
"Nara, maukah kamu menikah denganku dengan keadaanku yang seperti ini?" tanya Davin sorot matanya begitu serius.
"Davin..."
Hati Davin berdebar kencang, apalagi ini pertama kalinya ia mengajak seorang gadis untuk menikah dengan dirinya. Mungkin Nara bukan pacar pertama bagi Davin, tapi dalam hati Davin yang paling dalam ia ingin menjadikan Nara sebagai satu-satunya wanita dalam hidupnya.
"Nara jawab," pintanya saat Nara menghentikan kata-katanya.
"Davin, tapi mamamu tidak merestui pernikahan kita," jawabnya sendu.
"Nara, apakah itu penting? Aku janji aku akan selalu mencintaimu," tukas Davin dengan tatapan serius. "Jawab Nar, apakah kamu mau menikah denganku?" Davin bertanya kembali pada Nara.
"Iya Vin, aku mau menikah denganmu," jawab Nara dengan senyum lembut di sudut bibirnya.
Davin tersenyum, ia langsung memeluk Nara dengan erat.
"Kita akan menikah minggu depan," katanya di sela-sela pelukannya membuat Nara kaget dan langsung melepaskan dirinya dari pelukan Davin.
"Haah, minggu depan? Kamu kan belum bertemu dengan kedua orang tuaku," sengit Nara bersungut-sungut, seenaknya saja minggu depan.
"Kamu tidak usah kawatir, aku akan mengurus semuanya, kedua orang tuamu akan aku jemput, kita akan menikah di sini," ujar Davin panjang lebar.
Nara membulatkan kedua bola matanya, gampang sekali Davin bicara? Di saat seperti ini, mau dapat uang darimana? Apa dia tidak memikirkan semua itu? Beginilah, kalau manusia sudah terbiasa hidup mewah dan banyak uang apa-apa di buat gampang.
"Vin, lalu..."
"Sayang, aku tahu kamu memikirkan soal biaya untuk semuanya kan?" tebak Davin, Nara mengangguk pelan. "Iya, sedangkan kita tidak punya banyak uang," kata Nara pasrah.
"Tidak usah pikiran apapun, kita punya ini." Davin mengambil dompet dari sakunya, lalu ia menunjukkan kartu black card pada Nara sambil tersenyum.
"Tapikan itu bukan milikmu," ujar Nara.
"Kita ke rumah Rangga sekarang," kata Davin dengan mantap.
__ADS_1
Nara hanya diam, Davin langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah Rangga.
***
Sesampainya di rumah Rangga. Davin langsung mengajak Nara masuk ke dalam sana, ia yakin Rangga pasti di rumah, lagian kerjaan di juga keseringan online. Terus hobbynya main air alias berenang.
"Rangga.....!!"
"Tuan Davin, masuklah! Tuan Rangga sedang berenang," sambut Art di rumah Rangga.
Itukan betul pasti dia sedang berenang, lama-lama Rangga bisa jadi putra duyung.
"Adikku....!!" sapa Davin pada Rangga.
"Kak Davin, ada apa? Lalu gadis ini siapa? Pacar baru ya kak?" Rangga bertanya panjang lebar pada Davin.
"Bisakah kau bertanya satu-satu, adikku!" titah Davin dengan suara menekan, tapi senyuman begitu manis.
"Mana ada pacar baru, memangnya ada gadis lain yang aku kenalkan padamu?" sorot mata Davin seperti singa.
"Haahh, apa kamu punya gadis lain selain aku?" timpal Nara, ia langsung menyalakan api perang, awas saja jika sampai ada.
"Tidak ada sayang, jangan dengarkan mulut bedebah ini," pinta Davin pada Nara.
Rangga tertawa jail, sukurin kamu kak.
"Rangga, dia ini calon kakak iparmu, namanya Nara, cantikan," dengan bangga Davin memperkenalkan Nara pada Rangga.
"Cantik kak, bolehlah bagi-bagi," ledeknya yang begitu jail.
Kedua mata Davin menatapnya tajam setajam singa yang sedang marah.
"Bagi-bagi memangnya permen," cebik Davin dan Rangga tertawa puas. Inilah hal yang paling suka dari Davin, saat sedang cemburu kakaknya memang seperti itu, ia tampak lucu.
__ADS_1
Nara dengan senang memperkenalkan dirinya pada Rangga, ia mengulurkan tangannya kepada Rangga berniat untuk berjabat tangan dengan Rangga, tapi belum sempat Rangga mengapai tangan mulus Nara, tiba-tiba Davin menyodorkan tangannya pada Rangga.
"Biar aku wakilkan saja," ujar Davin yang diiringi senyum penuh kemenangan.
"Mana ada kenalan di wakilkan kak," sahut Rangga sinis.
Mereka akhirnya mengakhiri perdebatan mereka, kini mereka sudah duduk di kursi meja makan untuk makan siang sekalian. Setelah selesai makan siang, Davin mulai membicarakan niatnya datang ke rumah Rangga.
"Rang, aku mau menikah," kata Davin.
"Iya dengan Kak Nara, kan kak," sahut Rangga paham.
Davin menceritakan semua masalah pada Rangga dan Rangga juga cukup prihatin akan masalah sang kakak ini.
"Lalu sekarang apa rencana kakak?" tanya Rangga akhirnya setelah mendengar cerita dari Davin.
"Aku butuh uang untuk biaya pernikahan, apakah aku boleh menggunakan uangmu?" tanya Davin dengan nada serius.
Seketika semuanya terdiam dan suasana rumah tiba-tiba menjadi hening.
"Rangga?" Davin merasa tidak enak.
"Kak, pakai saja uangku, apapun kebutuhan kakak gunakan saja! Jika kurang, kakak bisa minta lagi padaku," jawab Rangga dan Davin menghela nafas lega.
"Terimakasih, suatu saat aku akan kembalikan semua uang kamu, aku akan balas kebaikanmu adikku," dengan bahagia Davin memeluk Rangga. Beruntung sekali karena mempunyai saudara sebaik Rangga.
"Tidak usah pikiran semua itu kak," kata Rangga di sela-sela pelukannya.
Mungkin jika Davin meminta bantuan Alvian, pasti Alvian dengan senang hati juga pasti akan membantu Davin, tapi Davin tidak enak karena Al juga sedang sibuk mengurus pernikahannya dengan Rena.
Jika meminta bantuan pada Daniel, Davin anti sekali apalagi Daniel suka pada Nara dan dia salah satu saingan terberatnya selama ini.
Akhirnya Davin dan Nara jadi menikah juga, biarpun tanpa restu tapi Davin tetap berusaha membuktikan cintanya pada Nara.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia