
"Nara......"
Davin menghentikan mobilnya, lalu dia buru-buru turun dari mobilnya, untuk menuju ke kursi taman itu.
Sesampainya di kursi taman itu, hati Davin begitu rapuh bahkan dia hendak meneteskan air matanya karena melihat Nara tertidur begitu pulas di kursi taman itu, Davin tidak tahu bagaimana rasanya tidur di kursi taman itu? Pasti tubuh mungil Nara rasanya sangat sakit.
"Kenapa, kamu harus pergi meninggalkan Apartemenku?"
"Dan kamu memilih di tidur di tempat seperti ini?"
"Bagaimana jika ada orang jahat? Jika ada menyakitimu?"
"Nara, kamu begitu tenang saat sedang terlelap seperti ini. Aku yakin kamu adalah gadis yang kuat dan hebat."
Davin berjongkok di hadapan Nara tidur, lalu tangan kekar Davin dengan lembut mengusap rambut Nara dengan lembut, tatapan Davin juga begitu dalam pada Nara.
"Hatiku berdetak kencang....." gumam Davin dalam hatinya, entah perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini? Yang jelas hatinya sangat tenang dan merasa lega karena sudah menemukan Nara.
Davin tersenyum kecil, lalu mengusap pipi Nara dengan lembut, aish kali ini Davin menang banyak di saat Nara sedang tertidur pulas dia malah mencuri-curi kesempatan.
"Haruskah, aku menjadikanmu sebagai wanitaku seutuhnya?" Davin tersenyum, tanpa izin dari Nara, Davin memberikan ciuman lembut di kening Nara.
Aish Davin sudah mulai berani, untung saja Nara sedang tidur pulas, jika tidak pasti Davin sudah di cakar-cakar oleh Nara karena marah sudah di cium oleh Davin.
Nara bergulat pelan karena merasakan sentuhan di tubuhnya.
__ADS_1
"Emmm......"
Perlahan-lahan Nara membuka matanya, melihat Davin ada di hadapannya Nara tidak percaya bahkan dia menganggap kalau ini hanyalah mimpi.
"Dasar cecungguk, untuk apa kamu hadir di mimpiku segala?"
"Aku sudah keluar dari Apartemenmu, tapi kamu masih saja hadir dalam mimpiku."
"Sungguh, ini mimpi tapi seperti nyata."
Nara terus mengoceh seraya tersenyum melihat Davin yang hanya diam karena mendengarkan ocehan Nara.
"Kamu itu terlalu menyebalkan, tapi malam ini kamu begitu manis....." Nara tersenyum, kali ini Nara sibuk dengan otaknya yang sudah traveling kemana-mana.
"Sudah mengocehnya?" tanya Davin dengan sorot mata tajam.
"Di mimpiku pun kamu bisa bicara, sungguh ini seperti nyata," lagi-lagi Nara menganggap kalau ini hanyalah mimpi.
"Apa kamu sudah selesai bermimpinya?" tanya Davin, tangannya dengan jail mencubit hidung Nara.
"Ahh, tapi kok sakit...?" Nara bicara dengan begitu polosnya.
"Karena kamu tidak mimpi, ini benar aku Davin. Bangunlah! Apa kamu mau menjadi gelandangan tidak jelas, ini di kota jadi kamu tidak boleh sembarangan tidur di tempat terbuka seperti ini, jika ada yang berbuat jahat padamu nanti bagaimana?" Davin malah mengoceh seperti burung beo, terlihat sorot mata Davin itu begitu kawatir pada Nara.
Nara membenarkan posisinya menjadi duduk, dia menatap Davin dengan tatapan begitu dalam.
__ADS_1
"Apakah ini nyata?" Nara masih belum yakin, dia akhirnya menyentuh pipi Davin dengan kedua tangannya.
Davin mendengus kesal, tapi dia cukup senang karena saat ini kedua tangan Nara menyentuh pipinya dengan lembut.
"Ini nyata gadis kampung, ayolah pulang denganku!" jawab Davin dengan nada lembut, dia juga mengajak Nara pulang karena takut Nara kenapa-napa jika sendirian di jalanan seperti ini.
Nara terdiam, padahal dia berusaha menjauh dari kehidupan Davin tapi Davin malah datang lagi dan saat ini ada di hadapannya, bahkan malam ini Davin datang bagaikan pahlawan bukan Davin yang menyebalkan seperti biasanya.
"Tapi, aku tidak mau terus-terusan merepotkanmu," tolak Nara dengan nada lembut.
"Tidak ada yang repot, jika aku meninggalkan kamu sendirian di jalanan seperti ini, aku nanti malah tidak tenang, jika terjadi sesuatu padamu aku juga pasti akan menyalakan diriku," jelas Davin dengan nada lembut dan penuh perhatian.
Davin meraih kedua tangan Nara yang saat ini sedang memegang kedua pipinya, lalu Davin memegang kedua tangan Nara dengan hangat.
"Kamu akan aman bersamaku, aku juga tidak merasa di repotkan," kata Davin, genggaman tangan Davin begitu lembut, sungguh Nara melihat Davin malah ini sangat berbeda sekali.
Nara tersenyum kecil, mungkin ada benarnya dengan apa yang Davin katakan jika terjadi sesuatu pasti nanti akan semakin rumit dan pastinya Alvian dan Daniel juga pasti akan ikut turun tangan.
"Kamu maukan pulang bersamaku?" tanya Davin dengan nada lembut.
"Aku...."
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1