
Davin malah memegang tangan Nara dengan kuat, matanya menatap Nara dengan tatapan sulit di artikan, entah apa yang akan di lakukan oleh Davin pada Nara?
Nara terlihat ketakutan, rasanya Davin ingin tertawa sekali melihat ekspresi wajah Nara.
"Vin... sungguh, jangan lakukan hal ini, aku masih suci....."
Davin tersenyum kecil. "Setakut itu gadis kampung ini? Memangnya siapa juga yang mau menanam saham pada gadis kampung sepertimu," batin Davin dalam hatinya.
Davin melepaskan tangan Nara dengan kasar, lalu dia mengeluarkan tawanya dengan begitu senang seolah-olah meledek Nara.
"Dasar gadis otak m*s*m, lagian jika aku ingin menanam benihku, aku tidak akan menanam benihku di rahimmu." Davin masih tertawa, kali ini Nara menatap Davin dengan tatapan sengit.
"Dasar laki-laki kurang ajar, hati-hati dengan omonganmu!" jawab Nara, yang juga menatap Davin dengan tajam.
Nara hendak pergi meninggalkan Davin, tapi tiba-tiba tangan kekar Davin menarik tangan Nara, membuat Nara kaget.
"Apalagi? Jangan berani macam-macam! Ingat, jika kamu macam-macam aku akan lapor polisi.....!!" tandas Nara dengan tegas.
__ADS_1
Davin hanya mesem, dia terlihat meremehkan Nara. "Hanya polisi, aku tidak akan takut," batin Davin dalam hatinya.
"Selalu saja andalanmu itu polisi, gadis kampung nanti temanin aku makan malam ya, aku tidak mau kamu menolak jadi kamu harus menerima ajakanku!" lagi-lagi Davin bersikap semaunya sendiri.
"Ajakan macam apa yang kamu tawarkan padaku? Bahkan aku tidak boleh menolak ajakanmu, lucu sekali hidupmu Vin." Nara geleng-geleng kepala, dia tidak percaya kalau Davin itu sudah gila menurutnya.
"Ajakan yang paling spesial, kamu tahu tidak pernah aku mengajak seorang gadis makan malam bersama, yang ada mereka yang ingin mengajakku tapi aku selalu menolaknya dan tentunya tidak semudah itu mengajak aku makan malam berdua, kamu itu gadis yang beruntung gadis kampung...." Davin tertawa senang, kali ini dia benar-benar sombong di hadapan Nara.
"Aish terserah kamu sajalah! Baiklah kamu saja!" Nara lebih memilih pergi begitu saja, karena enggan mengurusi Davin.
Davin menatap sengit Nara, dasar gadis kampung sombong, bukannya bersyukur aku ajak makan malam ini malah pergi begitu saja. Awas saja nanti!!
Naya hanya diam, dia terus melanjutkan jalannya ke dapur untuk melanjutkan kerjaan yang masih menumpuk gara-gara ulah Davin laki-laki gila.
"Kenapa? aku bisa bertemu dengan laki-laki gila seperti Davin," gumam Nara sambil jalan ke dapur.
Sesampainya di dapur ternyata Daniel sudah berada di dapur, iya dia merasa tidak tenang jadi dia memilih keluar dari ruangan Alvian, lalu dia pergi ke dapur untuk menunggu Nara.
__ADS_1
"Ra, Davin mana?" suara Daniel begitu lembut, membuat Nara yang dari tadi merasa kesal karena Davin seketika tersenyum manis pada Daniel.
"Kak Daniel, Davin aku tinggal di taman," jawab Nara, sungguh nada bicara Nara sangat lembut pada Daniel berbeda saat berbicara dengan Davin.
Davin yang ternyata sudah berdiri tidak jauh dari Daniel dan Nara, mulutnya komat-kamit tidak jelas. "Giliran bicara padaku kamu seperti kucing betina sedang marah, giliran dengan Davin kamu menjadi lemah lembut seperti kain sutra," batin Davin dalam hatinya.
"Kamu tidak di apa-apakan oleh Davin kan?" tanya Daniel dengan tatapan penuh rasa kawatir.
"Tidak kak, oh iya kakak sudah makan belum? Biar Nara buatkan makanan ya," jawab Nara seraya menawarkan Daniel makan.
"Boleh Ra, buatkan makanan yang enak ya, lalu kamu temanin aku makan siang," jawab Daniel dan Nara mengangguk semangat.
Seketika Davin hanya bisa menatap sengit Daniel dan Nara, entah Davin ini kenapa?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1
Lanjutin lagi ya ceritanya, kemarin-kemarin Authornya sibuk jadi gak ke pegang novel yang ini, mohon di maafkan ya 🙏 mudah-mudahan ke depannya bisa update setiap hari lagi 😊🙏