Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Pulang bersama


__ADS_3

"Kamu maukan pulang bersamaku?" tanya Davin dengan nada lembut.


"Aku...."


"Aku apa? Aku tidak menerima penolakan darimu, jika kamu tidak mau pulang bersama aku. Maka aku akan ikut tidur disini, aku akan menemanimu disini," kata Davin dengan begitu perhatian.


Siapa yang menyangka Davin yang biasanya begitu menyebalkan tapi malam ini dia begitu manis dan terlihat sangat perhatian.


"Memangnya kamu bisa tidur di tempat seperti ini?" tanya Nara tanpa melihat Davin, dia hanya duduk sambil menundukkan kepalanya.


"Tentu saja bisa," jawab Davin dengan begitu yakin.


"Vin, carikan aku kos-kosan yang murah, aku tidak mau tinggal di Apartemen milikmu lagi, aku tidak mau merepotkanmu terus."


"Nara, apa yang kamu katakan? Kamu sama sekali tidak merepotkanku, malam-malam seperti ini mau mencari kosan dimana?"


"Nara, ayo pulang bersamaku! Ini sudah terlalu malam, bagaimana jika ada orang jahat yang mrnganggumu?"


Davin mencoba menakut-nakuti Nara, hingga akhirnya Nara mengangguk setuju untuk di ajak Davin pulang ke Apartemennya, lagian benar kata Davin jika ada orang jahat nanti bagaimana?


"Baiklah, aku ikut pulang denganmu." Jawab Nara membuat Davin tersenyum senang.


Kini Davin membawakan koper milik Nara, lalu mereka berdua menuju ke mobil.

__ADS_1


Davin menyalakan mesin mobilnya, setelah itu tiba-tiba Davin mendekatkan dirinya pada Nara.


"Vin... jangan macam-macam!" saat Davin sudah sangat dekat, jantung Nara berdebar kencang.


"Aku mendengar debaran jantungmu," kata Davin dengan begitu polosnya, seketika Nara langsung merasa malu dan pipinya menjadi merah merona.


Dalam hati Nara, kenapa jantungku bisa berdebar sehebat ini?


"Kamu hanya salah dengar, menjauhlah dariku!" elak Nara, karena rasanya sangat malu.


"Aku hanya memakaikan sabuk pengaman untukmu, lagian jika aku ingin memakanmu pasti akan aku lakukan nanti di Apartemen, biar lebih nyaman," goda Davin dengan jail, setelah memasangkan sabuk pengaman untuk Nara, Davin tersenyum kecil sambil mengedipkan satu matanya.


Nara menatap Davin dengan malas, tapi Nara juga merasa takut karena ucapan Davin.


"Bagaimana jika Davin melakukan hal yang tidak-tidak di Apartemen nanti?" batin Nara dalam hatinya.


"Dasar gadis otak udang, pasti dia sedang memikirkan hal-hal yang jorok," batin Davin dalam hatinya, Davin seolah-olah mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh Nara.


"Kamu, sudah makan?" tanya Davin, agar Nara tidak lagi memikirkan hal yang aneh-aneh.


"Belum, perut aku saja dari tadi berbunyi, apa kamu tidak mendengarnya?" jawab Nara dengan suara lemas.


"Haruskah, aku mendekatkan telingaku kepada perutmu? Agar bisa mendengar cacing-cacing di perutmu bertempur minta makan," lagi-lagi Davin menggoda Nara dengan begitu jail.

__ADS_1


Davin ini bercanda terus, membuat Nara semakin kesal.


"Manyun..." ledek Davin, Nara terlihat begitu menggemaskan sekali.


"Aku lapar...." kata Nara dengan raut wajah kesal.


"Baiklah, kita makan dulu." Jawab Davin dengan senyum yang begitu lembut.


Kini setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama akhirnya Davin sampai di Apartemen miliknya, sebelum Davin dan Nara menuju ke Apartemen, Davin lebih dulu mengajak Nara makan di restoran yang ada di Apartemen itu.


Kini Davin dan Nara sudah memesan makanan, setelah beberapa lama akhirnya makanan pesanan mereka datang.


Nara menikmati makanannya dengan lahap, Davin diam-diam tersenyum melihat Nara sedang makan.


"Tadi aku begitu kawatir, tapi sekarang saat sudah menemukan Nara hatiku begitu tenang dan rasanya bahagia sekali," batin Nara dalam hatinya.


"Pelan-pelan makannya!" Davin begitu perhatian pada Nara.


"Iya Vin, kamu tidak makan?" tanya Nara, melihat Davin hanya memandangi makanan saja dari tadi.


"Aku makan kok," jawab Davin dengan nada lembut.


Malam ini Davin terlihat bahagia, bahkan melihat Nara ada di hadapannya hatinya begitu tenang sekali.

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2