
Laras melangkahkan kakinya menuju rumah Daniel, dia memarkirkan mobilnya di depan rumah Daniel.
"Daniel, aku akan mendapatkan hatimu. Aku hanya mencintaimu," kata Laras dengan rasa yakin yang begitu dalam.
Laras menghentikan langkah kakinya tepat didepan pintu rumah Daniel, lalu Laras mulai mengetuk pintu Daniel dengan hati-hati.
"Tok...tok...tok....."
Laras terdiam sejenak, di rumah Daniel memang tidak ada bell rumahnya, padahal rumahnya cukup mewah tapi Daniel itu enggan di ganggu oleh suara bell ketika ada tamu yang datang ke rumahnya.
Beberapa detik telah berlalu tapi Daniel belum keluar juga. "Daniel kemana? Tapi mobilnya masih dirumah, tidak mungkinkan dia ketemu dengan Nara di pagi-pagi seperti ini," gumam Laras pelan.
"Tok...tok...tok..." Laras kembali mengetuk pintu rumah Daniel, kali ini dia mengetuk pintu rumah Daniel agak keras.
Daniel yang sedang sibuk di dapur, akhirnya dia berjalan ke dapan untuk membukakan pintu rumahnya. "Siapa sih pagi-pagi seperti ini menganggu saja? Tidak mungkin juga kalau itu yang datang Nara, dia kan tidak tahu rumahku," gumam Daniel agak kesal.
"Ceklek...." Daniel membuka pintu, melihat Laras yang datang, Daniel menghela nafas pelan. "Untuk apa dia datang pagi-pagi ke rumahku?" batin Daniel dalam hatinya.
"Daniel...." Laras tersenyum pada Daniel, raut wajah Laras juga begitu bahagia.
"Laras, ada apa?" tanya Daniel dengan nada datar, bahkan terlihat begitu malas.
Tanpa permisi, Laras main masuk saja ke dalam rumah Daniel.
"Ada tamu, bukannya di suruh masuk, ini malah di tanya ada apa? Dulu saja kamu tidak pernah bertanya ada apa? Saat aku datang ke rumahmu, tapi kali ini kamu bertanya seperti itu," celoteh Laras. Lagi-lagi tanpa minta izin dari Daniel Laras langsung duduk di ruang tamu.
Daniel juga ikut duduk, rasanya enggan sekali meladeni Laras, tapi mau bagaimana lagi? Laras juga sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Katakan ada apa? Aku ada meeting penting di kantor," tanya Daniel dengan nada datar dengan alasan yang menurutnya tepat.
"Aku buatkan kamu sarapan, kamu harus makan ya!" jawab Laras, sungguh dia tidak tahu malu sekali, padahal Daniel bersikap datar seperti itu, tapi bagi Laras tidak masalah.
__ADS_1
"Kamu ada meeting, tapi kamu belum berdandan, aku yakin kamu hanya berbohong padaku saja," kata Laras dan Daniel menghela nafas kesal.
Laras menata makanan yang dia bawa di atas meja, dia ingin Daniel menikmati makanan yang dia buat.
"Laras, sudahlah! Aku ada meeting penting," kata Daniel dan Daniel buru-buru masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
Melihat sikap Daniel, lagi-lagi Laras teringat akan Nara. "Nara, kamu membuat Daniel bersikap seperti ini padaku. Laras kamu tidak boleh menyerah," batin Laras dalam hatinya.
Laras masih tetap menunggu Daniel yang sedang berganti pakaian, hingga beberapa lama akhirnya Daniel keluar dari dalam kamar dan seketika raut wajahnya terlihat semakin kesal. "Kenapa, Laras belum pergi juga?" batin Daniel dalam hatinya.
"Kenapa, kamu masih ada disini?" tanya Daniel ketus.
"Aku akan setia menunggumu," jawab Laras sambil tersenyum melihat Daniel.
"Laras......"
"Daniel, apa salahnya jika kamu makan dulu? Aku hanya ingin kamu memakan makanan yang sudah aku buatkan khusus untukmu," potong Laras sambil memasang raut wajah memelas.
*****
Di saat Daniel di ganggu oleh Laras, kini di hari yang semakin siang Davin terlihat kesal karena harus menemui gadis pilihan sang mama untuk kencan buta hari ini.
Davin hari ini bertemu dengan Sita di sebuah restoran yang sudah di pesan oleh mamanya.
"Hay ....." sapa Davin malas, Sita yang sudah duduk di meja yang sudah di pesan oleh Marlin dalam hatinya dia senyam-senyum.
"Ternyata anaknya Tante Marlin sangat tampan sekali," batin Sita dalam hatinya.
"Hay juga, duduklah!" jawab Sita dengan begitu manis.
Davin duduk dengan begitu malas, bahkan dia juga enggan melihat Sita yang sudah berada di hadapannya, Sita terlihat begitu cantik dengan rambut panjang yang terurai dan dress cantik berwarna biru muda.
__ADS_1
"Kamu mau pesan apa?" tanya Sita dengan nada lembut, bahkan dengan sengaja Sita curi-curi pandang pada Davin.
"Terserah kamu saja!" jawab Davin, lagi-lagi Davin memasang wajah malas.
Sita mengangguk pelan, dia berusaha tenang dan tidak marah. "Sepertinya dia sombong sekali, aku akan mendapatkan hatinya," batin Sita begitu yakin.
Sita memesan makanan untuk dirinya dan Davin, sedangkan Davin terlihat sibuk dengan ponselnya, dia mencoba mengirim pesan pada Nara dan Menelpon Nara namun tidak ada jawaban dari Nara. "Kemana gadis kampung ini? Disaat sedang di butuhkan, dia malah entah pergi kemana?" batin Davin dalam hatinya.
Kini setelah beberapa lama akhirnya makanan yang di pesan oleh Sita datang juga.
Dengan terpaksa akhirnya Davin menikmati makanan yang sudah Sita pesan.
"Oh iya Vin, apakah kamu sudah punya kekasih?" tanya Sita tiba-tiba, Sita tahu nama Davin dari Marlin jadi tidak perlu kenalan, karena Davin juga sudah tahu gadis yang ada di hadapannya ini namanya Sita.
Apalagi tadi sebelum berangkat kencan, sang Mama sudah berceloteh panjang kali lebar, jadi bagaimana Davin tidak ingat dengan baik semuanya celoteh mama kesayangannya ini.
"Oh iya bagaimana, kalau nanti malam kita pergi nonton?" tawar Sita, belum di jawab pertanyaan sebelumnya ini sudah mengajak nonton segala.
Davin menatap Sita dengan tatapan tidak suka, apalagi Sita terlihat begitu agresif itu membuat Davin agak ilfil.
"Aku tidak punya waktu untuk nonton, lagian aku......."
"Lagian aku apa?" sambung Sita dengan cepat.
Davin menghela nafas kesal, sungguh Sita itu membuatnya kesal belum juga menyelesaikan perkataannya ini sudah di potong begitu saja.
"Aku....."
Bersambung
terimakasih para pembaca setia
__ADS_1