Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Suara siapa itu?


__ADS_3

Pagi yang cerah telah datang, Alvian juga sudah tersadar dari mabuknya semalam dan Daniel masih setia menemani Alvian di Apartemen milik Alvian.


"Al, mau sampai kapan kamu terus-terusan mabuk-mabukan seperti ini? Laras tidak pernah mencintaimu, jangan kamu sia-siakan hidupmu hanya karena satu wanita, lebih baik kamu cepat pergi mandi, lalu kamu jemput saudara sepupuku ke bandara, dia baru datang dari luar negeri, dia juga sangat cantik jauh lebih cantik dari Laras." Daniel terlihat serius, Al yang masih plonga-plongo dia hanya terdiam.


Dalam hati Alvian, apa aku ini sangat bodoh? Aku selalu mengharapkan perempuan yang tidak pernah mencintaiku sama sekali, aku ini sungguh bodoh, Alvian sangat bodoh.


Alvian bahkan mengutukti dirinya sendiri kalau dirinya itu bodoh, tapi memang Alvian ini bodoh sih sudah jelas-jelas Laras tidak mau dengan dirinya tapi tetap saja Al terus menginginkannya.


"Al, kamu dengar apa yang aku katakan?" Daniel memastikan dengan sorot mata tegas.


Alvian mengangguk. "Iya aku mendengarnya, baiklah aku akan pergi menjemput saudara sepupumu di bandara, tunggu kamu ikut bersamaku kan?" Alvian membalas sorotan mata Daniel dengan serius.


"Haruskah aku ikut?" Daniel malah balik bertanya.


"Lalu?" sambung Alvian.


"Cukup kamu yang pergi ke bandara sendiri, aku ada urusan, oh iya cafe kamu nanti aku yang urus, aku akan kesana," jelas Daniel dan Alvian mengangguk paham.


Akhirnya Alvian bergegas bersiap-siap untuk pergi ke bandara, sedangkan Daniel masih duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya ke dada sambil menonton televisi yang ada di ruang tengah Apartemen Alvian.


"Heh.. kenapa kamu malah duduk? Bukannya pergi mandi, bukannya kamu bilang kamu mau pergi ke cafe aku?" tanya Alvian, yang kini sudah rapi dengan setelan kemeja warna biru dongker dan celana panjang warna hitam sungguh Alvian terlihat sangat tampan.


Daniel mengangguk, dia bergegas menuju masuk ke dalam kamar mandi.


"Hati-hati di jalan, ingat lihat fotonya! Terus, itu aku kirim no telpon Ayuna, kamu jangan sampai salah jemput!" Daniel memberikan peringatan pada Alvian sebelum Alvian pergi menuju ke Bandara.


"Siapp bos....!!"


Alvian berlalu pergi, sedangkan Daniel tersenyum kecil. "Mudah-mudahan Alvian bisa cepat move on," batin Daniel dalam hatinya.


Setelah Alvian pergi, Daniel bergegas untuk mandi dan segera pergi ke cafe milik Alvian, karena tidak membawa baju ganti, Daniel akhirnya memakai baju milik Alvian tapi hal ini sudah sering terjadi sih, apalagi persahabatan mereka yang begitu erat itu membuat mereka tidak ada rasa risih sama sekali.


*****


Nara sedang sibuk di dapur, dia sedang menyiapkan makanan untuk sarapan pagi bersama Davin.

__ADS_1


Davin terdiam sambil melipat kedua tangannya ke dada, dia memperhatikan Nara yang sedang memasak.


"Jika aku punya istri, pasti pagi-pagi ada yang masakin, tidur ada yang menemani," batin Daniel dalam hatinya.


Di saat Davin sedang sibuk dengan hayalannya, tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu telpon dari sang mama tercinta.


"Aish pagi-pagi sudah di telpon, berasa seperti burunon aku ini..." gumam Davin, dia melihat ponselnya lalu mengangkat telpon dari sang mama.


"Hallo maa....."


"Dimana kamu? Semalam kamu tidur dimana?"


Terdengar suara mamanya begitu keras sehingga membuat telinga Davin sakit.


"Mama, telingaku bisa pecah....."


"Mama tanya, kamu tidur dimana semalaman?"


Nara yang baru saja selesai masak, dia hendak pergi ke meja makan untuk menyiapkan masakan yang sudah jadi itu.


"Davin, kamu sudah bangun....?" Nara melihat Davin, suara Nara terdengar begitu lemah lembut, beda dari biasanya.


"Pagi-pagi seperti ini, siapa yang sedang Davin telpon?" batin Nara dalam hatinya.


"Seperti ada suara perempuan, katakan padaku itu siapa?"


"Mama itu mungkin suara tetangga."


"Dia jelas menyebut namamu, mana mungkin suara tetangga, katakan pada mama gadis mana yang sudah kamu tidurin?"


Marlin merasa kesal, darahnya juga langsung naik karena ulah anak kesayangan ini.


"Mama, aku tidak tidur dengan gadis manapun, aku masih suci ma..." Davin mencoba menjelaskan pada mamanya.


"Bawah gadis itu ke rumah! Atau mama akan mencabut semua fasilitas yang mama kasih buat kamu, kamu pilih saja....!!"

__ADS_1


Marlin langsung mematikan saluran telponnya begitu saja dengan kasar.


"Dasar anak bandel, pasti dia sudah macam-macam dengan para gadis nakal yang hanya ingin uang anakku saja, Davin mama sudah jodohkan kamu dengan gadis yang sepadan dengan keluarga kita tapi kamu...." Marlin merasa marah dalam hatinya.


Davin berjalan menuju meja makan dengan langkah kaki malas, hayalannya yang tadinya begitu indah seketika buyar begitu saja.


"Vin, ayo sarapan...." kata Nara dengan nada lembut.


"Ini semua gara-gara kamu, kenapa kamu harus bersuara?" Davin terlihat kesal pada Nara.


Nara terdiam, dalam hati Nara, apa salahku? Apakah kekasihnya Davin marah karena mendengar suaraku tadi?


"Apa kekasihmu marah?" tanya Nara. "Nanti biar aku jelaskan semuanya," sambung Nara.


"Kekasih yang mana? Hampir setiap hari aku harus menghadapi kencan buta yang mama aku atur dan kamu menanyakan tentang kekasih," jelas Davin sambil tertawa, bisa gila jika terus-terusan disuruh kencan buta sana sini.


Nara tertawa, ternyata seorang Davin cukup takut dengan mamanya.


"Lalu, apakah kamu disuruh datang ke kencan buta lagi?" tanya Nara dengan nada meledek.


"Tidak, tapi kali ini aku harus membawa gadis yang tadi bersuara dan mamaku mendengar suara itu, jadi dia minta aku membawa gadis itu ke rumah...." jelas Davin, seketika Nara langsung terdiam sambil berpikir.


"Apa itu aku.....?" Nara bertanya dengan gugup.


"Iya siapa lagi kalau bukan kamu?" jawab Davin sambil mengangguk.


"Tapikan aku bukan kekasihmu," kata Nara.


"Aku tidak perduli, kamu yang menciptakan masalah ini." Davin tidak mau tahu, dia hanya ingin Nara datang ke rumahnya dan bertemu dengan mamanya.


Nara terdiam, membuat Davin juga ikut terdiam.


"Sudahlah, ayo kita sarapan, lalu ke rumah aku untuk bertemu dengan mama..." kata Davin dan Nara hanya mengangguk.


Entah apa yang akan terjadi nanti?

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2