
Seketika Alvian menghela nafas berat, haruskah dirinya pergi ke danau yang di maksud oleh Laras? Tapi Laras mau apalagi?
Setelah beberapa detik berpikir akhirnya Alvian berangkat ke danau yang Laras maksud tadi, biarpun rasanya malas tapi Alvian juga penasaran apalagi yang di inginkan oleh Laras?
*****
Setelah menemani Nara berbelanja di supermarket, Davin dan Nara balik ke Apartemen milik Davin.
Kini Nara sibuk membereskan belanjaan ke dalam kulkas, Nara terdiam sejenak.
"Aku tinggal di Apartemen milik Davin kira-kira bulanannya berapa ya? Pasti mahal," batin Nara dalam hatinya.
Davin terdiam memikirkan mamanya pasti mamanya sedang asik mencarikan jodoh untuk dirinya di tempat arisannya itu, aish entah Davin harus berkata apalagi pada mamanya? Sedangkan Davin sendiri masih mengharap Monica yaitu gadis yang pernah ada di masa lalunya.
"Vin...." tiba-tiba suara Nara mengangetkan Davin yang sedang sibuk dengan pikirannya.
"Ada apa?" tanya Davin cuek.
"Aku tinggal di Apartemen kamu, satu bulan aku harus bayar berapa?" tanya Nara, sambil menatap Davin dengan serius.
__ADS_1
Seketika Davin tersenyum dalam hati, kini otaknya sudah punya ide bagus agar Nara setuju dengan keinginannya.
"Kamu cukup jadi pacar pura-pura aku saja!" jawab Davin dengan serius.
Nara terdiam, sungguh hatinya ini sangat kesal sekali, lagi-lagi pacar pura-pura, lagi-lagi pacar pura-pura.
"Kenapa harus pacar pura-pura? Kenapa tidak pacar beneran saja?" tanya Nara kesal.
"Karena aku masih menunggu seseorang, jadi aku hanya butuh pacar pura-pura agar mama aku tidak terus-terusan menyuruhku menikah," jelas Davin dengan begitu santainya.
Mendengar alasan Davin rasanya Nara sangat marah tapi mau bagaimana lagi? Daripada harus menyewa kosan dan harus membayar uang bulanan mungkin ada baiknya uang bulanannya yang untuk bayar kosan di kirimkan ke kampung saja. Dengan rasa terpaksa akhirnya Nara setuju dengan kekonyolan Davin. "Tidak apa-apa jadi pacar pura-pura yang penting aku dapat tempat tinggal gratis," batin Nara dalam hatinya.
Davin langsung tersenyum, kini mereka saling berjabat tangan yang tandanya sudah saling setuju untuk menjadi pacar pura-pura.
*****
Kini Alvian dan Laras berada di tepi danau tempat biasa mereka bertemu dulu, Alvian terlihat malas melihat Laras biarpun di hati Alvian masih ada Laras tapi mengingat kata-kata Laras beberapa waktu lalu itu membuat Alvian masih sangat sakit hati.
Laras terlihat tenang sambil melipat kedua tangannya ke dada, kini Laras terlihat tidak seperti biasanya dan Laras yang sekarang terlihat sadis.
__ADS_1
"Ada apalagi?" tanya Alvian ketus.
"Al, katakan pada Daniel kalau aku sangat menyukai Daniel, kamu tahu Daniel tidak mau mengangkat telpon dariku," jawab Laras tiba-tiba memasang wajah memelas.
Alvian sebenarnya merasa tidak tega tapi Alvian juga tidak mau ikut campur masalah Laras dan Daniel.
"Lalu, apa urusannya denganku?" tanya Alvian malas. "Ngajak ketemu hanya ingin membahas masalah Daniel, aku kira kamu akan minta maaf padaku," batin Alvian dalam hatinya.
"Al, nasehat Daniel, suruh dia membuka hatinya untuk aku!" pinta Laras, membuat Alvian geleng-geleng kepala.
"Ras, perasaan itu tidak bisa di paksakan, biarpun kamu menyukai Daniel jika Daniel tidak menyukai kamu, ya kamu harus terima!" jawab Alvian dengan tegas, sungguh ambisi Laras ini sangat menyebalkan.
"Jika kamu mengajak bertemu hanya untuk membicarakan Daniel, maaf aku harus pergi, kamu bertemu saja dengan Danielnya saja!" tandas Alvian, tanpa melihat Laras yang sudah meneteskan air mata, Alvian pergi begitu saja.
Laras meneteskan air matanya, Alvian yang dulu begitu perhatian dan apapun yang di minta selalu dituruti oleh Alvian tapi kali ini Alvian memilih pergi dan meninggalkannya begitu saja
Setelah Alvian tidak terlihat, Laras terdiam kali ini Laras sungguh kesal Alvian tidak mau menuruti apa yang diminta, Daniel juga tidak mau mengangkat telponnya.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia