
"Akan apa?" Davin menatap Nara dengan sorot mata tajam seperti singa yang akan menerkam mangsanya.
"Aku akan....."
"Tentu saja aku akan menerimanya dengan senang hati." Nara melanjutkan kata-katanya dan itu lagi-lagi membuat Davin menatapnya dengan tajam. "Jika kamu berani melakukan itu, maka besok pagi juga aku akan menikahi kamu," tatapan maut Davin membuat Nara ingin tertawa tapi berusaha menahannya. "Selain raja drama, ternyata Davin juga rajanya cemburuan," batin Nara dalam hatinya.
"Dasar tidak jelas, kamu yang bertanya, terus kamu juga yang tidak bisa menerima jawaban dariku," oceh Nara merasa kesal pada Davin.
"Tidurlah sekarang sudah malam!" suruh Davin dengan juteknya, tatapannya juga begitu dingin, mungkin karena cemburu mendengar jawaban dari Nara.
"Baiklah, ayo kita tidur....!!" sahut Nara, ia beranjak dari tempat duduknya.
"Tidur berdua?" tanya Davin antuasias.
"Iya kamu tidur berdua dengan Bos Al," jawab Nara sambil tersenyum.
"Kirain sama kamu, kan aku tidak akan menolak," goda Davin dengan nakal.
Nara mendengus kesal, haruskah dia berpacaran dengan Davin yang sukanya drama dan hobbynya itu mesum.
"Aku yang akan menolak tidur berdua denganmu, dasar cecungguk mesum," ucap Nara dan ia berlalu pergi meninggalkan Davin.
Melihat Nara berjalan masuk ke dalam rumahnya Alvian, Davin sekilas tersenyum kecil dan senyum itu sulit sekali di artikan.
"Sok-sokan tidak mau tidur denganku, giliran nanti aku tidurin, aku yakin kamu pasti akan ketagihan," gumam Davin dan dia tertawa sendiri membayangkan jika dirinya dan Nara tidur satu ranjang, pasti itu akan lucu sekali, itu yang Davin pikirkan.
Buru-buru Davin menepis pikiran joroknya atau Nara mengomelinya jika Nara tahu pikiran joroknya saat ini. "Haha, lucu pasti," tawa Davin dalam hatinya.
__ADS_1
Kini malam semakin larut, Nara tertidur dengan nyenyak, Alvian dan juga Davin juga tidur berpelukan.
Ya biarpun sebelum tidur Alvian selalu mewanti-wanti Davin agar tidak memeluk dirinya, tapi ya namanya orang tidur dan tidak sadar apa yang dilakukan? Ujung-ujungnya meluk Alvian juga tidurnya.
*****
Marlin terdiam sendirian, di rumahnya yang begitu megah sungguh sangat sepi karena ia hanya sendirian dirumahnya.
Semua Art nya juga sudah istirahat karena sudah larut malam.
"Rumah begitu besar tapi rasanya sepi sekali."
"Davin, mama merindukanmu nak."
"Kenapa, kamu harus memilih gadis miskin? Padahal gadis-gadis pilihan mama jelas lebih cocok denganmu."
*****
Pagi hari yang cerah telah datang, Laras terdiam sendirian.
"Rasanya sangat kesepian."
"Sudah lama, aku tidak bertemu dengan Alvian dan sahabat-sahabat yang lainnya."
"Laras, kamu itu terlalu egois, sekarang kamu tidak punya sahabatkan."
Laras berpikir keras, karena setelah beberapa lama jauh dari para sahabatnya, Laras merasa kesepian dan tidak seceria dulu.
__ADS_1
"Hari ini aku mau datang ke cafe Alvian, mudah-mudahan Alvian sudah tidak marah lagi padaku," harapan Laras dalam hatinya.
Laras bergegas untuk mandi dan bersiap-siap pergi ke cafenya Alvian.
Pagi menunjukkan pukul 8 pagi, Nara dan Davin sudah di sibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Sayang, muahh....." dengan jail Davin menggoda Nara dari kejauhan.
"Apaan sih? Kerja yang benar," omel Nara bukannya senang tapi malah kesal sama Davin.
Davin memeletkan lidahnya meledek Nara, membuat Nara kesal itu adalah salah satu kegemarannya.
"Maaf, Tuan Alviannya?" tanya seseorang.
"Ada nona, Tuan Al sedang di ruangan kerjanya," jawab salah satu pelayan cafe Alvian.
Seseorang itu langsung pergi menuju ke ruangan Alvian, sesampainya di depan ruangan Alvian ia mengetuk pintu ruangan kerja Alvian.
"Tok...tok...tok...."
Mendengar suara ketukan pintu, Alvian beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu ruangannya.
"Ceklek....."
"Kamu.... untuk apa kamu kesini?"
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia