Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Ibu Nara sakit


__ADS_3

Saat Davin semakin mendekatkan dirinya, seketika dengan jurus mautnya Nara langsung menahan tubuh Davin dengan kuat.


"Jangan macam-macam bodoh! Bagaimana jika terjadi sesuatu?"


"Terjadi sesuatu? Memang itu yang aku inginkan."


"Menjauh kamu dariku!" sentak Nara dan dengan kuat Nara mendorong tubuh kekar Davin, Davin pun terhuyung karena ia tidak sigap.


Davin nyengir kuda, bukannya marah ia malah menunjukkan raut wajah yang bahagia, ternyata Nara itu kuat juga, bagaimana saat di ranjang nanti ya? Rasanya aku tidak sabar ingin segera menikahinya.


Otak mesum Davin mulai bertraveling, sungguh hal-hal jorok begitu terngiang-ngiang di dalam otaknya sana.


Tringgg


Tiba-tiba ponsel milik Nara berdering, Nara merogok ponsel miliknya dari dalam saku celananya, lalu ia melihat telpon dari siapa? "Ibu," gumamnya dengan suara pelan.


"Siapa yang menelpon?" Davin cukup penasaran, karena ia tidak mendengar gumaman Nara baru saja.


"Ibuku, tunggu sebentar aku angkat telponnya dulu," sahut Nara dan ia menjauhkan dirinya dari Davin untuk mengangkat telpon dari ibunya.


Davin mengeryitkan dahinya dengan kesal, jika itu telpon dari ibunya, tapi mengapa ia harus mengangkat telpon itu jauh dariku? Davin yang mulai curiga, ia pun mendekati Nara dan berniat menguping benarkah ibunya yang menelpon Nara?


Davin menempelkan telinganya pada dinding tembok bercat putih, karena ia tidak berani menampakkan dirinya, karena takut Nara marah, sungguh Davin sudah seperti cicak yang sedang hinggap di tembok.


"Hallo bu,"


"Nara, ini ayah."

__ADS_1


"Ayah, ada apa?"


"Nara, sakit ibu kambuh dan harus dibawah ke rumah sakit, tapi ayah tidak punya uang sama sekali."


Seketika Nara langsung meneteskan air matanya, ia kawatir ibunya kenapa-kenapa.


"Ayah, langsung bawah ke rumah sakit ya! Nanti Nara segera kirim uang untuk biaya perawatan rumah sakit ibu."


"Baiklah nak," Ayah Nara mematikan saluran telponnya.


Ayah Nara langsung bergegas membawa ibunya Nara ke rumah sakit, rasanya sangat kawatir melihat istrinya sakit dan saat ini wajahnya sangat pucat sekali.


Nara terdiam, ia memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang? Sedangkan ia juga belum gajian, jika meminta pada Bos Alvian aku tidak enak.


Davin keluar dari persembunyiannya, ia mendekati Nara yang terdiam seperti orang bingung.


"Ada apa?"


"Siapa yang menelpon?"


"Ayahku yang menelpon, ibuku sakit dan harus di bawah ke rumah sakit."


"Lalu? Sudah dibawa ke rumah sakit?"


"Ayah aku suruh membawanya ke rumah sakit, namun aku tidak ada uang untuk biaya rumah sakit ibu," keluh Nara, tampak sedih dan kedua matanya sudah berembun, rasanya saat ini Nara sungguh tidak berguna.


Davin mengusap rambut Nara dengan lembut. "Kirim uang sekarang! Kamu bisa gunakan uang yang ada di dalam sini," ujar Davin dan ia mengambil ATM milik Rangga yang Rangga berikan pada dirinya.

__ADS_1


"Tapi," tatapan Nara ragu.


"Tidak ada kata tapi, nanti setelah aku pulang ke rumah dan aku kembali mengurus perusahaanku, aku akan mengganti semua uang yang di pakai untuk biaya perawatan ibu kamu," tutur Davin dengan nada lembut, membuat Nara menangis dan langsung memeluk erat Davin, Davin pun membalas pelukan Nara.


Davin dan Nara langsung bergegas pergi ke ATM, Nara mengirim uang kepada ayahnya sebesar 50 juta, untung saja di ATM Rangga isinya itu miliaran rupiah, jadi 50 juta itu sedikit baginya.


*


*


Alvian baru saja sampai di rumahnya, ia masuk dan melihat rumah tampak sepi. "Kemana Nara dan Davin?"


"Al, kamu sudah pulang," tanya Davin membuat Alvian kaget.


"Kalian darimana?" Alvian balik bertanya.


"Kita habis dari ATM, oh iya bagaimana tadi?" tanya Davin penuh rasa penasaran.


"Vin, aku istirahat dulu ya," pamit Nara dan ia memilih masuk ke kamar.


Setelah Nara masuk ke kamar, Alvian dan Davin duduk di sofa ruang tengah.


"Aku lihat Nara tampak sedih, apa kamu membuatnya sedih?" tanya Alvian pada Davin.


"Ibunya sedang sakit, bukan aku yang membuatnya sedih, oh iya tadi bagaimana?"


"Rena itu gadis yang asik," jawab Alvian dan ia beranjak dari tempat duduknya lalu pergi masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Davin di tinggalkan sendirian di ruang tengah, dasar sahabat macam apa Alvian ini, aku di tinggalkan begitu saja.


Bersambung


__ADS_2