
Beberapa hari kemudian, akhirnya acara pernikahan Alvian dan Rena di gelar dengan begitu meriah dan para tamu undangan juga banyak sekali yang hadir di sana.
Ada rekan bisnis Alvian, teman-teman sekolahnya dan para sahabatnya. Alvian yang memang hidup hanya sebatang kara ia menikah juga tidak temani oleh siapa-siapa, hanya ada para sahabatnya yang hadir dan setia menemani Alvian di acara pernikahannya hari ini.
Keluarga besar Rena dan teman-temannya juga hadir, suasa pesta tampak rame sekali.
Alvian mengundang Marlin yang tidak lain adalah Mamanya Davin, tapi Marlin tidak hadir di acara pernikahannya dengan alasan ia sedang jalan-jalan keluar negeri.
Biarpun di acara pernikahannya hanya sendirian tapi Alvian begitu tegar dan keluarga Rena juga menerima Alvian dengan baik.
Kini Alvian sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya, ia tampak gugup, bahkan buliran keringat membasahi pelipis matanya.
"Al, kamu jangan gugup dong! Lihat ini air keringat kamu sampai tumpah-tumpah, belum juga malam pertama sudah berkeringat saja," oceh Davin dan dengan penuh perhatian ia mengelap keringat yang berjatuhan membahasi pelipis mata Alvian. Padahal ada AC di ruangan itu tapi sangking gugupnya Alvian saja jadi ia berkeringat.
"Sabar Al, malam masih lama, berkeringatnya nanti malam saja!" timpal Daniel, ia juga setia menemani Alvian di acara pernikahannya.
"Kalian malah bergurau, aku deg-degan tahu," pekik Alvian dengan nada menekan.
"Deg-degan awalnya saja Al, nanti malam juga malam pertama enak Al," sambung Davin dengan jail.
Seketika Daniel terdiam, ia teringat kejadian saat bersama dengan Manda. "Kalian menikah dulu baru malam pertama, lah aku malam pertama dulu baru menikah," batin Daniel dalam hatinya.
"Hay...." suara yang tidak asing terdengar di antara mereka bertiga yang sedang ngobrol.
Dengan kompak mereka menoleh secara bersamaan ke sumber suara itu, Alvian dan Davin cukup kaget melihat wanita yang ada di hadapannya mereka.
"Manda, kamu kapan pulang?" tanya Davin kaget.
"Kok kamu tahu aku menikah hari ini?" sambung Alvian tampak bingung.
__ADS_1
Tiba-tiba Manda mendekati Daniel, lalu ia merangkul lengan tangan Daniel dengan mesra. Membuat Daniel tampak canggung dan ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian kembali bersama?" Alvian dan Davin bertanya secara bersamaan.
"Kita...." Manda menghentikan kata-katanya, ia takut salah bicara dan akan membuat kesalahan.
"Kita akan menikah," sambung Daniel dengan mantap.
"Haahhh menikah?!" Davin dan Alvian kembali kaget di buatnya.
"Iya aku putuskan untuk kembali pada Manda, kita akan menikah secepatnya," jelas Daniel dengan mantap.
Davin senyam-senyum ia tampak bahagia mendengar Daniel akan menikah dengan Manda.
"Benar Dan menikah saja, daripada kamu nungguin Nara, percuma dia sudah menjadi milikku," pungkas Davin dengan senang hati.
Manda yang tidak mengerti apa yang di katakan Davin, ia hanya diam saja. Mungkin Nara ini ada hubungannya dengan Davin, tapi apa? Manda juga belum tahu dan Daniel juga belum bercerita apa-apa tentang Nara.
Nara dan beberapa gadis cantik lainnya berjalan mengiringi Rena ke tempat pernikahan.
Alvian juga langsung di gandeng oleh Daniel dan Davin menuju ke tempat pernikahan karena acara akan segera di mulai.
Kini kedua mempelai sudah berada di tempat acara dan pernikahan langsung di langsungkan.
"Sahh.....!!"
Dengan kompak semua tamu yang hadir mengucapkan kata sah, akhirnya Alvian dan Rena sudah menjadi suami istri hari ini.
Laras yang ternyata sudah datang dari tadi, tapi ia tidak bergabung dengan para sahabatnya ia cukup sedih bahkan ia menitikkan air mata.
__ADS_1
"Laras, jangan sedih!" Laras memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Ia baru sadar kalau ternyata dirinya mencintai Alvian, hatinya sangat sedih saat Alvian bersanding dengan wanita lain. Ada rasa tidak rela, tapi Laras berusaha kuat dan menerima semuanya.
Kini semua tamu yang hadir berbondong-bondong mengucapkan selamat pada Alvian dan Rena.
Daniel, Davin, Nara, juga tidak ketinggalan mereka mengucapkan selamat pada Alvian dan Rena.
"Selamat ya Al, akhirnya nikah juga," kata Daniel dan di sampingnya sudah ada Manda.
"Bahagia selalu ya Al," sambung Manda dengan nada lembut.
"Terimakasih, kalian juga bahagia selalu ya Dan, Manda," jawab Alvian dan di senyumin oleh Rena.
Nara juga berdiri di samping Davin, bahkan Davin terus menggenggam erat tangan Nara agar tidak sampai lepas. Nara ingin bertanya siapa wanita yang bersama Daniel? Tapi Nara mengurungkan niatnya, bisa-bisa Davin cemburu berlebihan nanti. Mungkin nanti saja pas sudah di rumah.
"Ini kado dariku," sebuah kotak berwarna merah di berikan pada Alvian. Dengan senang hati Alvian menerima kado dari Daniel. Entah apa isinya? Alvian juga sangat penasaran.
"Kalo ini dariku dan Nara, selamat ya atas pernikahan kalian," dengan senang hati Davin memberikan kotak kado berwarna biru dan tidak lupa mengucapkan selamat pada Alvian dan Rena.
"Cepat-cepat punya momongan ya!" sambung Nara, dan itu membuat Rena tersenyum malu.
"Terimakasih Davin dan Nara, kita malam ini mau langsung berangkat bulan madu," jawab Alvian dan membuat Rena malu-malu pipinya saja sampai merah seperti tomat.
Akhirnya acara selesai, Laras tak kunjung muncul mengucapkan selamat pada Alvian dan Rena. Al juga sebenarnya menunggu Laras, tapi mungkin Laras tidak hadir pikir Alvian. Padahal Laras sudah hadir hanya saja dia tidak muncul karena takut akan merusak kebahagiaan Alvian hari ini.
Saat semuanya sudah pulang, Alvian dan Rena langsung berangkat bulan madu.
Di saat para sahabatnya sedang berbahagia, Laras kini sudah berada di Bandara dan ia memilih untuk pergi jauh, entah kemana? Laras ingin hidup tenang dan melupakan semuanya.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia