Ra, sudahlah aku lanjutkan pekerjaanku dulu." Sita berlalu pergi meninggalkan Nara dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Nara berjalan menghampiri Davin, lalu ia pun mulai mengajari Davin dalam melakukan pekerjaan di cafe milik Alvian.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2