Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Alvian dan Rena


__ADS_3

Di perjalanan menuju ke rumah Rena, Alvian dan Rena hanya diam saja di dalam mobil, kini suasana di dalam mobil milik Alvian terasa hening bagaikan hati Alvian yang memang sedang kesepian beberapa lama ini.


"Oh iya, aku lapar, boleh kita mampir di tempat depan itu? Aku rasa makanan di pinggiran jalan itu cukup enak."


"Kamu yakin?"


"Aku yakin, lagian aku sudah biasa makan di pinggir jalan seperti ini, aku tahu pasti kamu sebelumnya belum pernah ya?"


Alvian tersenyum kecil, ia memang tidak pernah makanan makanan pinggir jalan, apalagi ia punya cafe sendiri dan tentunya Alvian lebih sering makan di cafe miliknya sendiri.


"Biarpun aku belum pernah, lalu apa salahnya mencoba? Lagian aku juga bukan orang yang pemilih makanan."


Sorot mata Alvian cukup dalam, namun terlihat begitu tulus, Rena tersenyum dalam hatinya, Rena pikir Alvian tidak akan mau makan makanan pinggir jalan tapi ternyata pikirannya sudah salah besar.


Alvian menepikan mobilnya, lalu ia turun lebih dulu dari dalam mobil dan bergegas membukakan pintu mobilnya untuk Rena.


Rena turun dari dalam mobil, ia tampak malu-malu dan hanya bisa menyembunyikan senyum kecil di sudut bibirnya, ternyata Alvian itu laki-laki yang cukup hangat, batin Rena dalam hatinya.


Rena dan Alvian berjalan menelusuri makanan pinggir jalan berdua, mungkin bagi orang yang tidak tahu pasti akan mengira jika mereka adalah sepasang kekasih, coba saja mereka bergandengan tangan pasti akan lebih manis, namun Alvian dan Rena saling menjaga jarak, mereka berjalan berdampingan namun enggan untuk berpegangan tangan.


"Sepertinya itu enak," seru Rena antusias, Rena melihat sate cumi-cumi bakar dan ia cukup tertarik untuk membelinya dan menikmatinya.

__ADS_1


Kini mereka berdua berjalan menuju ke tempat tukang cumi-cumi bakar, Rena memesan dua sate cumi-cumi bakar, di sebelahnya ada bermacam-macam minuman yang menurut Rena, Rena pun memesan dua minuman untuk dirinya dan Alvian.


Alvian diam-diam tersenyum kecil, ternyata masih ada gadis seperti Rena, bahkan makan makanan di pinggiran jalan saja Rena terlihat bahagia, laki-laki mana yang tidak tertarik dengan gadis sesederhana Rena?


Akankah suatu saat hati Alvian terbuka untuk Rena? Entahlah, itu semuanya hanya Alvian yang tahu.


Setelah beberapa lama makanan dan minuman mereka akhirnya jadi juga, Rena mengajak Alvian duduk di bangku taman dan mereka menikmati makanan serta minumannya dengan senang hati, selain makan berdua, mereka juga cukup asik dengan candaan mereka. Mungkin ini adalah hari yang benar-benar membuat Alvian bahagia, setelah di sakiti hatinya oleh Laras, dan dengan Rena, Alvian bisa tertawa lepas tanpa beban.


*


*


*


Kemerlip bintang dan terangnya bulan malam ini membuat langit tampak begitu indah.


"Vin, apa kamu yakin? Kalau Bos Al akan move on dari Laras? Aku tahu dia begitu mencintai Laras," ujar Nara tidak yakin, apalagi melihat Alvian yang selalu mengingat Laras biarpun sudah di sakiti hatinya oleh Laras.


Davin berdehem, ia membenarkan posisi duduknya, lalu menyorotkan kedua matanya ke wajah cantik Nara.


"Sayang, aku yakin kalau Alvian akan segera move on dari Laras. Rena juga bukan gadis sembarangan, aku yakin Alvian pasti bisa membuka hatinya untuk Rena," sahut Davin dengan yakin. Sebagai sahabat baik Alvian, Davin juga mengenalkan Alvian pada gadis yang baik dan tentunya tidak sejahat Laras.

__ADS_1


"Sudah malam, ayo istirahat!" ajak Davin, membuat Nara menatapnya dengan sorot mata tajam, otaknya pun traveling kemana-mana, di rumah hanya berdua, aku takut Davin melakukan sesuatu.


Davin terdiam, kedua sorot matanya menatap Nara penuh dengan tanda tanya.


"Gadis kampung, kenapa diam saja?"


"Aku tahu, pasti kamu sedang memikirkan."


Davin cengar-cengir seolah-olah ia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Nara saat ini.


"Apaan sih? Memangnya aku memikirkan apa?" tepis Nara buru-buru, ia takut kalau Davin akan tahu pikiran kotor yang ada di dalam otaknya.


"Haruskah aku jelaskan?" goda Davin, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Nara, seketika tubuh Nara gemetaran karena merasa deg-deggan.


"Kamu mau apa Vin?" tanya Nara, saat Davin semakin mendekatkan wajahnya.


"Kita hanya berdua, apa salahnya jika kita melakukan sesuatu yang enak-enak gitu," goda Davin dengan nakal.


Seketika bulu kuduk Nara berdiri karena merinding, apa yang akan di lakukan Davin? Bos Al, kenapa kamu tidak pulang-pulang?


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2