
"Nara, gantengan siapa aku dengan Davin?" tanyanya seraya tersenyum manis pada Nara.
"Tentu saja......"
Davin mengarahkan pandangan matanya ke Nara, ia menatap Nara dengan sorot mata yang sulit di artikan, seolah-olah Davin ingin mendengar Nara mengatakan gantengan Davin tentunya, tapi entahlah mulut manusia tidak ada yang tahu, apa yang akan keluar dari mulut Nara saja kedua laki-laki yang ada di hadapannya itu tidak tahu, mereka kini sama-sama menatap Nara dengan tatapan penuh arti.
Nara tampak ragu, ia menghentikan kata-katanya setika. "Emmm, gantengan....."
"Gantengan siapa gadis kampung? Katakan saja!" sambung Davin dengan yakin. "Aku yakin Nara akan mengatakan kalau aku lah yang ganteng," batin Davin dalam hatinya.
"Tentu saja gantengan Bos Alvian," kata Nara seraya menatap Alvian sambil tersenyum kecil.
"Matamu tidak salah Nar, aku memang lebih ganteng daripada Davin," cibir Alvian yang di iringi tawa penuh kemenangan.
Seketika Davin menatap Nara kesal, lalu ia langsung berlalu pergi dari hadapan Alvian dan Nara, iya raut wajah Davin terlihat sangat cemburu pada saat ini. "Berani sekali dia memuji laki-laki lain ganteng di hadapanku," gumam Davin sambil berjalan.
"Vin, kamu mau kemana?" tanya Nara, di saat Davin sudah melangkahkan kakinya pergi.
"Mau berenang biar adem," sahut Davin dengan kesal.
"Vin, aku temanin ya. Disini memang cukup panas, jadi benar katamu kita berenang saja," sahut Alvian dengan nada meledek.
Davin menghentikan langkah kakinya, lalu menatap Alvian dengan tatapan galak.
"Tidak perlu! Aku bisa berenang sendiri," jawab Davin dengan sorot mata kesal.
__ADS_1
Nara dan Alvian saling menatap, lalu mereka tersenyum puas satu sama lain.
"Nar, Davin mau berenang dengan kecebong sepertinya," cibir Alvian sambil tertawa.
"Mungkin saja bos, bos saya lanjutkan pekerjaan saya dulu ya," jawab Nara sambil berpamitan pada Alvian.
"Iya Nar, oh iya tadi kejadian di meja tamu aku sudah melihatnya dari CCTV," kata Alvian sebelum Nara berlalu pergi.
"Apakah masalah tadi sudah beres?" tanya Alvian pada Nara.
"Sudah bos, semuanya sudah di atasi dengan baik," jawab Nara dan Alvian mengangguk senang.
Nara berlalu pergi dari hadapan Alvian untuk melanjutkan pekerjaannya.
Nara melangkahkan kakinya menuju ke taman, rasanya geram sekali dengan Davin padahal belum waktunya istirahat.
"Vin.....kerja!! Ini malah enak-enakan nyantai," omel Nara pada Davin yang sedang santai sambil menikmati secangkir kopi.
"Gadis kampung, aku dari tadi sudah berkerja, aku lelah jadi aku istirahat dulu," ujar Davin dengan gaya santainya.
"Ini masih jam kerja Vin, jadi kamu belum boleh istirahat," tutur Nara sambil geleng-geleng kepala.
"Sudahlah, aku lebih baik benar-benar pergi berenang saja. Disini terlalu panas," kata Davin saat melihat Daniel sedang berjalan menuju ke taman. "Untuk apa dia datang?" gerutu Davin dalam hatinya.
Davin tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya, membuat Nara kaget. "Mau kemana?" tanya Nara, yang belum melihat Daniel sedang berjalan menuju ke taman.
__ADS_1
"Mau berenang, kamu mau ikut?" tanya Davin dengan tatapan sinis.
"Tidak, kamu berenang saja dengan kecebong, dasar tidak jelas," jawab Nara sambil mengoceh.
"Puji saja laki-laki lain lebih ganteng dariku!" sindir Davin, membuat Nara bengong. "Apa sih Davin ini?" batin Nara dalam hatinya.
"Vin..." sapa Daniel, yang baru saja datang.
"Kak Daniel," jawab Nara dengan senyum manis seperti biasanya.
"Aku rasa hari semakin panas, sungguh mending pergi berenang biar adem," kata Davin dan langsung berlalu pergi meninggalkan Nara dan Daniel berduaan.
Setelah Davin pergi dan sudah tidak terlihat, Daniel menatap Nara dengan tatapan lembut.
"Davin kenapa Nar?" tanya Daniel penasaran, ia melihat Davin cukup aneh.
"Dia mulai tidak waras kak," sahut Nara malas, memang pikir Nara dari tadi Davin sudah tidak waras.
"Nara, makan siang berdua yuk!" ajak Daniel dengan senang hati.
"Sekarang?"
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1