
Sesampainya di halaman taman belakang cafe, akhirnya Davin melepaskan genggaman tangannya dari tangan Nara.
"Hal konyol apalagi yang mau kamu rencanakan? Aku sudah muak dengan sandiwaramu Vin," tanya Nara, ia memegangi pergelangan tangannya, rasanya kesal bercampur emosi tapi Nara berusaha tetap menahan semuanya dengan baik.
"Hal konyol...!!"
"Sandiwara....?!"
"Nara, semua ini nyata, mulai sekarang kita resmi berpacaran dan kamu sudah resmi menjadi kekasihku!" tandas Davin, dengan sorot mata yang enggan menerima penolakan dari Nara.
"Hey, kamu itu hanya membuat keputusan sepihak, belum tentu aku setuju dengan apa yang putuskan oleh dirimu. Lagian siapa juga yang mau menjadi kekasihmu," oceh Nara pada Davin.
Davin hanya senyam-senyum terserah Nara menolak dirinya saat ini, yang jelas ciuman tadi yang terjadi itu menjadi tanda bahwa Nara itu sudah menjadi miliknya.
"Aku tidak perduli, pokoknya kita sudah resmi pacaran, apa kamu mau aku menciummu lagi?" goda Davin, membuat sorot mata Nara terlihat kesal.
"Dasar laki-laki sinting....!!" kata Nara.
"Sinting-sinting gini juga kekasihmu Nara sayang," sahut Davin terukir senyum lembut di sudut bibirnya.
"Aku mau melanjutkan pekerjaanku, jika aku disini lama-lama denganmu aku bisa gila Vin." Nara berlalu pergi meninggalkan Davin yang masih berdiri sambil senyam-senyum seperti orang tidak waras. "Iya kamu bisa gila karena cinta Babang Davin, aku tahu itu Nara," batin Davin dalam hatinya.
__ADS_1
Sesampainya di dalam cafe, Nara kembali sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba Sita datang menghampiri Nara.
"Cie...yang habis ciuman dengan Tuan Davin," cibir Sita dengan jail, Sita yang tadi melihat semua kejadian antara Nara dan Davin, ia cukup bahagia karena menurut Sita Nara dan Davin itu sangat cocok.
"Apa sih kak, itu tidak sengaja terjadi," elak Nara dengan wajahnya yang sudah merah merona karena malu.
"Aku lihat kamu begitu menikmati ciumannya Tuan Davin tadi," canda Sita semakin jail.
"Kakak, apa yang kamu bicarakan? Sana lanjutkan pekerjaan kakak!" Nara mendorong tubuh mungil Sita, agar Sita pergi dan tidak terus-terusan menggodanya.
Sita pun pergi, ia kembali sibuk melanjutkan perkerjaannya.
"Aish, apa sih Nar? Kenapa aku jadi memikirkan ciuman laki-laki sinting itu?" Nara berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku tahu, karena kamu itu sudah mulai jatuh hati padaku atau mungkin sudah jatuh cinta dengan ketampananku ini?" lirih Davin yang ternyata sudah berdiri di belakang Nara.
Nara menoleh pelan, lalu ia menggelengkan kepalanya. "Apa sih? Kamu itu mengangguku kerja saja," omel Nara kesal.
"Nara, aku tahu kamu saat ini sedang memikirkanku," goda Davin sambil mengedipkan satu matanya dengan genit.
Nara kembali menggelengkan kepalanya, ini apalagi? Kenapa Davin semakin sinting? Dari tadi. "Vin, lebih baik kamu periksakan tingkat kewarasanmu deh!" suruh Nara, lalu ia pergi meninggalkan Davin dan melakukan perkerjaannya yang lain lagi karena sudah selesai mencuci piringnya.
__ADS_1
Davin terdiam, ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. "Apa aku ini benar-benar gila? Tadi Alvian juga menyuruhku untuk periksa kewarasanku, lalu sekarang Nara, perlu kalian tahu kewarasanku itu tingkat dewa. Kalian saja yang gila," batin Davin dalam hatinya.
Davin memilih melanjutkan pekerjaannya daripada harus memikirkan omongan Nara dan Davin.
*****
Daniel tampak murung di ruangan kerjanya Alvian, sedangkan Alvian memilih menyibukkan dirinya dengan perkerjaannya yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya.
"Al, apa aku terlalu lama menundah mengatakan perasaanku pada Nara?" tanya Daniel, Alvian yang sedang fokus dengan laptopnya ia mengalihkan pandangannya ke arah Daniel sedang duduk.
"Bisa di bilang seperti itu Nil, lagian kamu sudah menyukainya sejak awal ketemu tapi kamu kurang gesit," jawab Alvian dengan santainya.
Daniel terdiam, ia menyesali kenapa tidak dari dulu ia menyatakan perasaannya pada Nara?
"Aku tidak perduli Al, aku akan tetap berusaha mendapatkan Nara!" tandas Daniel dengan tegas.
Alvian hanya diam, entahlah akan seperti apa persahabatannya nanti? Di kalah Daniel dan Davin saling bersaing hanya karena satu gadis.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1