Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Davin selalu berdebat


__ADS_3

Alvian membuka matanya dengan jelas, lalu ia menoleh ke sebelahnya ternyata tangan kekar Davin dengan hangat memeluk dirinya.


"Davinnnn.......!!!!!''


"Kamu sungguh terlalu, kamu menodaiku...!!"


Alvian dengan cepat mendorong tubuh kekar Davin, sungguh rasanya jijik sekali di peluk-peluk oleh Davin. "Aish memangnya aku laki-laki apaan? Davin seenaknya menodaiku," batin Alvian dalam hatinya.


"Brukkkkkk......." Davin terjatuh di lantai.


"Ahhh....uuuhh.....Al, kenapa kamu mendorongku?" Davin merintih kesakitan sambil memegangi pinggangnya karena rasanya nyeri, gimana tidak nyeri Alvian mendorong Davin hingga Davin terjatuh ke lantai.


"Kamu hampir saja menodaiku, aku hanya berusaha melindungi diriku!" ujar Alvian pada Davin.


Seketika otak Davin berputar-putar mencerna kata-kata Alvian. "Menodaimu, sungguh jijik sekali aku, aku masih doyan sama wanita ya, bukan sesama jeruk!" tegas Davin dengan kesal.


"Buktinya kamu peluk-peluk aku," kata Alvian tidak mau mengalah.


"Mana aku tahu jika aku memelukmu," jawab Davin masih dengan rasa kesal yang sama.


"Mama, karena mama memberikan hukaman seperti ini, sekarang aku sengsara sekali," batin Davin dalam hatinya.


Biasanya Davin tidur nyenyak, tidak ada yang menganggu dirinya tapi pagi ini sungguh berbeda karena di saat bangun tidur ia malah berdebat dengan Alvian.


"Sudahlah, aku mau mandi. Aku mau membersihkan tubuhku yang hampir ternoda ini," kata Alvian dan Alvian langsung berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi.


Di saat Alvian mandi, Davin duduk di tepi ranjang, ia masih memegangi pinggangnya yang masih terasa nyeri itu.

__ADS_1


"Jika aku tidur satu mingguan dirumah Al, entah badanku akan jadi seperti apa? Pagi-pagi saja sudah mendapatkan dorongan maut, sungguh Al itu menyebalkan sekali," gerutu Davin pada dirinya sendiri.


*****


Di saat Alvian dan Davin masih di dalam kamar Alvian, Nara sudah bangun dari tadi dan saat ini Nara berada di dapur sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya, Davin dan Alvian.


Nara sadar dirinya ini menumpang di rumah Alvian, jadi Nara juga harus melakukan sesuatu untuk Alvian ya salah satunya yang bisa Nara lakukan adalah membuat sarapan untuk pagi ini.


Setelah beberapa lama akhirnya Nara selesai memasak, pagi ini Nara membuat ayam rica-rica, udang balado dan cumi tepung.


Nara merapikan semua makanannya di atas meja makan.


"Akhirnya selesai juga," kata Nara dengan senyum kecil di sudut bibirnya.


Tak berapa lama kemudian Alvian dan Davin bersama-sama keluar dari dalam kamar Al.


"Enak sekali baunya...."


Davin dan Alvian sama-sama mengikuti aroma yang sangat enak itu, hingga mereka menghentikan langkah kaki mereka di meja makan.


"Memang beda ya, rumah yang ada seorang gadis sama yang tidak," celetuk Alvian tiba-tiba.


"Apa bedanya? Apa jangan-jangan kamu menaruh hati pada Nara juga?" sahut Davin, raut wajahnya terlihat kesal.


"Dasar pemarah, memangnya kenapa kalau aku menaruh hati pada Nara juga? Bukankah Nara juga masih gadis, dia belum menikah," sahut Alvian dengan kesal juga.


"Dia kekasihku...." Davin memperjelas perkataannya dengan tegas.

__ADS_1


"Aku tidak perduli," cibir Alvian sambil menjulurkan lidahnya dengan jail.


Nara hanya diam, dimana-mana Davin selalu saja mengajak orang lain berdebat, apakah Davin ini tidak capek selalu berdebat dengan siapa saja?


"Bos Al, ayo sarapan!" dengan nada lembut Nara menyuruh Alvian untuk sarapan, seketika tatapan Davin berbuah menjadi tatapan membunuh. "Apa hanya Al yang kamu suruh makan?" sambung Davin dengan nada kesal.


"Bos Al itu tuan rumah, kita kan cuma numpang disini, lagian kamu sudah besar kalau mau makan ya makan saja!" sahut Nara dengan malas, rasanya lelah berdebat dengan Davin.


"Baiklah terserah kamu saja! Minggir aku mau makan," dengan cepat Davin mendorong tubuh Alvian, hingga Alvian bergeser dari tempatnya berdiri.


Alvian hanya geleng-geleng kepala, Davin ini memang sungguh seperti anak kecil.


Karena tidak mau melanjutkan perdebatannya, Nara dan Alvian pun sama-sama menarik kursi meja makan lalu mereka duduk.


Pagi ini mereka bertiga sarapan dengan tenang dan begitu nikmat, Davin juga tidak berdebat mungkin karena di meja makan, Nara dan Alvian juga fokus dengan makanan mereka masing-masing.


"Al, apa di cafe mu ada lowongan pekerjaan?" tanya Davin tiba-tiba, membuat Alvian hampir tersedak dan buru-buru Nara memberikan segelas air putih pada Al. "Bos Al, minumlah!"


Al menerima segelas air putih itu dari Nara, lalu meminumnya.


"Vin, kalau pun ada di cafe aku paling menjadi seorang pelayan," jawab Alvian.


Davin terdiam, ia berpikir jika ia tidak berkerja ia juga bingung bagaimana caranya dia melanjutkan kehidupannya ke depannya?


"Apa kamu mau Vin, menjadi seorang pelayan?" tanya Alvian pada Davin.


"Al....."

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2