
Pagi yang cerah kini telah datang Nara yang baru saja selesai mandi dia langsung dandan untuk berangkat kerja.
Setelah selesai Nara keluar dari dalam kamarnya, Nara melihat Laras sedang menikmati sarapan yang telah dia pesan tapi anehnya pagi ini Laras hanya memesan satu porsi makanan padahal biasanya dia juga selalu memesankan untuk Nara tapi pagi ini tidak.
"Selamat pagi Ras..." sapa Nara dengan nada lembut, dengan sopan Nara menarik kursi lalu duduk di kursi makan sebelah Laras.
"Pagi juga..." jawab Laras dengan cuek.
Lagi-lagi Nara hanya bisa menghela nafas pelan, sudah beberapa waktu ini Laras terlihat begitu aneh bahkan sikapnya juga begitu dingin dan kadang datar pada Nara tapi Nara berusaha sabar, apalagi dia sadar kalau dirinya hanya menumpang di rumah Laras.
"Oh iya, nanti kamu berangkat kerja naik bus saja ya! Aku buru-buru soalnya, lagian kalau harus mengantarkan kamu dulu aku bisa-bisa terlambat," kata Laras kali ini nada bicaranya terdengar begitu dingin.
"Iya Ras, lagian aku juga biasanya berangkat sendiri naik bis, aku sudah terbiasa Ras," jawab Nara sebenarnya Nara juga agak kesal tapi lagi-lagi Nara berusaha menahannya.
"Aku sepertinya harus cari kosan untuk tempat tinggal, sepertinya Laras juga tidak suka kalau aku terus-terusan disini," batin Nara dalam hatinya.
"Baguslah, jangan terus-terusan merepotkan orang lain!" jawab Laras, dengan sengaja Laras menyindir Nara.
"Tidak Ras, kamu jangan kawatir, aku juga sudah menemukan tempat tinggal, aku malam ini akan pindah dari kamu," sahut Nara dengan nada tegas.
Laras hanya mengangguk. "Baguslah...." Jawab Laras dan beranjak dari tempat duduknya lalu pergi begitu saja meninggalkan Nara.
Sungguh kali ini Laras begitu egois, bahkan dia begitu egois, urusan percintaan yang Nara tidak tahu asal usulnya akhirnya membuat persahabatan mereka selama ini menjadi persahabatan yang begitu dingin.
Setelah Laras pergi, Nara kembali masuk ke dalam kamar. Nara langsung membereskan pakaiannya, lalu memasukkan ke dalam koper.
__ADS_1
"Nara...kamu tidak boleh lagi tinggal disini!"
"Lebih baik tidur dimana saja untuk sementara waktu, yang penting keluar dari rumah Laras lebih dulu."
"Laras, terimakasih kamu sudah mau menolongku selama ini."
Nara berbicara sendiri, setelah selesai merapikan baju-bajunya masuk ke dalam koper, Nara langsung pergi dari rumah Laras dan tidak lupa dia meninggal surat kecil untuk Laras di atas tempat tidurnya.
Sebenarnya Nara merasa sangat berat meninggalkan rumah Laras, apalagi di rumah itu Nara merasa sangat nyaman, dulu juga Laras sangat menerima Nara dengan baik tapi seiring berjalan waktu semuanya berubah, Laras juga bukan Laras yang dulu lagi dan dia lebih mementingkan egonya saja.
Nara berjalan keluar dari dalam rumah Laras, dengan langkah kaki yang berat Nara pergi meninggalkan rumah sahabatku itu yang beberapa lama ini Nara tumpangi.
"Selamat tinggal...."
"Terimakasih sahabatku, kamu sudah pernah menerima aku dengan baik di rumah kamu selama ini."
Kini Nara membawa koper miliknya ke tempat kerjanya.
Sesampainya di tempat kerjanya Nara menaruh koper miliknya di dekat loker kerjanya, lalu Nara langsung berganti pakaian kerja dan dia mulai bekerja.
Sambil bekerja Nara terus berpikir dia akan mencari tempat tinggal dimana? Tadi Nara juga berbohong pada Laras kalau dirinya sudah menemukan tempat tinggal padahal Nara saja belum mencari kosan sama sekali.
*****
Siang menunjukkan pukul 12 siang, ketiga laki-laki tampan ini baru terbangun dari tidur mereka.
__ADS_1
"Aish, kepalaku pusing sekali......" Davin memegangi kepalanya, sungguh rasanya masih sangat pusing karena pengaruh alkohol.
"Makanya jangan kebanyakan minum...!" sahut Daniel, dia agak mengomel pada Davin apalagi Davin itu paling susah kalau di larang minum.
"Hey kalian, sudah jam 12 siang, ayo kita pulang...! Dan, kamu bawah mobilnya ya!" Alvian melemparkan kunci mobil miliknya pada Daniel.
Daniel menangkap kunci mobil milik Alvian dengan cepat.
"Baiklah, tapi kita mau pulang kemana?" tanya Daniel pada kedua sahabatnya itu.
"Ke cafe Alvian saja! Aku sangat lapar sekali," sahut Davin dengan wajah yang masih tidak karuan.
Daniel mengangguk dan akhirnya ketiga laki-laki tampan itu langsung pergi menuju ke cafe Alvian, sesampainya di cafe Alvian, mereka semua turun dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam cafe milik Alvian.
"Gadis kampung......." seru Davin saat melihat Nara yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Seketika Nara menoleh, tatapan matanya juga begitu garang pada Davin. "Aish, mau dia datang kesini?" batin Nara dalam hatinya.
Nara malah mengabaikan Davin dan dia malah melempar senyuman begitu manis pada Daniel yang berdiri di dekat Davin.
Seketika mata Davin membulat sempurna dan tatapan matanya begitu tidak suka pada Nara.
"Berani sekali dia malah tersenyum begitu manis pada Daniel...." Batin Davin dalam hatinya.
Tiba-tiba Davin langsung berjalan menuju ke tempat Nara sedang berdiri, Daniel dan Alvian hanya diam, entah apa yang akan di lakukan oleh Davin pada Nara?
__ADS_1
Bersambung
terimakasih para pembaca setia