
Kini ketiga laki-laki tampan itu menghabiskan malam di club malam, hanya saja malam ini Alvian tidak minum dan dia hanya menikmati jus jeruk yang dia pesan, Daniel juga tidak minum terlalu banyak tapi Davin jangan di tanya dia sudah habis lebih dari satu botol.
Alvian ingin sekali meneguk minuman yang memabukkan itu agar bisa sejenak lupa akan Laras dan berharap bisa berhenti mengharap kan cinta dari Laras, tapi Daniel dan Davin sama-sama melarang Alvian untuk tidak minum karena baru saja sembuh dan keluar dari dalam rumah sakit.
"Kita ini tampan, kaya, kita punya semuanya tapi kenapa sangat sulit mendapatkan cinta yang tulus dari seorang wanita?" tanya Alvian, Daniel yang tidak mabuk dia menoleh sambil menatap wajah tampan Alvian yang sulit di artikan oleh Daniel.
"Semua itu bukan jaminan untuk wanita mau menjadi kekasih kita," sahut Daniel dengan nada datar.
Davin yang sudah agak mabuk karena minuman yang memabukkan ini, sekilas dia tersenyum menatap kedua sahabatnya.
"Kita memang punya semuanya tapi kita ini sama-sama b*d*h dalam urusan percintaan," sahut Davin sambil tertawa tanpa rasa dosa.
"Aish yang b*d*h kamu saja Vin, aku tidak sebodoh kamu....." Alvian tidak mau di anggap b*d*h dalam urusan percintaan.
Davin semakin mengeluarkan tawanya, dia kembali meneguk minuman memabukkan itu. "Hey Al, kamu bilang kamu tidak b*d*h dalam urusan percintaan, lihat kamu berbuat b*d*h bahkan kamu membuat dirimu hampir mati hanya karena satu gadis yang tidak pernah melihat kamu sedikit saja," sahut Davin suara Davin terdengar sudah sangat mabuk, mata Davin juga sudah sangat merah.
__ADS_1
Alvian terdiam, lagi-lagi benar apa yang di katakan oleh Davin, dirinya memang b*d*h karena selalu mengharapkan cinta Laras yang sampai saat ini tidak terbalaskan.
"Sudahlah Al, Davin sudah sangat mabuk jangan dengarkan perkataan orang b*d*h ini!" Daniel melihat Alvian, dia paham di mata Al saat ini penuh dengan rasa sedih.
Mungkin jika Alvian tidak malu pada kedua sahabatnya ini pasti Alvian akan menangis, penantian cintanya selama ini tidak pernah terbalas.
Malam semakin larut, Alvian, Davin dan Daniel, mereka tidak pulang ke rumah mereka malam ini tapi mereka malah tidur di club malam itu, Alvian tidur di sofa, Daniel tidur ambil dulu dan dia melipat kedua tangannya ke dada sedangkan Davin sudah tertidur di lantai karena mabuk berat.
Dasar tiga laki-laki kaya dan tampan tapi sayangnya mereka b*d*h dalam urusan percintaan dan wanita.
*****
Nara yang sedang fokus dengan televisi, dia mendengar ada suara langkah kaki yang mendekati dirinya, akhirnya Nara menoleh ke sumber suara itu.
"Laras, kamu belum tidur?" tanya Nara, dia melihat Laras terlihat lesu tapi juga terlihat tidak senang.
__ADS_1
Laras duduk di samping Nara, iya saat ini perasaannya sedang galau berat karena berulang kali Laras mengirim pesan pada Daniel tidak di balas, Laras menelpon Daniel juga tidak di angkat.
"Hari ini Daniel, menelpon kamu?" bukannya menjawab pertanyaan dari Nara, Laras malah menatap Nara agak kesal.
"Tidak Ras, memangnya kenapa?" tanya Nara dengan nada lembut.
"Baguslah, kalau Daniel menghubungi kamu entah itu mengirim pesan atau menelpon ingat abaikan semua itu....!!" tandas Laras, lagi-lagi Laras terlihat kesal pada Nara.
Nara mengangguk, rasanya Laras ini sangat tidak jelas datang tiba-tiba, tapi malah seperti ini, Nara yang tidak mau sampai berdebat akhirnya Nara beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Laras sendirian di ruang tengah.
"Lebih baik aku masuk kamar saja, lagian Laras tidak jelas sekali," batin Nara dalam hatinya.
Melihat Nara pergi meninggalkannya begitu saja, Laras semakin menatap Nara dengan tatapan sengit.
"Dasar tidak tahu terimakasih...." Laras menggerutu sendirian.
__ADS_1
Bersambung
terimakasih para pembaca setia