Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Daniel kaget


__ADS_3

Setelah mendapat jalan keluar untuk masalahnya, Davin dan Nara langsung mengabari kedua orang tua yang ada di kampung.


Saat kedua orang tuanya di hubungi mereka cukup kaget, apalagi saat mendengar Nara akan menikah.


Dengan tegas dan yakin Davin menjelaskan semuanya kepada kedua orang tua Nara, biarpun melalui telpon tapi kedua ora ng tua Nara paham. Davin juga akan menyuruh orang suruhannya untuk menjemput kedua orang tua Nara, sedangkan dia dan Nara akan mengurus masalah pernikahan mereka di sini.


Setelah semuanya beres Davin dan Nara kembali ke cafe milik Alvian.


"Al, Ren," sapa Davin pada mereka yang sedang duduk di sofa ruangan kerjanya Alvian.


"Davin, Nara, kalian darimana?" tanya Alvian sambil melirik Nara dan Davin secara bergantian.


"Habis ngurusin pernikahan kita," kata Davin dan kini sudah duduk di sofa yang terpisah dari Rena dan Alvian, Nara juga sudah duduk di samping Davin dengan posisi agak jauh, mungkin karena ada rasa canggung dan malu-malu kucing.


Alvian dan Rena menatap Davin dan Nara secara bersamaan.


"Haahh pernikahan," langsung kaget Alvian.


Sedangkan Rena masih terdiam, lalu menatap Nara memberikan isyarat pada Nara, apakah benar yang dikatakan oleh Davin? Dan Nara mengangguk pelan. Membuat Rena juga mengerti akan isyarat yang di berikan oleh Nara.


"Iya Al pernikahan, kan katanya harus di nikahi, biar tidak di ambil sama orang," sahut Davin dengan bangga.

__ADS_1


Daniel yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu, ia mendengar obrolan Davin dan Alvian.


"Menikah!!!" seru Daniel kaget, mudah-mudahan aku hanya salah dengar saja. Berharapnya dalam hati.


"Kak Daniel," sapa Nara dengan nada lembut.


Dengan cepat Davin mendekatkan duduknya ke samping Nara, kini tak cela sedikitpun di antara mereka. Davin terlihat ketakutan dan tatapannya penuh rasa cemburu pada Daniel.


"Nara, apa kabar?" tanya Daniel, ia ikut bergabung di antara mereka berempat.


"Baik kak, kalau kakak apa kabar? Kok baru kelihatan," dengan sorot mata lembut Nara menatap Daniel.


Nara tidak sadar laki-laki yang ada di sampingnya ini terlihat tidak suka dengan caranya menatap Daniel yang tidak lain adalah sahabatnya.


"Apa hanya Nara saja yang di tanyakan kabarnya? Kita para sahabatmu tidak di tanyakan," sindir Davin dengan tatapan sinis.


Daniel malah tersenyum pada Davin. "Vin, Al, aku tahu kalian baik-baik saja, kan kita kadang kiriman-kiriman pesan," kilah Daniel yang memang benar.


"Itukan sudah lama," sahut Davin.


"Vin, kan Daniel hanya merindukan Nara saja, masa kamu tidak tahu," ledek Alvian dengan sengaja.

__ADS_1


"Tidak ada yang boleh merindukan calon istriku, termasuk kamu Dan," titah Davin dengan tegas.


Mata Daniel menatap Davin, lalu beralih menatap Nara yang kini menundukkan kepalanya.


"Dengerin tuh Dan, jangan merindukan Nara lagi," sambung Alvian negasein kata-kata Davin.


Daniel terdiam sejenak, apakah aku terlambat? Aku yang lebih dulu menyukai Nara, tapi kenapa Davin yang menikahinya? "Itu karena kamu tidak tegas dan tidak menunjukkan bukti, kamu tidak segesit Davin," bisik hatinya.


"Dan, kenapa kamu terdiam?" tanya Alvian pada Daniel.


"Aku hanya masih tidak percaya, aku yang lebih dulu menyukainya, tapi kenapa nikahnya sama Davin?" keluh Daniel dengan nada sendu.


"Dan, mungkin karena mereka sudah berjodoh," ujar Alvian.


Tiba-tiba pintu ruangan kerjanya Alvian kembali terbuka.


"Alvian!!"


Kini semuanya menatap ke sumber suara itu.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2