Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Beberapa Bulan Telah Berlalu


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu, Alvian akhir-akhir di pusingkan dengan ngidam istrinya yang menurut Al begitu aneh.


Saat masa-masa hamil mudanya Rena, Al begitu kuwalahan dari manjanya Rena yang berlebihan, minta makan rujak di jam 2 malam, coba pikiran jam 2 malam dimana ada tukang rujak? Akhirnya malam itu aku membuat rujak sendiri, untung saja di kulkas banyak buah-buahan, jadi malam itu aku tertolong.


Ada ngidam yang aneh lagi setiap malam tidur harus mengelus-elus keris pusakaku, jujur rasanya saat itu geli tapi di saat aku melarangnya, Rena pasti akan langsung menangis. Akhirnya aku pasrah, karena hamilnya Rena itu ya ulahku dan aku harus sabar.


Sekarang sudah berakhir masa-masa ngidam istriku itu, aku juga lega dan bisa tidur nyenyak setiap malam.


***


Sekarang giliran Davin yang di pusingkan oleh ngidamnya Nara. Nara tidak semanja Rena tapi Nara lebih suka jauh-jauh dari Davin, saat Davin dekat dengannya saat itu juga Nara akan merasakan mual dan akhirnya muntah-muntah. Sungguh itu membuat Davin frustasi, ngidam macam apa seperti ini?


Pagi yang cerah seperti biasanya Nara sedang membuat sarapan untuk sarapan pagi suaminya.


Davin yang baru saja selesai siap-siap untuk pergi ke kantor, ia pergi ke dapur untuk mencari istrinya tercinta dengan harapan Nara sudah tidak mual lagi saat di dekatnya.

__ADS_1


Davin memeluk Nara dari belakang begitu mesra, tiba-tiba Nara merasakan mual. "Hoek..Hoek...." Nara langsung ke wastafel untuk muntah, Davin langsung melepaskan pelukannya dengan tatapan sendu.


"Mas, aku mual ih...." omel Nara, entahlah saat dekat dengan suamiku, aku mengalami mual yang begitu parah, padahal ini adalah benih dia.


"Sayang, sampai kapan ngidam konyolmu ini berlalu? Aku sudah tidak tahan," gerutu Davin tampak kesal.


"Mana aku tahu Mas," celetuk Nara.


"Bisa gila kalau kamu terus-terusan seperti ini, Anak Papa, jangan bandel dong Nak! Papa kan pingin ngairin kamu juga biar subur," keluh Davin membuat Nara merasa ibah tapi mau bagaimana lagi? Benihnya ini susah sekali diajak kompromi.


Davin berlalu pergi ke meja makan, lalu Nara menyusulnya sambil membawakan sarapan untuk Davin dan segelas susu putih untuk Davin.


Setelah selesai sarapan Davin berpamitan untuk pergi ke kantor sedangkan Nara di rumah sendirian seperti biasanya.


***

__ADS_1


Manda juga saat ini sedang hamil, kehamilannya usianya sama dengan kehamilan Nara. Padahal buatnya tak janjian tapi akhirnya jadinya bareng-bareng, apa lahiran nanti juga akan bareng-bareng? Entahlah nanti.


Tapi di masa ngidam Manda, Daniel begitu bahagia karena Manda sangat manja dan lebih suka ngajak ehem-ehem duluan, kalau tidak di turuti Manda akan menangis. Jadi biarpun capek dan kadang lelah Daniel selalu menyempatkan bermain-main di atas ranjang bersama dengan istrinya.


Seperti pagi ini saat Daniel ingin berangkat ke kantor tiba-tiba Manda memeluknya dari belakang, lalu ia mengusap-usap keris pusakanya dengan lembut, membuat Daniel menikmatinya.


"Sayang, aku mau berangkat ke kantor," lirih Daniel dengan suara agak mendesah.


"Tapi jabang bayi minta di manjakan dulu sama Papanya," kata Manda sedikit manyun.


Daniel mengangguk, istrinya memang tidak mengidam aneh-aneh, mangga muda saja dia tidak mau. Yang dia mau hanya pergelutan di atas ranjang, setelah itu senyumnya pasti akan langsung berkembang sempurna.


Akhirnya sebelum berangkat ke kantor Daniel masuk kamar lebih dulu, selain dia juga memang sudah kepingin, bayinya juga minta di manjakan terus. Mudah-mudahan saat lahir dan sudah besar anakku sayang dengan mamanya dan papanya.


Masa-masa ngidam yang begitu menyusahkan para suami tapi membuat para istri bahagia, yang namanya ngidam itu beda-beda dan aneh-aneh, untung saja ini suami-suami di novel yang sabar kebangetan, coba kalau suami di dunia nyata tidak bisa di bayangkan.

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2