Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Davin mulai gila


__ADS_3

"Orang siapa? Orang ini minuman punya Nara kan," jawab Davin asal jeplak begitu saja.


Daniel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, entah sahabatnya ini kesambet apaan? Sampai-sampai seperti orang tidak waras seperti ini.


Daniel tercengang sungguh tidak percaya melihat Davin minum minuman bekas orang lain, ini adalah hal yang mengejutkan apalagi bekas minum seorang gadis, mungkin kalau bekas Daniel atau Alvian itu wajar mereka kan bersahabat, tapi kali ini bekas Nara.


"Vin, kamu masih waras kan?" Daniel memastikan kewarasan Davin, membuat Davin langsung meliriknya dengan tatapan kesal.


"Memangnya selama ini aku gila?" jawab Davin seraya menggelengkan kepalanya.


"Mungkin hampir gila, sepertinya kamu harus segera mengobati dirimu deh biar tidak makin gila, Vin! aku kawatir soalnya," tutur Daniel dengan begitu bijak.


"Kamu saja sana Dan! aku masih waras 100 persen waras," tegas Davin dengan sorot mata semakin kesal pada Daniel.


Daniel beranjak dari tempat duduknya, membuat Davin terus menatapnya dengan tatapan bingung.


"Mau kemana kamu? apa kamu mau mengejar Nara?" dengan tatapan yang sulit di artikan Davin bertanya dengan nada marah.


"Memang apa salahnya jika aku mengejar Nara? apa kamu keberatan?" jawab Daniel yang mulai kesal juga dengan Davin.


Davin terdiam, dia berpikir, kenapa dirinya ini tiba-tiba perduli dengan Nara? lagian apa salahnya jika Daniel mengejar Nara bukankah itu tidak ada salahnya? lagian mereka kan sama-sama masih jomblo, seketika hati Davin meronta-ronta tidak rela jika Daniel sampai benar-benar mengejar Nara.

__ADS_1


"Dan, masih banyak gadis di luaran sana, ada baiknya kamu kejar gadis lain saja! Nara juga tidak menyukaimu," ujar Davin dengan begitu yakin.


"Terserah aku lah mau mengejar gadis mana saja, lagian sejak kapan kamu mengurusi soal percintaan ku?" Daniel geleng-geleng kepala, kali ini sikap Davin memang semakin gila.


Karena enggan melanjutkan perdebatannya dengan Davin, akhirnya Daniel memilih pergi meninggalkan Davin begitu saja.


Setelah Daniel pergi meninggalkannya, Davin terdiam tiba-tiba dia teringat kepada Nara.


"Apa Nara, tiba-tiba menjadi berhenti menjadi pacar pura-puraku karena Daniel? brengsek kamu Dan, kamu mau merebut Nara dariku." Davin terlihat marah, rasanya hatinya sungguh tidak jelas untuk saat ini.


Davin masih duduk setelah meminum minuman bekas Nara, kini Davin juga memakan makanan bekas Nara tadi. Mungkin benar kata Daniel, Davin ini sudah mulai gila hanya saja Davin belum menyadari akan kegilaannya itu.


*****


Nara sedang membereskan pakaiannya karena hari ini juga dia berniat pergi dari Apartemen milik Davin, Nara juga sudah berhenti menjadi pacar pura-pura Davin. Jadi Nara tidak ada hak lagi tinggal di Apartemen milik Davin.


Sambil membereskan pakaiannya ke dalam koper, Nara melihat ke arah jendela. "Aku akan pergi kemana?" tanya Nara pada dirinya sendiri.


"Sudahlah Nar, jangan pikirkan kamu mau pergi kemana? Yang penting kita keluar dari sini dulu, untuk pergi kemana nya nanti, kita bisa pikiran itu semua sambil jalan." Nara menjawab pertanyaan sendiri.


Kini setelah beberapa lama membereskan semuanya, akhirnya selesai juga. Nara keluar dari dalam Apartemen itu, tidak lupa Nara juga menitipkan kunci Apartemen milik Davin kepada seseorang yang setiap hari membersihkan Apartemen milik Davin itu.

__ADS_1


Nara melangkahkan kakinya dengan berat, sesampainya di depan Apartemen Nara berhenti, lalu melambaikan tangannya untuk mengucapkan salam perpisahan pada Apartemen yang beberapa lama ini menjadi tempat tinggalnya itu.


"Selamat tinggal...." kata Nara, sedih sebenarnya meninggalkan Apartemen milik Davin ini tapi Nara juga tidak enak jika harus terus menumpang pada Davin.


Nara kembali melangkahkan kakinya menuju entah kemana?


"Aku harus kemana?" Nara semakin bingung karena tidak punya tujuan sama sekali.


Detik demi detik telah berlalu, jam demi jam juga telah berlalu, kini jam sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi Nara belum juga menemukan tempat tinggal.


Nara menghentikan langkah kakinya, dia duduk di kursi taman dekat jalan sambil makan lebih dulu karena perutnya sudah sangat lapar sekali.


Dari tadi sudah beberapa tempat Nara datangin tapi tidak ada kosan yang kosong, jadi Nara harus lebih semangat lagi untuk mencari kosan kosong.


Kini setelah selesai makan, Nara memilih untuk istirahat dulu di kursi itu.


Laras yang tidak sengaja lewat jalan itu, dia menghentikan mobilnya.


"Bukankah itu Nara, kenapa dia tidur di kursi taman dekat jalan seperti itu?" Laras melihat Nara berbaring di kursi taman itu. "Apa dia sudah menjadi gelandangan?" sambungnya sambil berpikir.


Laras tersenyum senang. "Haruskah aku menolongnya?" tanya Laras pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2