Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Hanya pelayan cafe


__ADS_3

Dengan sabar Nara mengajari Davin melayani pelanggan yang datang, Davin cukup tegang raut wajahnya juga terlihat begitu dingin seperti es batu yang baru keluar dari dalam kulkas.


"Vin, jika kamu melayani para tamu yang datang tanpa senyuman, maka para tamu akan takut dengan wajah es batu kamu itu," tutur Nara pada Davin, sebenarnya Nara juga cukup kesal pada Davin apalagi dari tadi sama tamu tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.


Davin menghela nafas berat, ini adalah cobaan terberat dalam hidupnya, jangan tersenyum pada orang lain tersenyum pada sahabat-sahabatnya Davin saja terbilang jarang sekali tersenyum.


"Haruskah aku tersenyum sani-sini, Ra kamu tahu selama hidupku aku jarang sekali tersenyum pada orang lain," oceh Davin masih dengan raut wajah dinginnya.


"Vin, aku tidak perduli akan itu. Aku tahu kamu anak orang kaya, bahkan kamu adalah anak orang terkaya di kota ini. Tapi disini kamu itu hanya seorang pelayan cafe, jika kamu tidak bisa bersikap ramah pada para tamu yang datang, ya berusahalah tersenyum semanis mungkin!" omel Nara, memang susah jika orang kaya tiba-tiba menjadi miskin.


"Baik-baiklah, akan aku coba....!!"


Davin berlalu pergi meninggalkan Nara, lalu ia kembali melayani para tamu yang baru saja datang.


"Pelayan....!!" panggil salah tamu dan Davin menoleh, lalu berjalan menghampiri meja tamu yang memanggilnya baru saja.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Davin, ia berusaha bertutur kata lembut dan tersenyum kecil di sudut bibirnya, kali ini Davin terlihat cukup manis.


Nara yang mengamati Davin dari jauh, ia juga tersenyum melihat Davin akhirnya bisa tersenyum pada para tamu, ya biarpun Nara tahu kalau senyum Davin itu sebenarnya tidak ikhlas sama sekali.


"Pelayan, saya pesan jus alpukat, jus jeruk, lalu roti bakar rasa pisang coklat, sama dua porsi kentang goreng, ingat tidak pakai lama!" kata tamu itu dengan jutek, sekilas Davin merasa kesal karena tamunya itu terlihat tidak sopan dan menatapnya dengan tatapan remeh padanya, mungkin karena Davin hanya seorang pelayan cafe jadi tamu itu memperlakukannya dengan jutek."Jutek sekali, dasar manusia tidak punya etika," batin Davin dalam hatinya.


"Kenapa diam saja? Cepat buatkan pesanan kita...!! Dasar pelayan lelet," sentak sang tamu membuat Davin mengepalkan keduanya tangannya dan ingin sekali meninju tamu yang sedang di layaninya ini, tapi Davin berusaha menahan amarahnya itu, ia sadar saat ini dirinya sedang berkerja dan tidak boleh berlaku tidak sopan pada tamu yang datang.


"Sebentar tuan," jawab Davin dan langsung berlalu pergi begitu saja dari meja itu.


Nara yang masih berdiri memperhatikan Davin, Davin tiba-tiba memberikan buku pesanan yang dia bawah pada Nara. "Kamu saja yang layani tamu sombong itu!" kata Davin dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"Memangnya kenapa Vin?" tanya Nara, ia menerima buku itu lalu membaca isi pesanan di dalam buku itu apa saja?


"Tamunya tidak ada sopan-sopannya, dia tidak tahu aku ini siapa?" jawab Davin, dengan nada marah-marah.


"Vin, tamu disini ya tahunya kamu hanya seorang pelayan, sabar saja jika tamu yang bersikap kurang baik pada kita! Namanya kita sedang bekerja, tamu adalah raja," tutur Nara dengan penuh pengertian, ia tahu tidak mudah bagi Davin saat di perlakukan tidak baik oleh orang lain. Mungkin jika saat ini Davin bukan sedang menjadi seorang pelayan, pasti tamu tadi sudah di kasih pelajaran habis-habisan.


Nara pun bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanan tamu itu, sedangkan Davin malah duduk sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


"Ternyata menjadi miskin itu tidak enak...."


"Rasanya pingin pulang, tapi kalau aku pulang pasti mama bakal menertawakan aku habis-habisan lalu mama menyuruhku pergi kencan buta lagi."


"Hidup ini begitu rumit, Rangga!! Kenapa aku tidak meminta uang dari Rangga, dia kan yang di tugaskan mengurus perusahaanku."


"Nanti aku akan pergi temui Rangga."


Rangga adalah ponakannya Davin, yang di tugaskan dan sangat di percayakan oleh Marlin dalam mengurus perusahaan milik Davin.


Davin tahu pasti mamanya akan menyuruh Rangga mengantikan posisinya di perusahaan miliknya, ya siapa lagi kalau bukan Rangga? Apalagi Rangga bagi Marlin sudah seperti anak sendiri dari dulu dan yang lebih lagi Davin juga cukup dekat dengan Rangga.


"Vin, ini makannya....!!" kata Nara, sambil membawa nampan yang berisi makanan pesanan tamu yang tadi Davin layani.


"Kamu saja Nar, aku muak melihat wajah tamu itu," sahut Davin dengan tatapan malas.


Karena tidak mau berdebat dan takut tamunya menunggu kelamaan, akhirnya Nara yang mengantarkan makanan pesanannya itu.


Sesampainya Nara di meja itu, sorot mata tamu itu terlihat kesal pada Nara.

__ADS_1


"Lama sekali...."


"Maaf Tuan, sudah menunggu lama."


"Apa semua pelayan disini kerjanya lelet?" tanya tamu itu dengan nada menyentak.


Setelah menata semua makanan di atas meja, Nara berdiri tegak menatap tamu itu.


"Maaf tuan, kita membuat pesanan sesuai dengan antrian." Jawab Nara dengan tegas. "Pantesan sih Davin tidak mau mengatarkan makanan ini, ternyata tamunya memang sangat menyebalkan," batin Nara dalam hati.


"Sudahlah.....!! sana pergi...!! daripada aku muntah melihat wajah pelayan sepertimu," kata tamu itu dengan ketus, dan di anggukin oleh pasangannya. "Benar sayang, para pelayan itu pasti orang miskin jadi mereka itu ya gitulah," sambung wanita yang duduk di samping tamu itu.


Dengan rasa sabar, Nara pun berlalu pergi meninggalkan meja tamu itu.


"Kenapa menjadi orang miskin itu selalu dihina?" gumam Nara sambil berjalan, Davin memperhatikan Nara dengan baik. "Sepertinya Nara tidak baik-baik saja, apa yang sudah tamu sialan itu lakukan pada Nara?" batin Davin dalam hatinya.


Nara hendak duduk tapi belum sempat menempatkan pantatnya di atas kursi tiba-tiba tamu yang tadi layaninya bertriak sangat kencang.


"Pelayannnnnn........" teriak sang tamu, membuat pelanggan lain ikut menoleh ke sumber suara.


Davin dan Nara buru-buru mendatangi meja tamu itu. "Ada apa?" Davin dan Nara saling menatap, mereka juga tidak tahu ada apa?


"Maaf tuan ada apa?"


"Dasar....."


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2