Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Davin vs Alvian


__ADS_3

"Lalu.....kamu mau tidur dimana?" tanya Davin pada Nara.


"Aku......"


Nara menatap Alvian, ia tidak enak hati karena takut merepotkan Alvian.


"Aku tidur di sofa aja," lirih Nara sambil menundukkan kepalanya.


"Nara, kamu tidur di kamar tamu, lalu kamu Vin, kamu tidur di sofa jika kamu tidak mau maka kamu tidur satu kamar denganku!" titah Alvian pada Nara dan Davin.


"Haah... haruskah aku tidur satu ranjang denganmu? Al, aku tidak mau kalau kamu sampai menodaiku," celoteh Davin dengan raut wajah kesal.


Dalam otak Davin, di saat ia nanti tidur berdua dengan Al pasti akan terjadi sesuatu yang tidak enak, aish bagaimana jika Alvian menggerepe-***** diriku?


"Dasar laki-laki mesum, siapa juga yang mau denganmu?" Alvian geleng-geleng kepala, kenapa bisa punya sahabat seperti Davin yang otaknya selalu mesum?


"Cepatlah tidur! Aku sudah mengantuk," titah Alvian pada Davin, nada bicaranya juga ketus karena merasa kesal pada Davin.


"Nara, kamu istirahatlah! Jangan lupa kunci pintunya! Takutnya malam-malam ada tikus garong yang datang ke kamarmu," kata Alvian dengan nada lembut, tapi tatapannya semakin menjadi pada Davin. "Sembrangan kamu bilang aku tikus garong," omel Davin dan Alvian hanya menjulurkan lidahnya. "Wlekk.....!!" Alvian berlalu pergi, Davin juga langsung mengikuti langkah kaki Alvian.


Setelah Alvian dan Davin pergi, Nara pun langsung masuk ke dalam kamar tamu untuk segera istirahat, selain lelah dengan sandiwara Davin hari ini, Nara juga terlalu lelah karena Davin selalu saja mengajak dirinya berdebat.

__ADS_1


*****


Jam menunjukkan pukul 9 malam, Nara gulang-guling tidak bisa tidur, ia merasa gelisah memikirkan hidupnya di perantauan menjadi sekacau ini.


Niat merantau untuk mencari uang untuk membiayai pengobatan mamanya yang sakit-sakitan, ini ia malah selalu terjerumus dengan sandiwara Davin.


"Maaf, maafkan Nara, Nara janji akan mencari uang banyak untuk mama dan keluarga," kata Nara pada dirinya sendiri.


Angin malam terasa tampak dingin menusuk tubuh mungilnya, Nara menarik selimut yang tebal lalu ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya, berharap pagi yang akan datang semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah lagi, tapi dengan cepat Nara menepis pikiran itu, tidak mungkin manusia hidup tidak punya masalah, biarpun sekecil apapun pasti setiap manusia mempunyai masalah masing-masing.


Hembusan angin yang cukup dingin, membuat Nara tanpa sadar memejamkan matanya dan tidur dengan nyenyak.


*****


"Al, bantal guling adalah perbatasan di antara kita, kamu tidak boleh melewati bantal guling ini!" titah Davin, ia menaruh bantal guling di tengah-tengah dirinya dan Alvian tidur.


"Ini apalagi?" gerutu Alvian, rasanya sudah sangat mengantuk tapi Davin terus saja berceloteh seperti burung beo.


"Ini bantal guling, biar kamu tidak peluk-peluk aku," jelas Davin dengan tegas.


Alvian hanya mengangguk, lalu ia pun memutuskan untuk tidur dengan posisi membelakangi Davin karena tidak mau terus-terusan meladeni Davin yang terus bersikap konyol dan berpikiran mesum. Jika ada kamar satu lagi, Alvian juga sebenarnya enggan tidur satu kamar dengan Davin. Tapi ya mau bagaimana lagi? Di rumahnya hanya ada dua kamar jadi Alvian mau tidak mau harus tidur bersama dengan Davin.

__ADS_1


Malam semakin larut, Alvian akhirnya tertidur nyenyak sedangkan Davin masih gulang-guling karena merasa gelisah, ia memikirkan bagaimana hidupnya ke depannya? Sedangkan semuanya yang Davin miliki sudah di ambil semua oleh mamanya.


Karena terlalu berpikir, Davin juga tidak tahu akan seperti apa nantinya? Akhirnya Davin pun tertidur nyenyak.


Pagi yang terang gini telah datang, langit begitu cerah, matahari juga sudah mulai menyusup masuk ke kamar Alvian.


Perlahan-lahan Alvian membuka kedua matanya karena merasakan sorot matahari yang begitu terang.


"Jam berapa sekarang......?"


"Kenapa, tubuhku berat sekali rasanya?"


Alvian membuka matanya dengan jelas, lalu ia menoleh ke sebelahnya ternyata tangan kekar Davin dengan hangat memeluk dirinya.


"Davinnnn.......!!!!!''


"Kamu sungguh terlalu, kamu menodaiku...!!"


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2