
Malam menunjukkan pukul 10, Daniel terdiam membisu sendirian di kamarnya, cat kamar yang serba warna putih, membuat dirinya merasa tenang.
Daniel merebahkan tubuhnya di atas kasur ia menatap atap kamarnya, disana ada bayangan wajah Nara yang selalu membuat Daniel merindukannya.
"Aku yang lebih dulu menyukainya." Daniel berbicara sendiri, hatinya masih belum bisa menerima jika saat ini Nara resmi berpacaran dengan Davin.
"Kenapa Davin tega padaku, ia menikungku secara tiba-tiba," lanjut Daniel, senyum manis yang biasanya Daniel pancaran kini menjadi kesedihan dalam hatinya.
Daniel mencoba memejamkan matanya, namun bayangan wajah cantik Nara malah semakin jelas. "Sungguh, Nara tidak bisa hilang dalam pikiranku," batin Daniel dalam hatinya.
Davin beranjak dari tempat tidur, ia duduk ditepi ranjang, lalu membuka nakas yang ada di dekat ranjang tempat tidurnya, Daniel mengambil sebuah kotak kecil berwarna putih, lalu ia membuka kotak kecil yang ada di tangannya itu.
Daniel menatap sinar terang yang menyorot ke matanya, itu adalah sorot cincin emas yang berlapis berlian yang Daniel pesan khusus untuk Nara dua minggu yang lalu.
Daniel memang sudah lama ingin menyatakan perasaannya pada Nara, bahkan ia sudah menyiapkan sebuah cincin, namun belum sempat Daniel menyatakan perasaannya ternyata Davin sudah lebih dulu mengungkapkan perasaannya pada Nara.
__ADS_1
Dalam hati Daniel ada rasa sedih, pingin nangis dan ia juga mengutukti dirinya sendiri yang terlalu bodoh karena terlalu lama mengungkapkan perasaannya pada Nara.
Daniel kembali menutup kotak kecil yang berisi cincin itu, ia sadar jika cincin yang ia pesan khusus untuk Nara, kini sudah tidak ada gunanya lagi.
Daniel membuang kotak cincin itu ke tong sampah. Lalu ia kembali merebahkan tubuh kekarnya di atas kasur, tidurnya malam ini begitu gelisah dan tidak tenang, hatinya sedih dan rasanya ingin menangis.
*****
Di saat Daniel sedang meratapi kesedihannya, disisi lain Nara sedang makan malam bersama Davin dan Alvian.
"Bos Al, terimakasih ya sudah memberikan aku tumpangan rumah, aku secepatnya akan mencari tempat tinggal," kata Nara sambil menikmati nasi goreng pedas buatannya.
"Ra, kamu boleh tinggal disini sampai kapanpun kamu mau! Lagian ada kamu enak juga, ada yang masak," jawab Al yang diiringi tawa kecil di sudut bibirnya.
Davin yang sedang menikmati nasi goreng pedas buatan Nara, ia langsung mengalihkan pandangan ke arah Alvian, tatapan matanya terlihat kesal pada Alvian.
__ADS_1
"Sayang, mulai besok aku saja yang masak, aku tidak mau kalau kamu masak buat laki-laki lain, karena hanya aku yang boleh memakan masakanmu," celetuk Davin, membuat Nara hampir tersedak dan dengan cepat Alvian memberikan satu gelas air putih pada Nara. "Ra, minumlah...!!" kata Alvian.
Belum sempat Nara menerima segelas air putih dari Alvian, tiba-tiba tangan kekar Davin menyingkirkan tangan Alvian itu.
"Sayang, kamu minum air putih aku saja!" kata Davin sambil memberikan gelas air putih bekas dirinya.
Nara mengambil gelas berisi air putih dari tangan Davin, ia tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh Davin, lagian orang lagi tersedak Davin malah ada acara ngajak main drama segala.
"Kenapa, Davin tiba-tiba menjadi seperti ini?" gumam Alvian dengan suara lirih.
"Aku hanya berusaha menjadi kekasih yang baik dan perhatian," sahut Davin dengan tegas.
Setelah minum Nara menaruh gelas berisi air putih itu kembali di atas meja.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia