Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Rasa kesepian Marlin


__ADS_3

Setelah beberapa hari menikmati bulan madu akhirnya Davin dan Nara pulang, kali ini mereka tidak pulang ke rumah Alvian, karena Alvian sudah menikah juga.


Rangga sudah menyiapkan satu apartemen miliknya untuk Davin dan Nara tinggali. Lagi-lagi ini Rangga melakukannya untuk membalas kebaikan Davin di masa lalu.


Davin sangat bersyukur karena punya saudara sepupu seperti Rangga, dia adalah orang yang begitu baik.


Sesampainya di apartemen milik Rangga, Davin dan Nara langsung istirahat karena terlalu lelah dengan perjalanan bulan madu mereka.


"Daniel akan menikah," kata Davin tiba-tiba.


Nara mengangguk, ia tidak terkejut sama sekali, jika Kak Daniel akan menikah itu akan lebih baik. Laras kamu ada dimana? Nara terdiam ia memikirkan Laras yang tidak lain adalah sahabatnya.


"Dengan Manda?" tanya Nara, di anggukin oleh Davin dengan tatapan cemburu.


"Apa kamu berharap dia akan menikah denganmu?" cebik Davin dengan rasa cemburunya, membuat Nara mengernyitkan dahinya. Dia yang membahas dia juga yang cemburu, dasar tidak jelas.


"Apa salahnya? Kak Daniel kan baik, kalau aku jadi istrinya aku juga pasti akan bahagia," dengan sengaja Nara memanasi Davin. Biarkan saja Davin seperti cacing kepanasan.


Davin menatap tajam Nara. "Hey, akan aku berikan hukuman kamu sudah berani ya membicarakan laki-laki lain di depan suamimu," kata Davin dan Nara memutar kedua bola matanya. Dia yang mulai membahas dia juga yang memberikan hukuman padaku, aku rasa Davin mulai gila.


"Memangnya kamu mau menghukumku apa?" tanya Nara dengan entengnya, paling di suruh masak, pikir Nara dengan yakin.


"Di kamarlah hukumannya!" seru Davin dengan sorot mata mesum.


Perasaan Nara langsung pias dan berubah menjadi tidak enak, saat bulan madu aku sudah di bolak-balik seperti gorengan mendoan apakah dia akan melakukan lagi? Dasar laki-laki gila.


"Aku tidak mau...!!" tolak Nara tegas.

__ADS_1


"Hukuman tidak boleh di tolak!" kata Davin dengan tatapan jail.


Tanpa menunggu persetujuan dari Nara, Davin mengangkat tubuh Nara masuk ke dalam kamar sesampainya di dalam kamar hukuman itupun di lakukan oleh Davin di atas ranjang tempat tidur.


Pergulatan panas terjadi di sana, Nara kembali di bolak-balik oleh Davin seperti gorengan tempe yang sedang di goreng. Dasar Davin tidak ada capeknya, padahal nafas Nara sudah tersengal-sengal tapi masih saja semangat mengarap ladang milik Nara.


Dalam hati Nara, inikah rasanya menjadi pengantin baru sedikit-sedikit bertemu dengan kasur, padahal badanku sudah pada sakit tapi Davin tetap saja melakukannya.


****


Setelah beberapa hari berlalu pernikahan Davin dan Nara dan kedua sejoli itu sangat bahagia tapi di sisi lain ada Marlin yang sama sekali tidak bahagia dengan pernikahan putranya.


Marlin terdiam sendirian di sofa ruang tengah, hidupnya tampak kesepian bahkan Davin yang dulu hampir setiap hari di marahi karena mabuk-mabukan sekarang sudah tidak bisa ia marahi lagi, Davin sudah menikah dan bahagia dengan istrinya.


Saat terdiam bayangan Davin seperti muncul di hadapannya, membuat Marlin sangat merindukan anaknya yang menyebalkan itu.


Tidak terasa air matanya menetes di kedua pipinya, setelah Marlin tahan-tahan dan berusaha kuat tapi akhirnya menangis juga. Ada rasa penyesalan yang cukup dalam, apalagi di saat ia memikirkan dirinya yang begitu egois dan bisa-bisanya ia tidak datang ke acara nikahan putra kesayangannya itu.


Rangga datang dan di sambut oleh Art di rumahnya Marlin, Rangga datang untuk bertemu dengan Marlin yang tidak lain adalah Bibinya.


"Bibi..."


Rangga menyapa Marlin, ia menyalami tangan Marlin dengan sopan. Lalu duduk di samping Marlin, saat melihat Marlin menangis Rangga memeluk Bibi nya itu dengan erat.


"Rang, gimana keadaan Kakakmu?" tanya Marlin yang sebenarnya sangat kawatir pada Davin.


"Kak Davin baik-baik saja, Bi. Dia bahagia dengan Kak Nara," jawab Rangga dengan jujur.

__ADS_1


"Apa Davin menanyakan Bibi?" tanya Marlin dengan nada sendu.


Rangga hanya menggelengkan kepalanya. "Tapi di hari pernikahan Kak Davin, Kak Davin sangat sedih Bi, apa Bibi tidak ingin melihat Kak Davin dan Kak Nara?" ujar Rangga dengan nada lembut.


Tangis Marlin semakin pecah, di hari pernikahannya Davin kemarin Marlin dan Papanya tidak ada yang hadir sama sekali. Malang nasib Davin, tapi ini semua takdir dan Davin mencoba kuat menghadapi semuanya.


"Untuk saat ini tidak Nak, biarkan dia bahagia bersama dengan gadis pilihannya itu!" jawab Marlin terdengar cuek tapi sebenarnya dalam hati ingin sekali menemui anak dan menantunya itu.


"Baiklah Bi, tenang diri Bibi dulu. Kak Davin dan Kak Nara baik-baik saja Bi," kata Rangga pada Marlin.


Marlin mengangguk, lalu Rangga langsung berpamitan pulang karena masih ada urusan penting lainnya.


Setelah Rangga pulang, Marlin kembali terdiam memikirkan Davin dan Nara. Bahkan Marlin memikirkan bagaimana cara dua anak nakal itu melanjutkan hidupnya? Aku bahkan memblokir semua ATM Davin, semua fasilitas yang aku berikan juga Davin tinggalkan begitu saja.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


Mampir yuk kakak-kakak ke karya teman-teman Asti 🤗





__ADS_1


__ADS_2