
Davin dan Nara buru-buru mendatangi meja tamu itu. "Ada apa?" Davin dan Nara saling menatap, mereka juga tidak tahu ada apa?
"Maaf tuan ada apa?"
"Dasar....."
Tamu itu tiba-tiba melempar makanan ke tubuh Nara. "Ini makanan apaan?" sentaknya, Nara ternganga kaget, ia malah bengong.
"Hey, yang sopan ya! Kita kan sudah bertanya ada apa? Kenapa, anda main lempar makanan itu ke teman saya?" jawab Davin, ia menatap garang tamu itu.
"Makanan disini tidak enak, makanan seperti itu kalian sajikan pada kami," sahut tamu itu, Davin semakin kesal, karena makanan yang di siapkan ya sesuai dengan pesanan tamu itu.
Lagian selama cafe Alvian berdiri itu tidak pernah ada masalah tentang rasa makanan dan keluhan lainnya dari para pelanggan yang datang.
Para tamu di meja lain menatap ke meja tamu yang saat ini sedang marah-marah.
"Kita menyiapkan makanan sesuai dengan pesanan tamu, bahan-bahan yang di gunakan di cafe ini juga semua bagus dan tentunya sehat, bersih dan higienis," jelas Davin dengan tegas.
"Saya bilang makanan di cafe tidak enak, bukan masalah bahan-bahannya bagus atau tidak, dasar pelayan payah," teriak tamu itu sambil geleng-geleng kepala.
Para pelanggan yang bisanya datang, mereka semua geleng-geleng kepala.
"Makanan disini semuanya enak.....!!"
"Iya, aku hampir setiap hari makan di cafe ini dan rasanya tidak pernah mengecewakan."
"Dasar lidahnya yang kampungan kali, perasaan semua makanan disini enak."
"Diam kalian......!!!" bentak tamu itu pada para pelanggan lainnya yang ikut berkomentar.
__ADS_1
Davin tersenyum penuh kemenangan dengan tatapan sinis pada tamu itu.
"Semua pelanggan mengatakan kalau makanan di cafe ini semuanya enak, jadi jika menurut anda makanan di cafe ini tidak enak, maka jangan makan disini!" kata Davin dengan nada marah, matanya membulat sempurna menatap tamu itu.
"Itukan menurut mereka, lihat makanan tidak enak seperti ini, di bilang enak dasar orang kampung," hina sang wanita yang ada di samping tamu itu.
"Ayo sayang, kita pergi dari sini...!!" ajak wanita itu pada laki-laki itu.
"Iya mereka semua orang miskin, tapi mereka begitu sombong dan tidak punya etika," ejek wanita itu dengan sombongnya.
Nara hanya diam, bajunya kotor karena di lempar pisang keju oleh tamu tadi, rasanya ingin marah tapi ia sadar ia hanya berkerja di cafe Alvian.
Saat kedua tamu itu telah pergi, Davin menatap Nara dengan tatapan begitu dalam. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Davin dengan nada lembut.
"Aku tidak apa-apa Vin," jawab Nara dengan nada senduh.
"Maaf ya semuanya untuk kegaduhan hari ini, silahkan makanan dan minumannya di nikmati kembali, terimakasih." Davin dengan sopan bertutur kata, bahkan dia meminta maaf pada semua tamu.
Nara tercengang tidak percaya, seorang Davin mau bersikap manis seperti ini? Sungguh ini adalah hal yang langkah dan tidak pernah Nara lihat sebelumnya.
Akhirnya para pelanggan yang lainnya kembali duduk dan mereka semua menikmati makanan dan minuman kembali dengan nikmat.
"Ra, kita bersihkan pakainmu dulu," ajak Davin, lalu meraih tangan Nara dan mengandengnya dengan erat. Nara lagi-lagi di buat tercengang oleh Davin, bahkan detak jantungnya tiba-tiba menjadi begitu cepat. "kenapa dengan jantungku?" batin Nara dalam hatinya, Nara merasakan detak jantungnya sungguh tidak normal hari, karena debarannya sangat kencang sekali.
Sesampainya di kamar mandi, Davin menghentikan langkah kakinya.
"Masuklah! Aku tunggu disini, atau aku ikut masuk? Biar terjadi sesuatu di dalam sana?" canda Davin dengan tawa khas mesumnya itu.
"Tidak usah, aku bisa sendiri...!!" jawab Nara dengan nada jutek, dan Davin hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil pada Nara. "Gadis kampung ini lama-lama menggemaskan sekali," batin Davin dalam hatinya.
__ADS_1
Sita sedang membereskan meja tamu yang sombong tadi.
"Tamu itu, tidak tahu kalau Tuan Davin itu salah satu orang terkaya di kota ini, sungguh dia sombong sekali."
"Aku melihatnya saja sangat kesal, aturan tadi aku lempar pakai gelas, tapi aku takut di pecat."
Sita mengoceh sendiri sambil membersihkan meja tersebut, melihat Nara di lempar pisang keju tadi, hati Sita sungguh kesal.
Setelah beberapa lama di dalam kamar mandi, akhirnya Nara keluar juga dan Davin masih setia berdiri di depan pintu kamar mandi menunggunya.
"Kamu belum pergi?" tanya Nara.
"Tentu saja belum, aku menunggu wanitaku," jawab Davin dengan jail.
"Dasar kamu ini," omel Nara malas.
"Bilang saja kamu senangkan di tungguin sama cowok setampan aku," cibir Davin jail.
"Ganteng darimananya? Gantengan juga aku," suara yang tidak asing itu mengangetkan Nara dan Davin.
Davin dan Nara sama-sama menoleh ke sumber suara itu, lalu Nara tersenyum kecil.
"Nara, gantengan siapa aku dengan Davin?" tanyanya seraya tersenyum manis pada Nara.
"Tentu saja......"
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1