Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Menjadi pacar pura-pura


__ADS_3

"Kamu mau minta tolong apa?" tanya Nara dengan nada lembut.


Davin terdiam, haruskah dia meminta tolong pada gadis kampung ini?


"Nara....apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Davin, tatapan mata Davin begitu menakutkan membuat Nara bingung.


"Jangan menatapku seperti itu....!!" pinta Nara dengan nada kesal.


Seketika bola mata Davin berputar malas jika tidak membutuhkan bantuan Nara, dia juga enggan pagi-pagi seperti ini datang ke Apartemen miliknya hanya untuk menemui Nara, apalagi membawakan sarapan untuk Nara.


"Katakan kamu mau minta tolong apa?" tanya Nara dengan nada pelan.


"Bagaimana kalau kamu menjadi pacar pura-pura aku?" tawar Davin, seketika mata Nara membulat sempurna.


"Haahhh, apa kamu bilang?" Nara balik bertanya dengan raut wajah terkejut.


"Aku minta tolong, jadilah pacar pura-pura aku!!" Davin memperjelas perkataannya.


Dalam hati Nara, apakah semua laki-laki kaya seperti ini? Mereka berbuat gila, bahkan pacar saja harus pura-pura, sungguh Davin ini tidak waras pasti.


"Jangan konyol kamu Vin!!" pinta Nara.


"Coba dulu saja, aku serius Nara....!!" Davin kembali meyakinkan Nara.

__ADS_1


Kali ini Nara hanya terdiam, memikirkan perkataan gila Davin membuat otaknya menjadi pusing sepuluh keliling.


"Akan aku pikirkan, aku mau pergi keluar, aku mau belanja ke supermarket, apa kamu mau ikut?" jawab Nara, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan Davin melakukan hal yang sama.


Kini mereka berdua langsung pergi menuju ke supermarket, Nara juga tidak langsung memberikan jawaban untuk Davin karena menjadi pacar pura-pura pasti itu membuat dirinya tidak akan nyaman.


*****


Disebuah restoran mewah Marlin sedang arisan bersama-sama teman-teman sosialitanya, Marlin terlihat antusias apalagi ada beberapa teman-temannya yang membawa putri-putri cantik mereka.


"Lena, apakah ini anak kamu?" tanya Marlin, melihat gadis cantik yang sekiranya usianya baru 20 tahunan bergandengan dengan Lena yang tidak lain adalah teman arisannya.


"Marlin, iya ini anakku, namanya Sita," jawab Lena dan dengan sopan Sita menjulurkan tangannya pada Marlin. "Apa kabar bibi?" tanya Sita sambil tersenyum.


"Nak Sita, bibi baik-baik saja." Jawab Marlin, kini Sita mencium punggung tangan Marlin dengan sopan.


"Lena, bagaimana kalau kita setelah pulang arisan kita pergi shopping bertiga?" Marlin tersenyum pada Lena.


Lena mengangguk, lalu melihat Sita, Sita juga mengangguk setuju dengan ajakan Marlin.


Kini mereka asik dengan acara arisan mereka dan yang lainnya, Marlin juga diam-diam terus memperhatikan Sita yang duduk di dekat Lena. "Aku yakin Davin akan menyukai Sita," batin Marlin dalam hatinya.


*****

__ADS_1


Alvian terdiam sendirian di kamarnya, apalagi hari ini cafenya sedang libur jadi Alvian juga tidak ada pekerjaan.


"Davin, Daniel, tumben mereka tidak muncul di rumahku?" kata Alvian, rasanya kesepian sekali tanpa kedua sahabatnya itu.


Alvian mencoba menelpon Daniel tapi di angkat, lalu Alvian menelpon Davin juga tidak di angkat.


"Mereka begitu kompak, bahkan mereka sama-sama tidak mengangkat telpon dariku," celoteh Alvian sambil berdecak kesal.


Alvian terdiam sambil terus memandangi layar ponselnya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan itu telpon dari Laras.


"Laras menelponku, ada apa?" gumam Alvian dalam hatinya.


Alvian terdiam sejenak, haruskah dia mengangkat telpon dari Laras? Setelah berpikir beberapa detik akhirnya Alvian mengangkat telpon dari Laras.


"Hallo Ras, ada apa?" tanya Alvian dengan nada datar.


"Al, ayo kita ketemu! Aku tunggu kamu di dekat danau yang biasa kita ketemu," jawab Laras dan langsung mematikan saluran telponnya begitu saja.


Seketika Alvian menghela nafas berat, haruskah dirinya pergi ke danau yang di maksud oleh Laras? Tapi Laras mau apalagi?


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2