
Jam menunjukkan pukul 7 malam, seperti malam biasanya Nara baru saja selesai kerja dan dia siap-siap untuk pulang.
"Ra, ayo pulang!" Ajak Vivi, Nara mengangguk pelan dan mereka keluar dari tempat kerja mereka bersama-sama.
Kini mereka sudah sampai di depan Vivi dan Nara sama-sama berhenti.
"Malam ini begitu cerah ya kak."
"Iya Ra, tapi sayangnya hati aku masih gelap."
"Kenapa bisa gitu kak?" Nara terlihat bingung, dia menatap Vivi penuh tanda tanya.
"Iya karena aku ini masih jomblo." Jawab Vivi sambil tertawa, membuat Nara juga akhirnya ikut tertawa.
"Sama kak, aku saja masih jomblo."
"Tidak apa-apa jomblo yang penting jomblo terhormat. Sudah malam, aku duluan ya Ra." Pamit Vivi dan Nara mengangguk kepalanya lalu Vivi berlalu dari hadapan Nara.
Setelah Vivi pergi, Nara menghela nafasnya dengan pelan lalu dia melangkahkan kakinya untuk pulang.
Alvian, Davin dan Daniel baru sama-sama keluar dari dalam cafe Alvian.
"Ra, sendirian saja. Laras mana?" Tanya Alvian tiba-tiba, yang ternyata sudah berdiri di belakang Nara.
"Al mengangetkan saja, Laras masih di luar kota. Dia belum pulang," jawab Nara dengan nada lembut.
Alvian menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Davin dan Daniel saling menatap ke arah Alvian dan Nara.
"Al, ayo pulang! Aku ikut mobilmu," kata Davin agak menggerutu. Tatapannya terlihat tidak suka pada Nara.
"Memang, mobil kamu kemana?" Tanya Alvian dengan nada males.
"Aku di antar supir tadi, ayolah!" Rengek Davin membuat Alvian menatapnya dengan kesal.
__ADS_1
Alvian tidak memperdulikan Davin, dia kembali melihat ke arah Nara yang masih berdiri di hadapannya dan jarak mereka hanya setengah meter.
"Ra, ayo pulang bareng aku!" Ajak Alvian, karena dia kawatir jika Nara pulang sendirian.
"Tidak usah Al, aku pulang sendiri saja." Tolak Nara dengan sopan.
Daniel melangkahkan kakinya menuju ke tempat Nara dan Alvian sedang berdiri, kini dia berada di tengah-tengah mereka.
"Al, Nara biar pulang denganku saja! Kamu urusin itu si manja takut nangis," kata Daniel dan Alvian menganggukkan kepalanya.
Davin menatap Daniel dengan tatapan kesal, dasar Daniel demen sekali meledek Davin dan membuat Davin naik darah.
"Apa kamu bilang, Dan?" Davin menatap Daniel dengan tatapan mengajak perang.
"Apa? Kamu anak manja," Daniel meledek Davin sambil menjulurkan lidahnya.
Nara sudah tertawa kecil, membuat Davin juga menatap Nara dengan tatapan sengit.
"Haha, anak mami." Gumam Nara dengan pelan, tapi ternyata di dengar oleh Davin.
"Aku mendengarnya gadis kampungan!"
"Bodoh, kamu kan punya telinga."
Nara menjulurkan lidahnya, lalu dia berjalan bersama Daniel menuju ke mobil Daniel dan Alvian juga menarik tangan Davin untuk masuk ke dalam mobilnya.
*****
Sesampainya di rumah Davin, Alvian hanya menurunkan Davin di depan gerbang rumah dia dan Alvian langsung pulang.
Davin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya dan di sambut oleh para penjaga rumah.
Marlin dari tadi sangat gusar menunggu anak kesayangan ini pulang, hampir setiap hari Davin pulang malam kadang dia pulang dengan keadaan mabuk dan di antar oleh Alvian.
__ADS_1
"Davin, darimana saja kamu?" Tanya Marlin, tatapan matanya terlihat tajam.
"Mama, kenapa mama belum tidur?" Davin malah balik bertanya, membuat Marlin semakin tajam menatapnya.
"Di tanya malah balik tanya, dasar anak kurang ajar. Sini, mau mama jewer." Marlin beranjak dari tempat duduknya, tangannya sudah siap untuk menjewer telinga Davin.
Davin langsung kicep, dia takut kalau mamanya sudah marah pada dirinya.
"Tidak mama, jangan jewer Davin!" Davin memasang wajah memelas.
"Kamu itu mau jadi apa? Setiap malam keluyuran tidak jelas, mabuk-mabukan, mau kamu apa?" Marlin menatap Davin dengan tatapan serius.
"Mama, Davin dari cafe Alvian. Malam ini tidak pergi ke bar," jawab Davin.
Sungguh Marlin sudah bingung bagaimana cara mendidik anak semata wayangnya ini. Setiap hari menurut Marlin, Davin itu selalu melakukan hal yang tidak berguna, mabuk-mabukan, keluyuran kadang lupa pulang. Entah mau jadi apa Davin ini?
"Ini hanya malam ini, kita tidak tahu besok dan seterusnya!" Sentak Marlin, membuat Davin kembali diam.
Davin menatap mamanya dengan tatapan memelas, berharap mamanya melepaskan dirinya dan mengizinkan dia masuk ke dalam kamarnya.
"Mama Davin ngantuk." Keluh Davin.
"Mungkin kamu menikah saja Vin, mama capek ngurusin kamu! Besok, mama kenalin kamu sama anaknya teman mama." Tegas Marlin pada Davin.
Davin terdiam, selalu saja mamanya itu menyuruh dirinya untuk menikah. Padahal jelas-jelas Davin belum siap untuk menikah.
"Tapi mama......"
"Davin, menurut lah pada mama! Besok mama atur agar kamu bertemu dengan anak teman mama dan mama tidak menerima penolakan dari kamu," tegas Marlin kali ini dia tidak mau di bantah.
Davin hanya mengangguk malas, percuma jika melawan mamanya yang ada tambah kemana-mana nantinya.
BERSAMBUNG 😁
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊