Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Cerita sedih Davin


__ADS_3

Davin tiba-tiba menepikan mobilnya dengan kasar membuat Nara kaget, hampir saja jantungan.


Setelah mobilnya di tepikan Davin terdiam, tatapan matanya sulit di artikan oleh Nara.


"Vin, kamu baik-baik saja?" tanya Nara agak takut tapi berusaha memberanikan dirinya.


"Kenapa mama begitu jahat padaku? Mama tega memisahkan aku dengan gadis yang aku cintai dan sekarang mama juga hampir saja melakukan hal yang sama," lirih Davin terdengar suaranya begitu sendu.


Aku mengerti saat ini Davin pasti sedang tidak baik-baik saja, namun aku tidak tahu harus berbuat apa?


"Vin, mungkin mamamu ingin melihat kamu bahagia dengan gadis yang sepadan denganmu. Aku rasa itu hal yang wajar," menurut Nara, mencoba memberikan nasehat pada Davin.


"Nar, apa salahnya menikah dengan gadis biasa? Aku tidak suka dengan gadis dari kalangan sosialita karena hidup mereka itu begitu royal, aku ingin gadis biasa, yang bisa menemaniku kemana saja, hanya duduk di rumah, mengurus anak-anaku nanti dan setiap hari libur kita jalan-jalan bersama, impianku sederhana Nar, karena selama hidupku kedua orang tuaku juga terlalu sibuk dengan urusan mereka dan itu membuatku selalu kesepian, aku tidak mau apa yang aku alami terjadi pada anak-anaku nanti," cerita Davin pada Nara, terlihat kedua mata Davin tampak berkaca-kaca.


Flashback


Di masa lalu memang Davin selalu kesepian, bukan tanpa sebab ia merasakan kesepian tapi karena kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Davin juga sering di tinggal sendirian di rumah, memang di rumah ada pengasuh yang mengurusnya namun bukan itu yang Davin mau, Davin hanya ingin kasih sayang dari mamanya dan waktu yang banyak untuk bersama dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Tapi semua itu tidak dapat rasakan karena nyatanya pekerjaan mereka jauh lebih penting. Kedua orang tuanya selalu mengatakan. "Kita capek dan jarang punya waktu buat kamu, itu karena kita ingin kamu hidup bahagia dan bergelimang harta," ujar mama dan papanya pada saat itu.


Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di telinganya Davin hingga saat ini.


Saat liburan panjang sekolah yang lain pada pergi berlibur dengan orang tua mereka, tapi Davin tidak bisa merasakan itu. Hanya air mata yang keluar saat itu, dan sang pengasuhnya yang selalu mencoba menghibur Davin, pengasuhnya membawa Davin pergi ke taman kota hanya untuk membuat Davin tertawa dan tidak menangis lagi. Malang sekali nasib Davin, ia memang hidupnya tidak pernah kekurangan apapun tapi waktu dengan kedua orang tuanya jarang sekali di dapatkan.


Hingga Davin beranjak dewasa, ia mulai masuk SMA dan sang pengasuh juga sudah berhenti sejak Davin masuk SMP, bukan tanpa alasan tapi sang pengasuh itu juga harus pulang ke kampung halamannya karena ia juga punya keluarga, ia punya dua anak yang masih kecil juga yang tentunya ingin mendapatkan kasih sayang darinya. Akhirnya sang pengasuh memilih berhenti kerja, saat pengasuhnya berhenti Davin merasakan kesedihan yang sangat dalam.


Hingga seiring berjalannya waktu Davin bertemu dengan Alvian dan Daniel, lalu dari SMA lah mereka menjalin persahabatan mereka dan mereka sering bermain bersama, mereka juga sering menginap di rumah Davin. Hingga rasa kesepian itu perlahan-lahan mulai menghilang karena ada mereka berdua yang selalu menemani Davin.


Bukan tanpa alasan Davin ingin mencari gadis biasa untuk menjadi istrinya, Davin hanya tidak mau anak-anaknya nanti menjadi seperti dirinya, Davin hanya ingin keluarga kecil yang bahagia.


Nara langsung memeluk Davin, ia mengerti betapa beratnya hidup Davin selama ini. Ternyata tidak semua orang kaya bahagia, bahkan mereka punya banyak uang saja masih bisa merasakan kesedihan dan kesepian,


Aku dulu mengira menjadi orang kaya itu bahagia kita bisa melakukan apa saja, tapi dari Davin aku belajar uang bukanlah segalanya. Yang penting kita selalu bersyukur dalam hidup dan dengan apa yang kita miliki.


"Jangan sedih, mulai sekarang kamu tidak akan kesepian lagi, kan ada aku," hibur Nara seraya mengusap-usap rambut cepak Davin.

__ADS_1


Davin meneteskan air matanya, senyaman inikah di pelukan gadis yang ia cintai.


Perlahan-lahan Davin melepaskan dirinya dari pelukan Nara, lalu ia mengangkat wajahnya dan menatap Nara dengan tatapan begitu dalam.


"Apa kamu menangis?" tanya Nara dan ia menghapus air mata Davin dengan jari-jari lentiknya.


"Terimakasih, sudah hadir dalam hidupku," kata Davin pada Nara dan Nara mengangguk pelan.


"Jangan sedih dong! Masa Davin yang menyebalkan ini nangis, kan tidak lucu," ledek Nara berharap Davin tertawa.


Tapi Davin malah terdiam, Nara juga ikut terdiam.


"Nara, maukah kamu menikah denganku dengan keadaanku yang seperti ini?" tanya Davin sorot matanya begitu serius.


"Davin..."


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2