
Malam menunjukkan pukul 10 malam dan malam ini juga begitu dingin, Daniel terdiam sendirian di kursi taman sambil menikmati teh buatannya.
"Aku merasa sangat kesepian."
"Harusnya aku menikah saja, biar tidur ada yang menemani."
"Tuhan kirimkan aku jodoh!"
"Nara, aku merindukanmu entah berapa lama kita tidak bertemu? Karena aku sibuk dengan urusan perusahaan."
Daniel melihat indahnya langit malam ini kelap-kelip bintang, bulan yang bersinar terang itu membuat hatinya merasa tenang, namun ada satu nama yang saat ini sangat dia rindukan, ya nama itu adalah Nara.
Daniel mengambil cangkir yang berisi teh yang ada di atas meja, lalu dia menyeruput itu dengan hati-hati. "Rasanya manis, seperti senyuman Nara," batin Daniel dalam hatinya.
Sungguh Daniel sudah seperti orang kesambet, iya kesambet cinta Nara yang entah akan di terima atau tidak? Itu pun masih menjadi tanda tanya besar untuk saat ini?
*****
Kini Davin baru saja sampai di rumah, Davin langsung masuk ke dalam rumahnya, bahkan dia melangkahkan kakinya dengan hati-hati agar tidak ketahuan oleh sang mama.
"Davinnnn....." suara khas itu terdengar nyaring di telinga Davin.
__ADS_1
Davin menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke sumber suara itu dan ternyata benar itu adalah suara wanita yang sangat di sayanginya selama ini, siapa lagi kalau bukan suara mama tersayang?
"Mama," lirih Davin.
"Darimana saja kamu?" Marlin sudah berdiri tepat di hadapan Davin, bahkan tangannya sudah menjewer telinga Davin dengan kuat.
"Mama, lepaskan ini sakit, apa mama mau membuat telinga anak mama yang tampan ini patah?"
"Lalu aku akan kehilangan satu telingaku ini, lalu bagaimana jika aku di suruh kencan buta oleh mama, apakah aku harus pergi dengan satu telingaku saja?"
"Mamaa.... lepaskan, aku mohon!!"
Davin langsung memasang wajah memelas, dasar anak licik, inilah Davin saat melawan sang mama.
"Darimana kamu?" tanya Marlin lagi.
"Hanya jalan-jalan ma, aku pergi menghabiskan uang dengan baik tapi aku tidak pergi mabuk-mabukan ma," jawab Davin dengan begitu santainya.
Marlin menghela nafas berat, inilah anaknya jika tidak mabuk-mabukan, pasti kerjaannya menghamburkan uang.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini terus Vin? Besok mama mau, kamu bertemu dengan Sita, dia adalah anak teman arisan mama, mama tidak mau kamu membatah!" tandas Marlin dengan tegas.
__ADS_1
"Tapi ma....aku....."
"Tidak ada kata tapi, jika kamu menolak maka mama akan memblokir semua ATM kamu dan mobil kamu juga akan mama ambil," ancam Marlin dengan tegas.
Seketika Davin membayangkan jika dirinya hidup tanpa uang, entah apa yang akan terjadi di kehidupan selanjutnya?
"Baiklah ma, aku akan pergi." Jawab Davin dengan pasrah.
"Masuklah ke kamar!!" omel Marlin, Davin mengangguk lalu dia segera masuk ke dalam kamar.
Melihat Davin melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, hati Marlin agak sedih, bahkan sebagai orang tua kadang Marlin merasa dirinya tidak bisa mendidik Davin dengan baik.
"Mama, hanya ingin kamu segera menikah Davin, mama tidak mau melihat kamu terus-terusan hidup tidak jelas seperti ini," gumam Marlin dengan suara pelan.
Setelah Davin tidak terlihat, Marlin pergi masuk ke dalam kamarnya.
Kini sesampainya di kamar, Davin mengambil surat perjanjian yang di berikan oleh Nara tadi di dalam saku celananya.
Davin membuka kertas itu dengan hati-hati, sungguh Davin merasa penasaran apasih isi surat yang Nara tulis itu.
"Gadis kampung, apa yang kamu tulis?" tanya Davin pada dirinya sendiri sambil membuka selembar kertas itu.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia