Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Datang ke rumah Davin


__ADS_3

Di kediaman Marlin yang tidak lain adalah mamanya Davin.


Marlin duduk sendirian di ruang tengah dia sedang menunggu kedatangan Davin dan gadis yang bersamanya tadi.


"Siapa gadis itu?"


"Gadis seperti apa yang dia jadikan kekasihnya?"


"Bukankah Sita, itu lebih baik dan dia itu sangat sepadan dengan keluarga kita Vin."


Marlin tidak sabar menunggu Davin membawa gadis yang bersamanya tadi, berharap Marlin tidak kecewa dengan pilihan anaknya itu.


Di Apartemen milik Davin, tadi sebelum berangkat ke rumah mamanya Davin sempat terjadi perdebatan agak panjang.


Nara sebenarnya tidak mau di ajak ke rumah Davin, lagian Nara juga bukan kekasih Davin tapi Davin memohon dia meminta tolong pada Nara, hingga Nara yang merasa berhutang budi pada Davin, dia tidak tega melihat Davin dan akhirnya mau menolong Davin.


Kini mereka berdua sudah berada di mobil untuk pergi ke rumah mamanya Davin.


"Vin, perasaanku tidak enak...." kata Nara, hatinya terus berdebar kencang.


"Enakin saja, lagian mamaku orangnya sangat baik." Davin menyajikan Nara, tapi tetap saja perasaan Nara masih tidak enak.


Nara berdandan senatural mungkin, hari ini dia juga mengenakkan dress warna biru langit yang cukup elegan, kulitnya yang cukup putih membuat Nara terlihat cocok memakai dress yang saat ini dia kenakan, riasan yang natural membuat kecantikannya semakin terpancar.

__ADS_1


"Mudah-mudahan saja," harapan Nara sambil menundukkan kepalanya. "Kebanyakan orang kaya itu sombong, apalagi jika melihat gadis miskin seperti aku, pasti langsung memandang rendah diriku," batin Nara dalam hatinya.


"Tenanglah ada aku, semuanya akan baik-baik saja." Davin kembali meyakinkan Nara sambil tersenyum pada Nara.


Nara mengangguk, Nara yakin Davin pasti akan melindunginya apapun yang terjadi pasti Davin tidak akan membiarkan dirinya sampai kenapa-napa.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama akhirnya Nara dan Davin sampai di depan rumahnya Davin, Nara menghela nafas dengan pelan. "Nara tenanglah," batin Nara dalam hatinya, saat ini tubuh Nara merasa gemetaran.


Davin turun lebih dulu dari dalam mobilnya, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Nara.


"Turunlah..." tatapan mata Davin begitu lembut, tangan Davin meraih tangan Nara lalu mengandeng tangan Nara dengan mesra.


"Vin aku deg-deggan...." lirih Nara.


"Tenanglah, mamaku tidak segalak macam kok," sahut Davin dengan suara lirih juga.


"Tuan Davin....." sapa para penjaga yang ada di depan rumah Davin, mereka mengangguk sopan secara bersamaan.


Nara membalas anggukan mereka juga dengan sopan. "Rumah saja sampai ada penjaganya." Nara merasa kagum dalam hatinya.


"Pak Yun, mama dirumah?" tanya Davin pada salah satu penjaga rumah itu.


"Ada Tuan Muda, mari silahkan masuk..!" Pak Yun, mengantarkan Nara dan Davin masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Sesampainya di dalam rumah Marlin sudah duduk di ruang tamu, dengan raut wajah yang sulit Davin artikan.


Nara merasa deg-deggan, sedangkan Davin terus menggenggam tangan Nara dengan kuat.


"Vin....." lirih Nara.


"Hush, tenanglah....!!" sahut Davin dengan suara lirih juga.


Marlin menatap Nara dengan tatapan yang sulit Nara artikan, tapi tatapan Marlin juga membuat Nara takut sebenarnya. "Sepertinya, mamanya Davin tidak suka dengan ke datangan aku," batin Nara dalam hatinya.


"Mama, apa kabar?" tanya Davin, dia langsung memeluk mamanya tapi tangannya juga tidak melepaskan tangan Nara dari genggamannya.


"Baik, ini kekasihmu?" jawab Marlin, seraya melepaskan Davin dari pelukannya, lalu menatap Nara lagi-lagi dengan tatapan sulit di artikan. "Jelas-jelas lebih cantikan Sifa," batin Marlin dalam hatinya.


"Kenalkan Tante....saya...."


"Dia kekasih Davin ma, namanya Nara." Davin dengan cepat memotong kata-kata Nara.


Seketika Marlin tatapan matanya langsung membulat sempurna.


"Apakah itu benar.....?" tanya Marlin sambil melihat Nara dengan sorot mata tajam.


"Tante....."

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2