
Jam menunjukkan pukul 12 siang, akhirnya Nara selesai membuat makanan untuk dirinya dan Daniel makan siang bersama.
Nara dan Daniel duduk di meja yang sama, mereka saling berhadapan, iya mereka seperti dua sejoli yang sedang pacaran.
"Nar, ini sungguh masakan kamu?" tanya Daniel, sambil menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Sungguh kak, bukannya kakak tadi melihat aku sedang memasak," jawab Nara sambil tersenyum.
"Sungguh enak, bisakah kamu memasakkan untuk aku lagi lain kali?" puji Daniel seraya meminta Nara kembali memasakkan untuk dirinya. "Untung-untung Nara mau jadi kekasihku ehh jangan deh tapi istriku saja," batin Daniel dengan hayalannya sendiri.
Nara hanya tersenyum kecil mendengar pujian dari Daniel, sungguh hatinya tiba-tiba berdebar senang. "Kak Daniel, memuji masakkan aku," batin Nara dalam hatinya.
Alvian dan Davin keluar dari ruangan kerja Alvian, iya karena terlalu kesal melihat Nara dan Daniel begitu manis bahkan mereka terlihat sangat akrab, Davin merasa kesal dan akhirnya tadi memilih masuk ke dalam ruangan kerja Alvian dengan harapan saat keluar nanti Nara dan Daniel sudah tidak bersama lagi, karena Davin terlalu muak melihat mereka yang begitu akrab dan begitu membuat mata sakit.
"Vin, kita makan bareng mereka saja ya!" ajak Alvian, yang melihat Nara dan Daniel sedang makan siang bersama di salah satu meja.
Davin mengikuti pandangan mata Alvian, seketika Davin geleng-geleng kepala, niat ingin tidak ingin melihat mereka tapi ini Alvian malah meminta makan siang bersama.
"Tapi Al....kita....."
Belum sempat melanjutkan kata-katanya, Alvian langsung menarik tangan Davin untuk duduk bersama Nara dan Daniel.
__ADS_1
"Sudah tidak usah banyak jawab, biasanya juga kita makan bersama," tandas Alvian yang enggan di bantah oleh Davin.
Akhirnya Davin mengalah, dia menuruti perintah dari Alvian yang tidak lain adalah sahabatnya.
"Daniel....!!" suara yang tidak asing itu terdengar nyaring di telinganya Daniel, seketika Daniel menoleh pelan. "Laras..." batin Daniel dalam hatinya, Daniel terlihat tidak suka Laras datang menemuinya.
Nara juga ikut menoleh, entah apa yang akan terjadi saat Laras datang? "Nara, apa Laras datang untuk bertanya kamu tinggal dimana? Lalu aku harus menjawab apa? Tapi aku rasa Laras tidak akan bertanya seperti itu," hati Nara berbicara.
Alvian juga menoleh ke arah Laras, tapi kali ini Alvian berusaha bersikap tenang mengingat cintanya yang tidak terbalaskan.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Davin, tatapan matanya tidak suka.
"Memangnya kenapa jika aku datang kesini? Apa kamu keberatan?" Laras balik bertanya dengan tatapan sinis.
Karena Laras Alvian dan Daniel sering kali perang dingin, sungguh Laras yang tidak peka dan terlalu egois.
Tanpa permisi atau meminta izin tiba-tiba Laras duduk di sebelah Daniel, Daniel hanya diam dan dia hanya fokus dengan makanan yang ada di hadapannya saja.
"Al, kamu sudah sehat?" tanya Laras dengan nada datar.
"Sudah," jawab Alvian singkat.
__ADS_1
"Nara, kamu kan pegawai cafe, kenapa kamu makan disini? Bukankah tidak boleh, aturan para pegawai makan di meja makan khusus para pegawai, itu tempatnya ada di belakang Nar...." celetuk Laras, seketika Nara menatap Laras.
"Aku bisa...."
"Apa salahnya, jika Nara makan disini? Jika perlu aku akan menyewa cafe ini untuk hari ini, apa kamu puas?" sambung Davin, seketika Nara melihat Davin dengan tatapan tidak percaya.
Laras geleng-geleng kepala, dia melihat Davin dengan tatapan semakin sengit, haruskah Davin membela gadis kampung ini? Batin Laras dalam hatinya.
"Kamu, mau melakukan hal itu hanya untuk gadis kampung? Davin, apa kamu sudah gila, mana selera kamu yang kelas atas itu?" tanya Laras sedikit meremehkan Davin.
Seketika Alvian, menatap Laras dengan tatapan sengit.
"Jika kamu datang hanya untuk membuat masalah, ada baiknya kamu keluar dari cafe aku Ras.....!!" usir Alvian, sungguh geram apalagi sikap Laras tidak sebaik biasanya, entah setan mana yang merasuki tubuh Laras sehingga Laras menjadi jahat seperti ini?
"Kalian semua sekarang berubah hanya karena gadis kampung ini," Laras geleng-geleng kepala, tidak percaya karena ketiga sahabat laki-lakinya ini tidak ada yang membela dirinya sama sekali.
Daniel menghentikan makannya, dia dari tadi sudah sangat geram mendengar obrolan para sahabatnya ini.
"Laras, yang membuat kita berubah itu kamu...!!" tandas Daniel dengan tegas.
Seketika Laras menatap Daniel dengan tatapan sulit di artikan.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia