Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Mama sungguh keterlaluan


__ADS_3

Langit tampak gelap sepertinya akan turun hujan, Nara dan Davin duduk di kursi taman yang ada di halaman Apartemen.


Mereka sama-sama terdiam karena tidak tahu mau pergi kemana?


"Sekarang kita harus kemana?" tanya Nara, dengan raut wajah yang sudah sangat lelah.


"Gadis kampung, perutku lapar...." kata Davin, di saat seperti ini Davin masih bisa memikirkan perutnya yang sedang lapar.


Nara menghela nafas kesal, tapi ia juga sebenarnya merasa lapar juga.


"Kita makan dulu ya," pinta Davin.


"Mau makan dimana?" tanya Nara.


"Makan di restoran yang ada di dalam saja, bagaimana kamu mau tidak?" tawar Davin, dengan semangat.


"Jika kita makan di dalam sana, aku rasa makanannya cukup mahal, sayang uangnya," ujar Nara dengan nada datar.


"Aku yang bayar," jawab Davin dan Davin langsung menegang tangan Nara lalu mengajak Nara masuk ke dalam restoran yang ada di dalam apartemen itu.


Nara hanya mengikuti langkah kaki Davin, Davin juga tidak sabar ingin makan karena sudah sangat lapar sekali.


Sesampainya di dalam restoran Davin dan Nara duduk, lalu mereka sama-sama memesan makanan untuk mereka berdua.


"Jangan pesan yang terlalu mahal, pesan saja yang paling murah!" titah Nara.


"Tenang saja, aku punya banyak uang," sahut Davin menenangkan Nara.


Nara menghela nafas pelan, lalu ia memesan makanan yang menurutnya paling murah di restoran itu. Sedangkan Davin memesan makanan favoritnya dan itu harganya lumayan mahal.

__ADS_1


Setelah beberapa lama akhirnya pesanan makanan mereka berdua datang, mereka pun menikmati makanannya dengan lahap.


Setelah selesai makan, Davin memanggil salah satu pelayan untuk membayar makanan pesanannya itu.


"Pelayan....saya mau bayar," kata Davin seraya menyerahkan kartu ATM yang ada di tangan kekarnya pada pelayan itu.


"Baik tuan, tunggu sebentar!" jawabnya dengan begitu sopan, lalu mengambil kartu ATM yang ada di tangan Davin.


Pelayan itu pun membawa kartu ATM milik Davin ke kasir, sesampainya di kasir kartu itu pun di proses untuk melakukan pembayaran dan ternyata tidak bisa.


"Eris, kartunya tidak bisa."


"Tunggu sebentar, saya tanyakan dulu pada tuan yang disana."


Eris pun pergi menghampiri Davin, lalu mengatakan kalau kartu ATM nya tidak bisa di gunakan, Davin pun cukup terkejut.


"Apa sungguh tidak bisa Nona?" tanya Davin, raut wajahnya terlihat sangat kesal. "Ini pasti ulah mama lagi," batin Davin dalam hatinya.


"Semua tidak tuan," kata Erin dengan nada lembut.


Nara terdiam, ia bingung harus bagaimana? Untuk membayar makanan di restoran ini pasti uang dirinya tidak akan cukup.


"Tunggu sebentar Nona....!"


Davin mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya, lalu ia langsung menghubungi Alvian.


Alvian yang sedang sibuk bermain game di ponselnya, ia cukup kesal karena Davin menelpon dirinya tiba-tiba.


"Aish, cecungguk Davin ini menganggu saja...!" gumamnya dengan nada kesal, biarpun merasa kesal Alvian tetap mengangkat telpon dari Davin.

__ADS_1


"Hallo Vin, ada apa?"


"Al, datanglah ke restoran yang berada di apartemen milikku! Sekarang!"


"Memangnya kamu kenapa?"


"Aku sedang tertimpa masalah, saat ini aku butuh kamu. Jika kamu tidak datang, maka aku akan menjadi tukang cuci piring dadakan Al....."


Alvian mencerna kata-kata Davin, ia ingin tertawa tapi berusaha menahannya.


"Bukannya bagus jika kamu menjadi tukang cuci piring dadakan?" canda Alvian dengan sangat jail.


"Al, jangan bercanda, cepatlah datang..!!"


Davin langsung mematikan saluran telponnya, ia tahu pasti Alvian akan segera datang, lagian Alvian juga tidak akan membiarkan dirinya menjadi tukang cuci piring dadakan.


"Jika sampai harus menjadi tukang cuci piring dadakan, maka kamu saja! Aku lebih baik duduk, kamu kan yang pesan makannya harganya mahal-mahal...." oceh Nara dengan tegas.


"Tenang saja, Al tidak akan membiarkan aku sampai mencuci piring," sahut Davin dengan yakin. Ia tahu seperti apa Al itu, apalagi Al adalah salah sahabat terbaiknya.


Nara hanya mengangguk, terserah Davin saja males juga berdebat dengan Davin karena ia tahu pasti tidak akan ada habisnya.


"Nara......"


Terdengar suara yang tidak asing, Nara pun menoleh ke sumber suara yang memanggil dirinya itu.


Seketika Nara yang tadinya merasa kesal, kini terukir senyum begitu manis di sudut bibirnya.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2