
"Jawab, apa kamu menyukai Daniel?" Alvian kembali bertanya dengan tegas.
"saya....."
Alvian melihat Nara dengan tatapan semakin tajam.
Jantung Nara seketika berdetak kencang sungguh ini terasa akan loncat.
"Saya apa?" Alvian kembali bertanya, rasanya tidak sabar mendengarkan jawaban dari Nara.
"Saya tidak tahu bos, lagian gadis miskin dan gadis desa seperti saya tidak akan cocok kalau saya dengan Kak Daniel," tutur Nara dengan nada lembut.
"Nara di dunia ini semuanya sama, aku hanya ingin tahu kamu menyukai Daniel atau tidak?" tanya Alvian, dia menatap Nara dengan tatapan lembut.
Nara hanya mengangguk pelan, tapi jawaban itu akhirnya membuat Alvian merasa lega dan Alvian juga tentunya masih ada kesempatan untuk bisa mendapatkan cinta Laras.
"Baiklah, kamu lanjutkan pekerjaanmu!" Alvian berlalu pergi meninggalkan Nara dan Nara juga kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sesampainya di ruangannya, Alvian tersenyum sambil mengambil ponselnya yang dia taruh di atas meja kerjanya dari tadi.
Alvian menggeser layar ponsel miliknya, lalu dia menekan nama Laras dan dia menelpon Laras.
Laras yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, dia melihat ponselnya melihat Alvian yang menelpon dirinya, Laras menghentikan kegiatan yang sedang dia lakukan, lalu dia mengangkat telepon dari Alvian.
"Hall Al."
"Hallo juga Laras, Laras nanti malam aku ajak kamu malam berdua, mau tidak?"
Laras terdiam dia memikirkan tawaran dari Alvian, sebenarnya Laras juga tidak mau pergi makan dengan Alvian.
"Hanya berdua?"
"Berharap Alvian mengajak Daniel, biar aku bisa semakin dekat dengan Daniel," batin Laras penuh harap.
"Iya hanya berdua." Alvian mengulangi kata-katanya, berharap Laras tidak akan menolak ajakannya.
__ADS_1
"Baiklah Al, aku mau." Jawab Laras.
Alvian tersenyum senang, akhirnya bisa mengajak gadis impiannya selama ini makan malam berdua dan tentunya tanpa ada embel-embel Daniel.
"Siap Ras, nanti aku jemput kamu ya!" Kata Alvian dia langsung mematikan saluran teleponnya, Alvian berjingkrak-jingkrak bahagia layaknya habis menang lotre.
Malam yang Alvian tunggu akhirnya datang juga, Alvian langsung bergegas menuju ke tempat kerja Laras untuk menjemput Laras disana.
Nara berjalan sendirian di tepi jalan, dia dari tadi menunggu Laras tapi Laras tidak kunjung datang menjemputnya seperti biasanya.
Akhirnya Nara pulang berjalan kaki karena sudah tidak ada kendaraan yang lewat mungkin karena sudah lewat dari jam 7 malam jadi kendaraan sudah mulai sepi, bus juga sudah tidak ada lagi karena bus terakhir juga datang jam 7 malam tadi.
Tiba-tiba ada mobil yang terus mengklaksonin Nara yang sedang jalan dan itu tidak hanya satu kali, tapi berulang kali membuat Nara mendengus kesal.
Naya menghentikan langkah kakinya, dia menatap mobil itu dan tentunya mobil itu tidak asing.
Davin yang sudah menghentikan mobilnya, dia senyam-senyum senang melihat Nara tampak begitu kesal.
"Dasar gadis kampung, memangnya enak. Lagian malam-malam jalan sendirian."
"Sungguh, dia itu memang gadis b*d*h."
Nara menggedor-gedor jendela mobil Davin dengan kasar, lalu Davin membuka kaca jendela mobilnya.
"Hey, kau bisa merusak mobilku gadis kampung."
"Aduh, ini mobil keluaran terbaru dan harganya juga sangat mahal."
"Singkirkan tanganmu! Dasar gadis kampung."
Davin terus mengoceh seperti burung beo, Nara menatap Davin dengan tatapan mengajak perang. "Dasar cecungguk sombong," batin Nara dalam hatinya.
"Turun kamu, dasar tidak sopan. Bisa-bisanya kamu memainkan klakson mobilmu tidak jelas seperti itu, hey ini jalanan umum!" Nara marah pada Davin, tapi Davin malah tertawa senang.
"Gadis kampung, sultan itu bebas! Tidak ada polisi yang berani menangkap aku, hanya karena bunyi klakson aku." Davin tersenyum seolah-olah membanggakan kekayaannya.
__ADS_1
Nara mengangguk, Nara juga sadar diri dia hanya berasal dari keluarga miskin sekuat apapun Nara melawan Davin, pasti Nara juga tidak akan menang.
"Sudahlah, aku tidak mau berurusan dengan bedebah sepertimu, buang-buang waktu saja!" Nara nyengir kesal, tapi belum sempat Nara pergi meninggalkan Davin dan mobilnya tiba-tiba Davin turun dari dalam mobilnya.
Nara menjauhkan dirinya dari mobil Davin tapi Davin malah mendekati Nara, membuat Nara agak takut dan gemetaran.
"Kamu mau apa? Menjauh lah dariku! Jangan macam-macam!" Nara terus berbicara tapi Davin tidak memperdulikannya.
Davin semakin mendekatkan dirinya hingga Nara terhimpit ke tembok yang ada di dekat jalan, Nara tidak bisa bergerak karena Davin mengunci tubuhnya dengan tubuh kekarnya.
"Davin, jangan macam-macam!"
"Ini di jalanan, bagaimana jika ada orang yang melihatnya?"
Nara semakin ketakutan, pikirannya sudah traveling kemana-mana dan tentunya otak Nara begitu m*s*m karena takut Davin berbuat yang tidak-tidak.
"Lalu, jika kita di tepi jalan seperti ini, apakah aku boleh melakukan lebih?" tanya Davin, dia berbisik pelan di telinga Nara.
Detak jantung Nara begitu kencang, sungguh rasanya deg-deggan sekali.
"Davin menjauh lah atau aku akan bertriak!" Ancam Nara, tapi Davin lagi-lagi tidak perduli pada perkataan Nara.
Davin malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nara, kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Bibirmu sepertinya manis, apakah aku boleh mencobanya?" jari-jari tangan Davin dengan lembut menyentuh bibir mungil Nara.
"Jangan berani menyentuhku!" tegas Nara, dia ingin mendorong Davin tapi tubuh Davin jauh lebih kuat dari tenaga dirinya.
"Tidak usah takut, hanya sedikit saja. Aku juga tidak akan menyakitimu," kata Davin dengan tatapan semakin dalam.
"Davinnn hentikan......!"
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🤗
__ADS_1