
Keluarga kecil Rena dan Alvian
Beberapa bulan telah berlalu, semuanya berlalu sangat indah. Masa-masa ngidam juga berakhir dengan sempurna.
Acara 7 bulanan Rena juga berlangsung sempurna dan di hadiri seluruh keluarganya.
Semuanya berlalu dengan bahagia, hingga akhirnya Rena melahirkan putra pertamanya yang di beri Nama Pranata Al Pratama. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu begitu tampak mirip sekali dengan papanya. Sampai-sampai Rena merasa iri karena sedikitpun putranya tidak mirip dengannya sama sekali, tapi Rena bersyukur karena tidak mirip tetangga. Coba kalau mirip tetangga, pasti akan menjadi masalah besar.
"Sayang, Nata mana?" Tanya Alvian, saat bangun dari tidurnya sudah tidak ada Nata di sampingnya.
"Nata baru selesai mandi, Papa," sahutnya. Rena memandikan Nata sendiri karena memang tidak ada baby sitter. Bukannya tidak mau punya baby sitter untuk Nata, tapi karena anak pertama jadi aku ingin mengurusnya sendiri dengan baik lagian aku tidak bekerja jadi mengurus sendiri aku yakin itu jauh lebih baik.
Alvian yang baru saja bangun dari tidurnya, ia duduk di atas ranjang. Lalu menatap putranya yang sedang di pakai pakaian oleh Rena. Sungguh istriku ini begitu telaten mengurus anak pertama kami. Biarpun aku sedikit cemburu karena Rena sudah tidak manja lagi padaku, ia sekarang lebih memanjakan Nata putra pertama kami.
"Mas mandi gih! Aku siapkan baju kerjanya," ujar Rena sembari memberikan mengancing baju Nata dengan teliti, karena takut ada yang terlewat.
"Mas libur sayang, kan ini hari sabtu," sahut Alvian sembari menguap karena masih mengantuk, tapi ia tidak tidur lagi karena hari ini sudah janjian dengan para sahabatnya untuk bertemu di sebuah tempat.
"Astaga aku lupa Mas, oh iya Mas bersiaplah hari ini akan mau ngumpul dengan yang lainnya. Aku bahagia sekali mas, karena Nara dan Manda juga sudah melahirkan, anak kita dengan anak mereka hanya selisih beberapa bulan saja Mas," celoteh Rena begitu bawel.
"Iya sayang, akhirnya kita punya anak semua," sahut Alvian sembari meraih handuk, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk mandi.
Rena baru saja selesai mendadani Nata, kini tinggal ia mengurus dirinya sendiri. Pakaian untuk sang suami juga sudah Rena siapkan.
Entah berapa lama dulu Alvian berusaha move-on dari Laras? Hingga takdir mempertemukan dirinya dengan Rena yang bisa membuatnya move-on dari Laras.Dan akhirnya Alvian hidup bahagia dengan Rena dan satu anaknya yang makin menambah kebahagiaannya.
***
Keluarga kecil Daniel dan Manda.
Keluarga kecil Daniel dan Manda juga sangat bahagia, apalagi saat ini sudah ada bayi lucu yang berjenis kelamin laki-laki dan di beri nama Erlangga Daniel Mananta.
Semuanya berjalan lancar masa-masa kehamilannya dulu juga Manda lalui dengan penuh kebahagiaan dan cinta, acara 7 bulanannya juga di gelar begitu meriah oleh Daniel, ya mungkin karena anak pertama jadi apa-apa serba di buat mewah oleh papanya.
Pagi ini Er sudah tampan dan wangi, ia bersiap untuk ikut dengan kedua orang tuanya berkumpul dengan para sahabatnya.
"Sayang, kamu tidak mau hamil lagi?" Tanya Daniel, ia sembari memakai bajunya.
Manda menggelengkan kepalanya pelan, hamil lagi? Bukannya aku tidak mau, hanya saja baby Er masih terlalu kecil untuk punya seorang adik dan aku juga belum siap untuk punya anak kedua. Mungkin tunggu Er usianya 2 atau 3 tahun, nanti aku akan produksi anak satu lagi.
"Mas, sih Er masih terlalu kecil. Mas mah enak tinggal ngadon saja," sahut Manda membuat Daniel tertawa kecil. Lagian memang benar apa yang di katakan oleh istriku, laki-laki enak tinggal ngadon doang.
"Mas jagain Er dulu! Aku mau siap-siap dulu," kata Manda dan Daniel mengangguk.
Manda pergi untuk mandi, sedangkan Daniel menjaga Er.
Setelah beberapa lama akhirnya Manda selesai mandi, lalu bersiap-siap untuk pergi ke acara kumpul bersama dengan para sahabatnya.
Keluarga kecil yang bahagia meskipun pernikahan mereka berawal dari sebuah kecelakaan, tapi Daniel begitu mencintai Manda dan bisa melupakan Nara untuk selamanya.
***
Keluarga kecil Davin dan Nara.
Setelah beberapa lama mengarungi kehidupan berumah tangga, Davin dan Nara selalu kompak dalam hal apapun.
Masa ngidam yang dulu di lalui dengan baik, acara 7 bulanan yang begitu mewah. Karena Davin pada akhirnya sukses dengan batuan Rangga, akhirnya bisa membuktikan kepada Mamanya kalau dia bisa hidup tanpa uang dan fasilitas dari sang mama.
Dan tepat setelah kelahiran anak pertama mereka yang berjenis kelamin perempuan dan di beri nama Nitami Putri Davin. Akhirnya Marlin datang di saat itu juga, ia begitu bahagia saat mendengar tangisan cucu pertamanya.
Saat itu Marlin benar-benar menangis entah harus sedih atau bahagia? Entah berapa lama aku menghukum Davin anakku, maafkan mama nak.
Di hari kelahiran Nitami, sungguh membuat Nara sangat bersyukur, akhirnya mama mertuanya mau menerima pernikahannya dirinya dan Davin. Tak menyangka memang, tapi Marlin akhirnya bisa menganggap Nara sebagai putrinya bukan menantunya. Bahkan Marlin begitu menyayangi Nara, karena Nara adalah gadis yang sudah membuat anaknya satu-satunya berubah menjadi lebih baik. Setelah berbaikan dengan Davin dan Nara. Marlin juga sering sekali datang berkunjung ke rumahnya Davin, sebaliknya saat Davin libur kerja juga Nara dan Davin sering kali berkunjung ke rumahnya Marlin. Marlin juga sering sekali jalan-jalan berdua dengan Nara, Nitami juga selalu ikut bersama mereka. Saat itu Marlin merasakan rasa kesepiannya itu mulai hilang hidupnya kembali semangat dan penuh warna, hari-harinya lebih bahagia.
Keluarga Nara yang di kampung juga akhirnya di boyong Davin pindah ke kota. Karena Davin ingin istrinya bisa dekat dengan keluarganya, apalagi Ibunya Nara yang sudah sakit-sakitan, itu membuat Nara sering kawatir. Hingga akhirnya Davin membelikan satu rumah untuk keluarga Nara, di rumahnya juga di siapkan dua Art untuk mengurus rumah dan ibu mertuanya. Sungguh Davin itu memang mantu idaman, keluarga Nara juga sangat bahagia punya menantu seperti Davin. Mereka juga sudah bertemu dengan Marlin dan Marlin menyambut mereka dengan baik dan bahagia.
Bagi Davin uang yang dia dapatkan itu memang harus buat membahagiakan keluarga kecil, lalu saat keluarga kecil sudah kecukupan dan lebih dari cukup, akhirnya Davin bisa berbagi ke semua yang membutuhkan juga.
Davin dan para sahabatnya juga membangun panti asuhan yang di beri nama persahabatan penuh cinta dan kasih. Sungguh mereka semua itu adalah orang-orang baik.
Setelah beberapa lama berlalu tak terasa sudah banyak yang mereka lalui bersama. Cinta, sedihan, kasih sayang, perjuangan, perbucinan, mereka lalui dengan penuh liku-liku.
__ADS_1
"Mas, kok kamu belum mandi? Kamu darimana?" Nara agak ngomel saat melihat Davin masih pakai celana pendek dan kaos oblong, padahal hari ini mau berkumpul dengan para sahabatnya tapi malah belum siap-siap sama sekali. Aku dari tadi sibuk mengurusi Tami.
"Aku lapar sayang, jadi makan dulu," sahutnya dengan santai.
Kadang Nara harus banyak sabar, rasanya seperti punya dua anak bayi. Davin jika tidak di urusin dengan baik sering kali dia mengambek karena iri dengan Tami. Kadang aku heran kok ada bapak seperti ini? Tapi yaitu suamiku, manusia yang selalu bucinnya akut tingkat Dewa.
"Sana mandi!" Suruh Nara dengan tatapan tajam.
"Mandiin," rengek Davin manja membuat Nara menggelidik jijik. Lihat! Dasar Davin sudah punya anak tapi masih saja manja.
"Mas, aku tinggal apa kamu mandi sekarang!" Tatapan Nara berubah menjadi ancaman dan Davin langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah beberapa lama akhirnya Davin selesai mandi, lalu bersiap-siap. Kini akhirnya semuanya sudah siap dan kami satu keluarga langsung pergi ke tempat acara perkumpulan.
***
Di sebuah restoran mewah Daniel, Manda, Alvian dan Rena sudah sampai lebih dulu. Tak selang beberapa lama Davin dan Nara juga datang, Rangga juga baru saja sampai. Hari ini Rangga datang mengajak Kiran.
Awalnya Rangga takut untuk mengajak Kiran tapi mau bagaimana lagi? Aku harus jujur akan identitas aku yang sesungguhnya, aku tidak mungkin menyembunyikan ini semua kepada Kiran.
"Akhirnya kalian datang," celetuk Daniel sembari tersenyum sumringah.
"Tami, kamu lucu sekali Nak," dengan gemas Manda memainkan pipi gembul Tami. Er, juga anteng sekali di pangkuan Manda.
"Er juga menggemaskan, eh Nata sedang makan," kini tatapan Nara beralih ke Rena. Yang sedang menyuapi Nata dengan bubur.
Erlangga dan Tami lahir di hari yang sama dan tanggal yang sama, mereka juga waktu itu satu rumah sakit.
Setelah selesai menyuapi Nata, Rena membersihkan semuanya, lalu memangku Nata. Nata begitu anteng, Er juga sangat anteng, Tami malah tidur, mungkin Tami mengantuk.
"Vin, aku sudah melupakan Nara. Sekarang aku hanya mencintai istriku saja," kata Daniel karena ingin membuat pengakuan di depan Manda. Dan Manda tidak cemburu, ia malah tersenyum kecil.
"Baguslah, awas saja jika kamu berani memikirkan istriku lagi," sahut Davin, tidak rela rasanya kalau Davin memikirkan istrinya.
"Kalian itu, itukan sudah berlalu, masih saja sering kali kalian jadikan bahan obrolan," timpal Alvian sembari menggelengkan kepalanya.
Davin dan Daniel memang tak ada habis, untung saja hari ini tak sampai berdebat panjang.
"Suami-suami kita memang begitu," kata Rena yang diiringi tawa kecil.
"Yang penting mereka tidak sampai berdebat," sambung Nara. Kalau mereka sampai berdebat akan panjang urusannya.
Rangga melangkahkan kakinya memasuki restoran bersama dengan Kiran, Kiran malah kebingungan karena sebelumnya tidak pernah ke tempat mewah seperti ini.
"Rangga, ini restoran mewah, untuk apa kita kesini? Makanan di sini pasti sangat mahal," dengan tatapan bingung Kiran bertanya kepada Rangga.
"Aku ingin jujur akan sesuatu ke padamu, aku juga mau ngenalin kamu sama para sahabatku, mereka sudah seperti kakak-kakak aku," kata Rangga dan Kiran hanya mengangguk kecil.
Dua sejoli itu masuk sembari bergandengan tangan dengan mesra.
"Hay semuanya," sapa Rangga dan Kiran semakin bingung, apalagi melihat makanan di atas meja. Aku yakin itu makanan mahal semua. Tapi kok Rangga bisa mengenal tempat seperti ini? Dia kan hanya pekerja biasa.
"Hay Adikku, ini gadis yang kamu ceritakan?" Sapa Daniel, dengan rasa penasaran begitu dalam.
"Iya Kak, Kak Davin pasti sudah tahu," tatapan Rangga beralih kepada Davin, membuat Kiran semakin bingung.
"Tuan Davin," sapanya dengan sopan dan sedikit membungkukkan badannya.
"Kiran, panggil aku kakak saja! Aku ini Kakaknya Rangga," dengan ramah Davin memperkenalkan dirinya sebagai kakaknya Rangga.
Sungguh bagaikan di sambar petir di siang bolong, ini permainan apa? Kenapa Tuan Davin malah menjadi kakaknya Rangga?
"Kakak?" Kiran semakin bingung dan kaget.
Rangga dan Kiran sudah duduk di tengah-tengah mereka. Lalu ia menjelaskan semuanya pada Kiran dengan perasaan bersalah karena sudah membohongi Kiran selama ini.
"Kiran, aku adalah pemilik perusahaan di tempat kamu kerja, Mall itu adalah milikku, maaf selama ini aku sudah berbohong kepadamu. Karena aku ingin bisa menjadi kekasihmu, menjadi laki-laki sederhana yang seperti kamu inginkan," kata Rangga dengan suara agak gemetaran. Tega sekali aku membohongi orang yang aku sayang. Maafkan aku Kiran.
Rena, Manda dan Nara sama-sama menatap Rangga. Daniel, Davin dan Alvian juga melakukan hal yang sama.
"Rangga, kamu jangan bercanda!" pinta Kiran.
__ADS_1
"Kiran, yang dikatakan Rangga memang benar." Timpal Davin dengan nada lembut, ia tidak tega kalau Rangga harus sedih. Mudah-mudahan Kiran tidak meninggalkan bocah bucin ini.
"Maaf Rang, aku permisi...." Kiran hendak beranjak dari tempat duduknya, ia hendak pergi dari mereka semua tapi dengan cepat Rangga menahan tangannya dengan kuat.
"Kiran, aku mencintaimu," sambil mengeluarkan kotak cincin warna putih bening, itu berlutut pada Kiran, lalu membuka kotak cincin itu.
"Kiran, biarpun aku bukan laki-laki sederhana yang seperti kamu impikan, tapi aku mencintaimu, aku mau menikah denganmu. Mau kah kamu menikah denganku?" Kata Rangga dengan tatapan sendu.
"Tapi, kita ini berbeda, aku hanya gadis yatim piatu miskin. Tidak cocok dengan Tuan Muda sepertimu, maafkan aku, aku tidak bisa menikah denganmu," kata Kiran berusaha kuat padahal dalam hatinya menangis.
Nara beranjak dari tempat duduknya, ia memberikan Tami ke Davin, lalu berjalan menghampiri Rangga dan Kiran.
"Kiran, di dunia ini tidak ada yang beda. Kita semuanya sama yang membedakan kita hanyalah kaya dan miskin saja. Tapi kamu juga harus tahu tidak semua cinta laki-laki kaya raya itu tidak tulus, aku juga berasal dari keluarga sederhana tapi aku bersyukur bisa menikah dengan Davin, dia kaya tapi dia tidak pernah sombong, dia menerimaku apa adanya. Lalu jika di hatimu ada Rangga, kenapa kamu menolak untuk menikah dengan Rangga? Rangga adalah laki-laki yang baik, kamu beruntung menjadi gadis yang di cintai olehnya," kata Nara dengan harapan Kiran menerima lamaran Rangga.
"Kak, tapi aku takut di nikahi laki-laki kaya. Dulu ibuku juga mendapatkan laki-laki kaya tapi setiap hari Ibuku dihina-hina oleh mertuanya, katanya Ibuku itu orang miskin dan tidak pantas bersama dengan anaknya, akhirnya Ibuku di usir dari rumah Papaku kak, oleh mertuanya," tangis Kiran pecah, mengingat cerita dari ibunya ia sedih. Ibunya juga selalu menyuruhnya untuk menikah dengan laki-laki biasa saja. Itulah yang membuatku tidak mau menikah dengan laki-laki kaya dan aku di pertemukan dengan Rangga, yang ternyata dia orang kaya raya. Masih tidak percaya.
"Kiran, aku tidak seperti itu, Ibu dan Bapakku juga sudah tidak ada," kata Rangga dengan tatapan semakin sedih.
"Percayalah padaku, Rangga laki-laki yang baik," kata Nara menyakinkan.
"Iya Rangga adalah laki-laki baik," sambung Davin sembari tersenyum pada Kiran.
"Kiran, kamu tidak usah kawatir jika Rangga macam-macam katakan saja padaku, aku akan menghajarnya nanti," timpal Alvian dah di anggukin oleh Davin.
"Kiran kita mendukungmu," kata Rena dan Manda dengan senyum penuh bahagia.
"Terima...!!
"Terimaaa.....!!"
"Ayo terima.....!!"
Semuanya bertepuk tangan, Kiran akhirnya tersenyum kecil dan menatap Rangga cukup lama membuat Rangga mengangguk.
"Menikahlah denganku!" Pintanya untuk kedua kalinya, akhirnya Kiran mengangguk. "Iya aku mau menikah denganmu," kata Kiran dan membuat Rangga tersenyum bahagia.
Rangga langsung menyematkan cincin berlian yang ia beli di jari manis Kiran. Setelah melalui perbucinan yang cukup lama, akhirnya cintanya akan berakhir di sebuah penampilan. Selamat untuk Rangga dan Kiran.
Rangga beranjak dari duduknya, lalu ia menatap Kiran begitu dalam dan akhirnya mereka saling berciuman mesra.
Semuanya bertepuk tangan, bahagia sekali akhirnya Rangga dan Kiran menjadi pasangan calon suami-istri.
Kini semuanya sudah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing, cerita "Cinta Para CEO Tampan" semuanya berakhir dengan bahagia dengan pasangan dan keluarga mereka masing-masing.
"Tunggu, aku punya kejutan untuk semuanya," kata Daniel dan tanpa menunggu lama, Laras dan seorang laki-laki tampan datang ke mereka.
"Laras...."
"Nara..." Laras langsung memeluk Nara.
"Maafin aku," katanya di sela-sela pelukannya.
"Aku sudah memaafkanmu," jawab Nara dan melepaskan Laras dari pelukannya.
Tidak menyangka, akhirnya Laras bisa ikut bergabung kembali dan Laras juga ternyata sudah menikah dengan Alex laki-laki yang ia temui di luar negeri sana, namun di pernikahannya Laras dan Alex belum di karunia seorang anak.
Daniel yang mengundang Laras untuk datang, akhirnya Laras mau datang dan berkumpul bersama.
"Maafin aku ya semuanya," kata Laras pada semua sahabatnya.
Kini kebahagiaan mereka semakin lengkap, di tambah Laras yang egois juga sudah kembali, mudah-mudahan ke depannya Laras tidak keras kepala lagi.
Kini Laras dan suaminya ikut bergabung dengan mereka, lalu mereka menikmati makanan semua itu dengan nikmat.
Semuanya akhirnya bahagia
TAMAT
Mampir yuk ke novelnya teman Author dan ada juga novel-novel terbaru Author 🙏
__ADS_1