Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Manusia menyebalkan


__ADS_3

Kini dua hari telah berlalu semuanya tidak berjalan seperti biasanya, Laras terlihat terus-terusan murung dan tidak bahagia.


Alvian lebih memilih fokus dengan pekerjaannya, karena enggan terus-terusan memikirkan Laras yang sudah mentah-mentah menolak cintanya.


Daniel juga akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaan kantornya, jadi tidak mengurusi urusan percintaannya.


Nara terdiam sambil mikirinkan Davin, kini dua hari telah berlalu dirinya menjadi pacar pura-pura Davin.


"Bagaimana, jika Kak Daniel dan yang lain tahu kalau aku berpacaran pura-pura dengan Davin?" Nara tampak bingung, jika bukan karena membalas budi kebaikan Davin pasti Nara tidak akan mau melakukan hal ini.


"Nara kamu itu b*d*h, kenapa kamu harus mau menjadi pacar pura-pura Davin? Padahal kamu itu naksirnya sama Daniel, lalu Daniel bagaimana? Jika dia mengetahui ini semua bagaimana?" Nara hanya bisa mengutuki dirinya sendiri.


Menyesal pun percuma perjanjian juga sudah mereka buat, jadi Nara tidak bisa memutuskan begitu saja.


"Aku harus membuat perjanjian tertulis untuk Davin, biar bagaimanapun ini adalah hanya pacar pura-pura!" kata Nara, lalu Nara meraih ponselnya yang ada di dekat tempat dirinya duduk.


Nara menekan nama Davin, lalu dia menelponnya.


Davin yang sedang sibuk dengan laptopnya karena dia juga sudah mulai aktif kerja lagi, jadi Davin dua hari ini tidak bisa keluar untuk main-main dengan para sahabatnya, apalagi Davin kini Davin di sibukkan dengan bisnis papanya jadi boro-boro main, dua hari ini hidup Davin bagaikan di penjara, kalau tidak bergulat dengan laptopnya ya dengan metting-metting penting dengan clien.


Davin mengalihkan pandangan matanya ke ponsel miliknya yang di letakkan di meja kerjanya. "Gadis kampung, ada apa dia menelponku?" gumam Davin pelan, tanpa menunggu lama Davin akhirnya mengangkat telpon dari Nara.


"Hallo.....gadis kampung, ada apa?" suara Davin terdengar menyebalkan membuat Nara agak kesal tapi menahannya.

__ADS_1


"Kamu kemana saja? Dua hari ini kamu tidak ke Apartemen?"


"Kenapa, apa kamu merindukanku? Maka aku akan langsung datang."


"Tentu saja tidak, aku hanya ingin membuat perjanjian tertulis selama kita menjalani pacaran pura-pura ini!"


"Untuk apa? Haruskah ada perjanjian tertulis?"


"Tentu saja haruskah ada!"


"Baiklah, kamu datang saja ke kantorku, aku akan menyuruh supirku menjemputmu!"


Tanpa berpamitan, Davin langsung mematikan saluran telponnya begitu saja, dasar Davin ini dengan para pura-puranya saja jutek sekali, bagaimana kalau dia yang akhirnya jatuh cinta? Akan seperti apa bucinnya Davin nanti?


Nara hanya mendengus kesal. "Dasar manusia menyebalkan, beruntung aku mau membantu dirinya, bukannya berterima kasih padaku, ini malah bersikap menyebalkan." Nara menggerutu sambil menaruh ponselnya dengan kasar.


Kini setelah beberapa lama, akhirnya Nara selesai bersiap-siap, Nara langsung turun ke lantai bawah dan ternyata mobil jemputan dari Davin sudah datang.


Kini Nara langsung di antar ke kantor Davin oleh supir suruhan Davin.


Di dalam mobil Nara hanya diam, supir itu juga diam saja dan fokus menyetir hingga beberapa lama akhirnya mereka sampai di kantor Davin.


Nara langsung turun dari mobil, lalu dia berjalan menuju ke kantor Davin, di kantor Davin Nara bertemu dengan repsesionis lebih dulu.

__ADS_1


"Selamat siang," sapa Nara dengan sopan.


"Selamat siang juga, ada yang bisa saya bantu?" jawab Repsesionis agak jutek, mungkin karena melihat penampilan Nara yang kampungan.


"Maaf Nona, saya mau bertemu dengan Davin," kata Nara dengan sopan lagi.


Seketika repsesionis itu menatap Nara dengan tatapan tidak suka. "Berani sekali dia memanggil Tuan Davin dengan sebutan Davin saja, memangnya dia siapa?" batin repsesionis itu dalam hatinya.


"Panggil Tuan Davin, apakah kamu sudah membuat janji sebelumnya?" Repsesionis itu kembali berbicara ketus pada Nara.


Nara terdiam, dia merasa bingung, apalagi sebelumnya dia tidak pernah masuk ke dalam kantor mewah seperti kantor Davin ini.


"Haruskah membuat janji dulu?" batin Nara dalam hatinya.


"Tapi...."


"Sudahlah Nona, jika tidak membuat janji dengan Tuan Davin, lebih baik Nona pergi saja!" Repsesionis itu malah mengusir Nara dengan tidak sopan.


Seketika Nara terdiam, kemana Davin, kenapa dia tidak keluar untuk menjemput dirinya?


"Bersikap sopanlah pada semua tamu yang datang..!!!" suara Davin terdengar menggema, membuat semua orang tertuju pada suaranya itu.


"Tuan Davinnnn.......!!!

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2