Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Perhatian tapi gengsi


__ADS_3

"Haruskah aku mengangkat telpon dari Laras?"


Daniel terlihat kesal, dia juga bingung mau mengangkat telpon dari Laras atau tidak usah?


Bukannya mengangkat telpon dari Laras Daniel malah mematikan telpon dari Laras.


"Malas sekali mengurusi dia...." Daniel menghela nafas kesal, sungguh jika ingat kelakuan Laras akhir-akhir ini Daniel agak kesal, karena menurut Daniel Laras seperti anak kecil.


Daniel bergegas menuju ke kamar mandi untuk mandi, karena pagi ini juga ada acara di kantor miliknya.


Laras mendengus kesal, bahkan dia sampai membanting ponsel yang ada di tangannya.


"Dasar Daniel, gara-gara Nara, Daniel jadi tidak mau mengangkat telpon dari aku."


"Nara kamu itu pembawa sial."


"Sungguh setelah kedatangan kamu, semuanya berubah, kamu sudah mengambil perhatian tiga laki-laki dariku."


Laras terlihat sangat kesal, rasanya ingin sekali Nara pergi dari kota ini.


*****


Di Apartemen Davin, Nara terdiam sambil melihat indahnya pemandangan pagi ini dari jendela.


"Jadi orang kaya itu enak, tidur di tempat yang nyaman."


"Bisa pergi berlibur kapan saja."


"Sedangkan aku, bisa makan setiap hari dan transfer ke orang tua saja aku sudah sangat bersyukur."


Nara berbicara sendiri sambil meratapi nasibnya yang malang, karena ketidak mampuan Nara harus bisa berjuang di kota yang luas ini untuk mendapatkan uang.

__ADS_1


Davin yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu kamar Apartemennya, dia geleng-geleng melihat Nara dari tadi berbicara sendiri.


"Sepertinya gadis ini sudah mulai tidak waras," batin Davin dalam hatinya.


Ternyata Davin bangun pagi-pagi hanya untuk pergi ke Apartemennya dan dia juga membawa sarapan untuk Nara.


"Ehem-ehem.....sudah cukup!!" Davin berdehem.


Mendengar suara deheman, Nara langsung menoleh ke sumber suara itu. "Davin," lirih Nara sambil melihat Davin yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya sambil membawa tentengan entah isinya apa?


"Kenapa, apa kamu kaget? Tidak usah kaget inikan apartemenku, jadi aku bisa keluar dan masuk kapan saja." Celoteh Davin, tanpa permisi lebih dulu Davin main masuk ke kamar begitu saja, bahkan Davin mengunci pintu kamarnya membuat Nara agak takut.


Davin berjalan menuju ke tempat Nara berdiri, detak jantung Nara cukup kencang, sungguh Nara takut terjadi sesuatu di antara mereka.


"Davin, kenapa di kunci?" tanya Nara.


"Apakah salah?" Davin malah balik bertanya.


"Pagi-pagi kesini mau apa?" tanya Nara, Davin yang sudah semakin mendekat membuat Nara agak menjauh.


"Aku tidak akan memakanmu! Aku hanya membawakan sarapan untuk kamu," jawab Davin dan dia duduk di kursi yang ada dalam kamarnya itu.


Rasanya Nara begitu lega, sungguh tadinya otak udangnya ini sudah traveling kemana-mana, ternyata Davin hanya membawakan sarapan pagi untuk dirinya.


"Sarapanlah, aku tidak mau kamu mati karena kelaparan," celoteh Davin terdengar sangat menyebalkan tapi Davin ini sebenarnya perhatian hanya saja gengsi.


"Iya, terimakasih Vin." Nara akhirnya duduk di sebelah Davin, lalu dia membuka sarapan yang di bawa oleh Davin.


Nara memakan sarapan itu dengan nikmat.


"Biarpun Davin menyebalkan tapi dia cukup perhatian," batin Nara dalam hatinya.

__ADS_1


"Kamu sudah sarapan?" tanya Nara.


"Aku sudah makan sama mama tadi," jawab Davin dengan nada datar.


Nara mengangguk lalu dia kembali melanjutkan makannya.


Davin melihat Nara makan begitu lahap, entah kenapa tiba-tiba dia tersenyum senang.


"Gadis ini ternyata cantik juga ya biarpun dia begitu kampungan," batin Davin dalam hatinya.


"Jangan terus diam-diam memandangku! Nanti kamu naksir loh sama aku," canda Nara dengan jail.


"Siapa juga ya mau naksir gadis kampung sepertimu," jawab Davin dengan sombong.


"Iya siapa tahu saja, hati tidak ada yang tahu," Nara tersenyum jail membuat Davin menatap Nara dengan kesal.


"Cepat habiskan makanmu!" omel Davin dengan nada galak.


Nara tertawa kecil, sedangkan Davin masih terlihat kesal.


"Gadis kampung, kamu mau menolongku tidak?" tanya Davin tiba-tiba, kali ini tatapan mata Davin berubah menjadi serius.


Nara menghentikan makannya, lalu melihat ke arah Davin.


"Kamu mau minta tolong apa?" tanya Nara dengan nada lembut.


Davin terdiam, haruskah dia meminta tolong pada gadis kampung ini?


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2