
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Ajak Laras, belum sempat Nara istirahat akhirnya Laras dan Nara langsung pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Nara dan Laras langsung buru-buru menuju ke ruangan Alvian.
Alvian dan Daniel masih saling diam sedangkan Davin tidak langsung ke rumah sakit, dia pergi ke rumahnya lebih dulu untuk membawakan baju ganti untuk Alvian, Davin ini salah satu sahabat yang begitu perhatian tapi dia sangat b*d*h dalam hal percintaan.
"Daniel, jika kamu menyukai Laras, kenapa kamu tidak jujur padanya saja?" tanya Alvian, dia mulai membuka pembicaraan.
"Al, berapa kali aku bilang, aku tidak pernah menyukai Laras, selama ini aku hanya anggap Laras sebagai sahabatku saja," jelas Daniel dengan begitu yakin.
Disini Laras yang terlalu egois karena hanya memikirkan perasaannya dia saja, bahkan dia tidak mau melihat Alvian yang selama ini sudah sangat menyukainya.
Bahkan Alvian begitu perhatian, tengah malam disuruh menjemput Laras saja Alvian langsung menjemputnya, dalam keadaan sibuk kalau Laras sedang galau Alvian saja masih berusaha meluangkan waktunya untuk menemani Laras.
Tapi entahlah dimana hati Laras itu? Yang ada di otaknya hanya Daniel dan Daniel.
...Alvian terdiam, Daniel juga menatap Alvian dengan tatapan kesal. "Sungguh batu sekali Alvian ini, sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak suka dengan Laras, tapi dia masih tidak percaya," batin Daniel dalam hatinya....
Akhirnya mereka saling diam, suasana ruangan itu juga kembali hening.
"Tok....tok...." suara ketukan pintu.
"Silahkan masuk!" sahut Daniel dari dalam ruangan.
"Ceklek...."
__ADS_1
Laras membuka pintu ruangan Alvian sedang di rawat, kini tatapan Laras fokus kepada Alvian yang sedang terbaring lemah.
"Al, kamu kenapa?" tanya Laras, dia mendekati Alvian tapi Alvian terlihat cuek pada Laras.
"Aku tidak apa-apa," jawab Alvian singkat.
Nara hanya duduk di sofa, lalu Daniel beranjak dari tempat duduknya, Daniel membiarkan Al dan Laras saling mengobrol.
Daniel duduk di sebelah Nara, Nara juga hanya diam saja.
"Kamu sudah makan?" tanya Daniel dengan suara pelan.
Nara hanya mengangguk, dia tidak mau macam-macam takutnya Laras akan kembali marah-marah lagi seperti beberapa waktu lalu.
Laras menatap Alvian begitu dalam, sungguh hari ini Alvian terlihat berbeda.
"Kamu sudah makan?" tanya Laras dengan nada lembut.
"Sudah, di suapin oleh Nara." Jawab Alvian yang sebenarnya merasa malas pada Laras.
...Laras mengangguk, hatinya tiba-tiba merasa kesal pada Nara. "Baru beberapa lama di kota, tapi Nara sudah membuat Alvian menjadi aneh, Daniel juga sepertinya suka dengan Nara, apa Davin juga akan menyukai Nara?" batin Laras dalam hatinya....
"Oh gitu, kamu mau makan buah? Biar aku kupas kan," tawar Laras berharap Alvian tidak cuek lagi padanya.
"Tidak usah, jika aku butuh apa-apa ada Nara, jadi aku bisa meminta tolong padanya," tolak Alvian secara halus tapi ngenah di hati Laras.
__ADS_1
"Sungguh, pasti sebentar lagi Nara akan besar kepala karena menjadi rebutan para CEO tampan ini," hati Laras meronta-ronta tidak terima.
Laras menatap kesal Alvian, kenapa harus Nara, Nara dan Nara?
Laras akhirnya memilih diam, tiba-tiba Davin masuk membawa tas berisi pakaian Alvian.
"Kamu darimana saja?" tanya Alvian pada Davin.
"Aku mengambilkan pakaian untuk kamu, tunggu Nara, kenapa kamu sudah ada disini lagi?" Davin langsung duduk di tengah-tengah Daniel dan Nara.
Padahal sofa lain begitu luas tapi entahlah Davin ini kenapa? Seolah-olah Davin ini tidak rela, kalau Nara dekat-dekat dengan Daniel.
"Aku datang bersama Laras," jawab Nara sambil bergeser dari tempat duduknya.
Daniel menatap kesal Davin, rasanya ingin sekali mencakar-cakar wajah tampan Davin.
"Vin, itukan tempat duduk begitu luas, kenapa kamu harus duduk di tengah-tengah aku dan Nara?" tanya Daniel dengan tatapan kesal.
"Aish, memangnya kenapa?" Davin malah balik bertanya dengan kesal.
Sungguh mereka itu membuat Nara pusing dan hanya bisa geleng-geleng kepala.
BERSAMBUNG
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1