Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Gadis kampung


__ADS_3

"Nara, makan siang berdua yuk!" ajak Daniel dengan senang hati.


"Sekarang?"


"Iya sekarang Nar, masa tahun depan, nanti keduluan sama sih kunyuk Davin lagi," jawab Daniel dengan senyum kecil di sudut bibirnya.


"Tapi ini jam berapa?" tanya Nara.


"Sudah mau jam 12 siang, ayo makan siang diluar! Sudah, Alvian pasti tidak akan marah," jawab Daniel dan langsung mengajak Nara pergi begitu saja.


"Tapi kak...."


"Sudahlah tidak ada tapi-tapian, jika Alvian marah maka urusannya denganku nanti."


Tanpa menunggu Nara berbicara lagi, Daniel menarik tangan Nara dengan lembut dan Nara juga mengikuti langkah kaki Daniel keluar dari dalam cafe.


Di saat Daniel mengajak Nara makan siang berdua, di sisi lain Davin sedang berada di Apartemen milik Rangga, iya disana dia sedang berenang karena merasa kepanasan dan tentunya membujuk Rangga agar mau membagi uang padanya.

__ADS_1


"Angga, aku tahu pasti mama yang sudah menyuruhmu mengantikan aku di perusahaan aku sendiri," kata Daniel, ia masuk ke dalam kolam renang untuk berendam agar rasa panasnya hilang.


"Iya terus kenapa kak?" sahut Rangga, ia sedang duduk di tepi kolam renang sambil menikmati jus jeruk dan cemilan yang di buatkan oleh Art nya.


"Apakah kamu tidak bisa menolak, biar bagaimanapun itu bukan perusahaan milik mama," tanya Daniel malas.


Perusahaan yang di serahkan pada Rangga itu memang bukan milik orang tua Davin, melainkan itu adalah milik Davin pribadi dan di bangun oleh dirinya sendiri, Davin merintis perusahaannya itu benar-benar dari nol. Tapi di saat hal seperti ini terjadi, Marlin seenaknya mengambilnya dari Davin.


"Jika aku menolak, maka perusahaanmu akan hancur karena tidak ada yang mengurusnya. Aku mau mengurusnya, itu juga demi kakak agar saat kakak pulang ke rumah nanti, aku pastikan perusahaan kakak akan baik-baik saja dan berjalan dengan lancar." Rangga meyakinkan Davin, membuat Davin terdiam.


Rangga meminum jus jeruknya dengan nikmat. "Segar sekali," gumam Rangga yang di dengar oleh Davin.


Rangga memanggil Art rumahnya, lalu ia menyuruh art nya untuk membuatkan jus jeruk dengan es yang banyak untuk Davin.


Setelah beberapa lama akhirnya art nya kembali membawakan jus jeruk pesanan Rangga untuk Davin.


"Minumlah kak, bukannya kamu kepanasan," kata Rangga dan Davin naik ke tepi kolam renang untuk menikmati jus jeruknya.

__ADS_1


Kini Rangga dan Davin duduk bersama sambil menikmati cemilan dan jus bersama-sama.


"Angga, kamu sudah punya kekasih?" celetuk Davin, membuat Rangga hampir saja tersedak karena kaget dengan pertanyaan Davin.


"Aku masih mencari kak, apa kakak ada seorang gadis cantik? Kenalkan padaku kak!" jawab Rangga antusias, ia tahu kalau teman gadisnya Davin itu cantik-cantik.


"Aish, untuk apa aku mengenalkan gadis cantik padamu? Percintaanku saja acak kadul tidak jelas," sahut Davin malas. Seketika Davin mengingat sosok Nara. "Nara sedang ngapain ya? Kan ini jam makan siang?" batin Davin dalam hatinya.


"Kakak saja terlalu banyak memilih, bukannya Tante Marlin sering mengenalkan kakak pada gadis cantik," celetuk Rangga.


"Gadis cantik apa gadis matre? Mereka hanya menginginkan uangku saja, aku ingin gadis kampung yang sederhana dan biasa saja," ujar Davin membuat Rangga ternganga tidak percaya.


"Sejak kapan kamu berubah kak? Bukannya dulu kamu lebih suka gadis cantik yang seksi?" tanya Rangga serius.


"Sejak.... entahlah sejak kapan?" Seketika pipi Davin menjadi merah.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2