
"Davinnnn.....!!!!"
Davin hanya tersenyum kecil, entah malam ini Davin menyebalkan ini mau membawa Nara kemana?
"Apa sih? Dasar gadis otak udang," celetuk Davin betapa gemasnya dengan Nara tapi Davin menahannya, mungkin jika Nara ini kekasihnya pasti akan lain lagi ceritanya, di saat Davin gemas pasti Davin tidak akan diam saja.
Nara memanyunkan bibirnya, rasanya ingin sekali menjambak rambut Davin tapi tidak punya keberanian untuk itu.
Kini Nara memilih diam, dia enggan bertanya pada Davin lagi, bahkan Nara lebih memilih fokus memperhatikan jalanan yang begitu indah malam ini, lampu-lampu jalanan terlihat begitu berkelap-kelip menghiasi setiap jalan.
Sesampainya di sebuah gedung bersusun Davin menghentikan mobilnya, Nara melihat gedung bersusun itu dengan teliti.
"Ini tempat apa? Mewah sekali," batin Nara dalam hatinya.
"Turunlah.....!!" tiba-tiba suara Davin menganggetkan Nara, Davin turun lebih dulu lalu dia membukakan pintu mobilnya untuk Nara.
"Ini tempat apa Vin? Lihat di sekeliling tempat ini indah sekali, ada air mancurnya, taman yang indah," Nara melihat sekeliling tempat itu, rasanya kagum sekali melihat setiap keindahan yang ada.
"Ini Apartemen pribadiku, kamu bisa tinggal disini!" jawab Davin, kini sambil menarik koper milik Nara, Davin mengajak Nara masuk ke dalam Apartemen miliknya.
"Apartemen?!" seru Nara dengan raut wajah terkejut.
"Pelankan suaramu!" pinta Davin sambil menaruh satu jari telunjuknya di bibirnya.
Nara mengangguk, kini Davin dan Nara menuju ke apartemen milik Davin dengan naik lip.
Setelah beberapa lama akhirnya Davin dan Nara sampai di lantai apartemen milik Davin.
Davin membuka pintu apartemennya dengan password. "Ayo masuklah!" ajak Davin, Nara mengangguk pelan, langkah kakinya agak berat dan tidak yakin untuk masuk.
"Nara, jika kamu tidak masuk, maka kamu tidak tahu malam ini akan tidur dimana?" hati Nara berbicara, akhirnya Nara menyakinkan dirinya untuk masuk ke dalam Apartemen milik Davin.
"Tinggallah disini!" Davin merebahkan tubuhnya di atas sofa, rasanya nyaman sekali.
Nara masih berdiri sambil memperhatikan apartemen milik Davin yang begitu luas dan tentunya sangat nyaman.
__ADS_1
"Tapiiii....."
"Tidak ada kata tapi!" sambung Davin.
"Boleh aku duduk?" tanya Nara dengan sopan.
"Duduklah! Anggap saja ini rumah kamu sendiri," jawab Davin dan Nara duduk di sofa sebelah Davin.
"Vin, jika aku tinggal disini, aku tidak enak dengan orang tua kamu." Kata Nara, sorot matanya begitu lembut.
Davin hanya tersenyum, lagian mamanya juga jarang sekali datang ke Apartemennya jadi Davin yakin kalau mamanya tidak akan tahu jika Davin menyuruh seorang gadis tinggal di Apartemen miliknya, tapi jika mamanya tahu entah apa yang akan terjadi nanti?
"Tidak usah di pikirkan!" jawab Davin dengan begitu santainya.
"Mama, aku jadi merindukan mama, aku mau pulanglah malam ini!" batin Davin dalam hatinya.
Davin ini sudah tidak pulang-pulang entah berapa malam, dasar bandel, tapi Davin juga terlalu malas jika di rumah terlebih lagi sang mama pasti terus-terusan menyuruh untuk segera menikah.
"Itu kamu pakai saja kamarku! Karena kamar yang satunya berantakan, aku mau pulang kamu istirahatlah dengan tenang!" celoteh Davin panjang lebar.
Seketika Davin mendekatkan telinganya ke mulut Nara, membuat Nara kaget dan kesal.
"Davin, kamu ini mau apa?" tanya Nara, kebiasaan otak udang Nara sudah traveling kemana-mana.
"Katakan sekali lagi!" pinta Davin dengan jail.
"Apanya?" tanya Nara bingung.
"Ucapan terimakasihmu!" Davin mengulangi kata-kata Nara.
Seketika Nara menghela nafas pelan, sungguh Davin ini menyebalkan sekali jelas-jelas dia mendengar ucapan terimakasihnya tadi tapi ada saja ulahnya untuk menjaili dan membuat Nara kesal.
"Gadis otak udang, katakan!!" seru Davin.
"Tuan Davin terimakasih ya sudah mau menolong saya malam ini," kata Nara dengan nada lembut.
__ADS_1
Seketika Davin tersenyum, lalu membenarkan posisinya.
"Sama-sama gadis otak udang," jawab Davin sambil mengusap pucuk kepala Nara dengan lembut.
"Aku pulang dulu ya," pamit Davin dan Davin langsung keluar dari dalam Apartemen milik dia.
Setelah Davin pulang, Nara masuk ke dalam kamar untuk istirahat karena sudah terlalu lelah hari ini.
"Kasur ini begitu nyaman...." kata Nara, sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Nara terdiam sambil menatap lampu yang ada di atasnya tidur, dalam hatinya ternyata biarpun Davin menyebalkan tapi dia juga baik hati.
Nara tiba-tiba senyam-senyum sendiri hingga tanpa sadar Nara memejamkan matanya.
Sesampainya di rumah Davin langsung masuk ke dalam rumah, Davin juga dengan sopan menyapa penjaga rumah yang selalu setia menjaga rumahnya.
"Maaaammaa......." suara Davin terdengar menggema, membuat Marlin yang sedang menonton televisi di ruang tengah langsung menoleh dengan tatapan sulit di artikan.
"Darimana saja kamu? Di suruh nikah malah keluyuran terus," bukannya di sambut baik oleh mamanya, malah di sambut omelan oleh mamanya.
Seketika Davin kicep kalau sudah membahas masalah nikahan, rasanya ingin sekali Davin kabur dari rumah.
Davin duduk di sebelah mamanya, lalu memeluk mamanya.
"Mama....."
"Mama apa? Haruskah kamu menunggu wanita itu? Mau sampai kapan? Ingat wanita yang kamu tunggu itu sudah bahagia dengan laki-laki lain," celoteh Marlin dengan kesal.
"Mama, haruskah mama bicara seperti itu?" tanya Davin, nada bicaranya agak kesal.
"Kenapa? Terus saja harapkan wanita itu, nanti kamu akan tahu seperti apa dia itu!" tandas Marlin dengan kesal dan langsung beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Davin.
Davin terdiam seketika dia mengingat wanita yang saat ini masih ada di dalam hatinya.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia