Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Mencari Nara


__ADS_3

Laras tersenyum senang. "Haruskah aku menolongnya?" tanya Laras pada dirinya sendiri.


Laras yang memang akhir-akhir ini tidak suka pada Nara, dia memilih pergi begitu saja, padahal Nara dulu adalah sahabatnya tapi sekarang Laras bukanlah Laras yang dulu.


Laras melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumahnya.


Hanya karena cinta, sahabat sendiri di anggap musuh, sungguh Laras itu begitu egois sekali.


*****


Davin terdiam di depan pintu Apartemen miliknya, dia datang karena ingin bertemu dengan Nara tapi ternyata Nara sudah pergi meninggalkan Apartemen miliknya.


Davin keluar dari dalam Apartemennya, dia berdiri beberapa lama di depan pintu sambil mengunci kembali pintu Apartemennya.


"Tuan Davin," panggil seseorang, yang tidak lain adalah petugas yang selalu membersihkan Apartemen milik Davin setiap hari.


"Iya ada apa?" tanya Davin pada orang itu.


"Ini Nona Nara, tadi menitipkan kunci Apartemen tuan pada saya," orang itu memberikan kunci Apartemen milik Davin pada Davin.


"Terimakasih, bapak tahu kemana Nara pergi?" tanya Davin, dengan harapan petugas kebersihan ini tahu kemana Nara pergi?


"Saya tidak tahu tuan, saya permisi dulu," pamit petugas kebersihan itu dan berlalu pergi dari hadapan Davin untuk melanjutkan pekerjaannya.


Davin menggaruk-garuk kepalanya, dia kawatir Nara kenapa-kenapa diluaran sana apalagi diluaran sana pasti bahaya untuk seorang gadis seperti Nara.


"Nara, kamu kemana?"

__ADS_1


"Jika kamu ingin berhenti menjadi pacar pura-puraku, kamu tidak harus pergi meninggalkan Apartemen milikku."


"Davin, kamu harus mencari Nara! Kamu tidak boleh membiarkan Nara sendirian diluaran sana karena itu terlalu berbahaya."


Hati Davin terus berbicara, rasa kawatir juga muncul begitu saja di dalam hatinya, buru-buru Davin beranjak dari tempatnya duduk dan langsung pergi mencari Nara.


Davin mengendarai mobilnya dia berkeliling kemana-mana untuk mencari keberadaan Nara, dia tidak mau kalau Nara sampai kenapa-kenapa.


Davin yang orang lain saja kawatir pada Nara tapi Laras yang selama ini sahabatan dengan Nara, dia tidak ada rasa kawatir sama sekali dan dia selalu menganggap Nara sebagai orang ketiga di antara dirinya dan Daniel.


Kini dua jam telah berlalu, Davin masih belum menemukan Nara. Davin mengehela Nafasnya dengan kesal, jika terjadi sesuatu pada Nara pasti Davin akan mengalahkan dirinya sendiri.


Tiba-tiba ponsel Davin berdering, lalu Davin mengehentikan mobilnya, berharap itu adalah telpon dari Nara.


Davin dengan semangat merogoh kantong celananya, lalu mengambil ponsel miliknya dari dalam sana.


"Davinnnn..... dimana kamu?"


"Dasar anak kurang ajar, awas kalau pulang!"


Terdengar suara nyaring Marlin di telinga Davin, membuat Davin buru-buru menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Mama, ada apa? Mama mau membuat telingaku pecah?"


"Kenapa, kamu tidak becus, mama kan suruh kamu menemui Sita, Mama ingin kalian itu berkencan!"


"Mama, tidak ada waktu untuk berkencan, karena kekasih Davin yang sesungguhnya sedang marah saat ini. "

__ADS_1


Davin langsung mematikan saluran telponnya begitu saja karena tidak mau mendengar sang mama kembali marah-marah pada dirinya.


"Apa kamu punya kekasih...." Marlin terkejut, tapi ternyata saluran telponnya sudah di matikan oleh Davin.


Marlin mencak-mencak, dia merasa kesal sekali, dasar anaknya ini tidak sopan sekali di saat dirinya sedang berbicara ini main putus kan saluran telpon begitu saja.


"Dasar anak kurang ajar, apa mau aku kutuk jadi batu dia."


"Awas saja nanti jika dia sampai di rumah, akan langsung aku nikahkan saja dia dengan kekasihnya itu."


"Punya kekasih dia tidak bercerita pada mamanya, mamanya susah-susah mencari gadis yang cocok, ini malah sudah punya kekasih."


"Tapi baguslah, jadi tinggal aku nikahkan saja nanti itu anak kurang ajar."


Marlin senyam-senyum, rasanya tidak sabar menunggu Davin membawa kekasihnya untuk bertemu dengan dirinya.


Setelah selesai menerima telpon dari mamanya, Davin kembali melajukan mobilnya mencari Nara.


Davin melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan, matanya terus mencari-cari sosok Nara hingga Davin melihat seorang gadis yang sedang berbaring di atas kursi taman dekat jalan.


"Nara......"


Davin menghentikan mobilnya, lalu dia buru-buru turun dari mobilnya, untuk menuju ke kursi taman itu.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2