Cinta Para CEO Tampan

Cinta Para CEO Tampan
Kencan buta Davin


__ADS_3

"Entahlah Ras, mungkin dia sedang sibuk." Jawab Nara dengan cuek.


Laras masih memperhatikan orang itu, kini Laras bahkan tidak berkedip. Entah siapa yang Laras lihat?


"Apa Ra, sibuk?! Aish, bisa gitu ya sibuk dengan gadis cantik seperti itu, dasar Davin." Laras menatap Davin dengan tatapan kesal.


"Kenapa? Kamu suka sama Davin?" Tanya Nara, dia tersenyum jail pada Laras.


"Tentu saja tidak, dia bukan seleraku Ra." Jawab Laras, tentu saja di hati Laras sudah ada laki-laki lain.


Di sebuah meja restoran, Davin terlihat sedang berbincang dengan hadis cantik dengan rambut terurai, iya dia adalah gadis yang pilihan mamanya untuk Davin berkencan buta. Sungguh Davin sangat malas, namun jika Davin menolak pasti sang mama akan mengancam Davin untuk di keluarkan dari kartu keluarga, itulah yang selalu di ancam oleh Marlin agar Davin selalu tunduk pada dirinya.


"Nona Hera, kamu sangat cantik. Kenapa kamu menerima kencan buta ini?" Tanya Davin pada Hera, gadis yang tidak lain adalah pilihan mamanya.


"Apa salahnya? Waktu aku melihat poto kamu, kamu terlihat tampan jadi aku menerimanya," jawab Hera, membuat Davin menghela nafas berat.


"Seperti inilah resiko laki-laki tampan, sungguh banyak gadis yang mau denganku tapi kenapa hanya dia yang selalu terbayang-bayang dalam pikiranku?" Batin Davin dalam hatinya.


Davin mengingat masa lalunya bersama gadis yang pernah ada di dalam hatinya.


"Hanya karena poto? Aish, Nona Hera kamu sungguh lucu," kata Davin sambil tersenyum begitu manis.


"Tapikan kenyataannya memang kamu sangat tampan Davin," tandas Hera membuat Davin langsung kicep.


Laras dan Nara masih berdiri tidak jauh dari meja Hera dan Davin, Davin menghela nafas panjang, lalu tidak sengaja matanya melihat dua gadis cantik yang tidak lain adalah satu sahabatnya dan satunya adalah gadis yang dia tidak suka.


"Kebetulan ada mereka, aku jadi bisa meninggalkan kencan buta yang sangat membosankan ini," batin Davin dalam hatinya.


"Hay sayang, kemarilah!" Tangan Davin melambai ke arah Laras dan Nara.

__ADS_1


Laras dan Nara saling menatap satu sama lain. "Apa dia memanggil kita?" Tanya Laras dan Nara secara bersamaan.


"Apes kita Ra....."


"Aku juga males, haruskah kita ke sana?"


Hera mengikuti pandangan Davin, tatapan matanya agak kesal melihat Laras dan Nara yang sedang berdiri tidak jauh dari meja mereka.


"Siapa mereka?" Tanya Hera, dengan tatapan penuh rasa kesal.


"Tunggu, aku kenalkan mereka padamu ya." Davin beranjak dari tempat duduknya, dia menjemput Laras dan Nara untuk bergabung dengan dirinya dan Hera.


Laras menatap Davin dengan tatapan sengit, Nara juga menatap Davin dengan tatapan tidak suka.


"Kalian, tolonglah bantu aku! Aku ingin sekali melarikan diri dari acara kencan buta ini, aku mohon." Davin memohon pada Laras dan Nara, bahkan wajahnya di buat memelas mungkin.


Laras senyam-senyum, tentu saja dia punya ide untuk mengerjai Davin. Sedangkan Nara menatap Laras dengan tatapan bingung.


"Nara, ini adalah rejeki buat kita." Jawab Laras dengan senyum penuh semangat.


Nara semakin tidak mengerti dengan apa yang di pikiran oleh Laras.


"Rejeki? Jelas-jelas dia begitu sombong dan sangat menyebalkan," batin Nara dalam hatinya.


"Kalian maukan membantuku?" Tanya Davin memastikan.


"Baiklah, tapi kamu harus membelanjakan kita hari ini!" Tawar Laras, dan Davin mengangguk. Dalam hati Davin, yang penting dia bisa terlepas dari acara kencan buta ini.


Kini mereka bertiga berjalan menuju ke tempat Hera duduk, terlihat tatapan Hera sangat kesal dan tidak suka dengan Laras dan Nara.

__ADS_1


"Mereka siapa Vin?" Tanya Hera, kali ini tatapannya semakin garang.


"Kenalkan, mereka adalah gadis-gadis yang sedang dekat denganku. Kita rencana mau shopping bareng," jawab Davin dan di sambut senyum paksa oleh Nara dan Laras.


"Sayang, katanya mau ajak aku belanja. Tapi kamu malah makan berdua dengan wanita lain, aku marah padamu." Kata Laras, akting Laras sungguh bagus. Bahkan dia meranjuk manja pada Davin.


Nara hanya tersenyum, dalam hatinya sungguh ini drama apalagi? Apa hidup orang kaya itu penuh dengan drama?


"Iya sayang, maaf. Oh iya Hera, kamu mau ikut kita belanja tidak?" Davin menarik Laras, kini Laras harus pura-pura mesra dan bersandar di bahu Davin.


"Sial, kenapa aku harus bertemu dengan Davin? Ini bukan pertama kalinya aku harus berakting konyol seperti ini," batin Laras dalam hatinya.


"Ayo cepetan!" Laras merengek manja.


Hera rasanya kesal dan ingin muntah sekali, baru pertama kali dia perlakuan seperti ini saat sedang kencan buta dengan seorang laki-laki.


"Iya ayo sayang, Hera ayo ikut!" Ajak Davin sambil tersenyum.


"Tidak usah, saya permisi!" Sahut Hera dengan begitu ketus sambil meninggalkan tempat duduknya.


Setelah Hera pergi, Davin tersenyum penuh kemenangan sedangkan Laras dan Nara sama-sama menatapnya dengan kesal.


"Sekarang, penuhi janjimu!" Pinta Laras dengan tegas. "Ayo Ra, kita belanja sepuasnya kita habiskan uang Davin!" Ajak Laras dengan begitu antusias.


Davin mengangguk pelan, lalu dia mengajak kedua gadis itu untuk berbelanja. Davin sudah selamat dari kencan buta yang di atur oleh mamanya, tapi dia tidak akan selamat dari Laras dan Nara, karena Laras pasti tidak akan tanggung-tanggung jika di belanjakan oleh Davin.


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


Mt lagi error, maaf ya kalau up nya lama 🙏


__ADS_2