
Satu minggu telah berlalu hubungan Rena dan Alvian akhirnya tercium juga oleh Laras, namun mendengar Alvian telah menjalin hubungan dengan gadis lain dan ada berita gembar-gembor Alvian akan segera menikah dengan gadis itu, Laras begitu tidak suka.
"Aku yakin, Al hanya menjadikan gadis yang akan dia nikahi saat ini hanya sebagai pelampiasan saja," kekeh Laras dalam hatinya.
Lagian bukan hal mudah untuk melupakan seorang Laras, aku tahu Al kamu selama ini begitu mencintaiku, jadi aku yakin tidak akan semudah itu untuk kamu move on dariku.
Bahkan Laras enggan untuk mendoakan kebahagiaan Alvian dengan calon istrinya itu.
Dasar Laras itu benar-benar manusia egois, dulu Alvian mati-matian ingin mendapatkan hatinya tapi ya Laras nya malah ngejar-ngejar Daniel, entah apa mau satu manusia ini sebenarnya?
***
Di saat Laras tidak bahagia mendengar kabar bahagia ini, Alvian malah sudah di sibukan fitting baju pengantin bersama dengan Rena.
Alvian juga memperlakukan Rena dengan cukup manis dan tentunya penuh dengan cinta.
Rena bahkan begitu bahagia, karena ia mendapatkan laki-laki sebaik Alvian yang saat ini berstatus menjadi calon suaminya.
Gadis cantik berambut panjang itu dan pipinya yang agak cabby, tubuhnya yang mulus putih bersih, itu sangat bahagia berada di sisi Alvian, apalagi setiap hari Alvian selalu memberikan kenyamanan baginya, sungguh gadis bodoh yang sudah menyia-nyiakan laki-laki sebaik Alvian ini.
"Al, bagaimana dengan gaun yang ini?" tanya Rena, dengan gaun pengantin berlengan panjang yang ia coba dan mahkota kecil yang menghiasi kepalanya, sungguh Rena begitu cantik bak bidadari turun dari kayangan.
"Cantik sekali, cocok untuk kamu sayang," jawab Alvian terukir senyum yang begitu hangat, dan panggilan sayang untuk Rena, itu membuat Rena tersipu malu-malu, entahlah mungkin karena belum terbiasa.
Kini mereka berdua fitting gaun pengantin dengan bahagia, setelah fitting baju pengantin mereka juga akan pergi ke toko berlian untuk mengambil pesanan cincin pernikahan mereka nanti.
****
__ADS_1
Setelah satu minggu telah berlalu, hubungan Nara dan Davin juga semakin berkembang. Davin juga hari ini memberanikan diri untuk mengajak Nara bertemu dengan mamanya, karena Davin ingin meminta restu pada mamanya, apapun resikonya akan Davin terima pastinya. Daripada di cibirin Alvian terus, kan tidak lucu. Mentang-mentang 2 minggu lagi akan menikah, Alvian senang sekali mengejek para sahabatnya yang tidak nikah- nikah salah satunya Davin yang sering kali menjadi sasaran Alvian.
Dengan menggunakan mobil milik Alvian Davin langsung mengajak Nara pergi ke rumah ibunya. Awalnya Nara ragu ia juga tidak yakin untuk bertemu dengan mamanya Davin, tapi Davin selalu meyakinkan Nara untuk bertemu dengan mamanya.
"Vin, kamu ingatkan kita pernah di usir, jika itu terjadi lagi bagaimana?" tanya Nara tatapan matanya begitu sendu.
"Maka aku akan membawamu untuk kawin lari," jawab Davin sambil fokus menyetir. .
"Vin, tapikan pernikahan yang tidak di restui oleh kedua orang tua, katanya pernikahan itu tidak akan bahagia," lirih Nara dengan begitu hati-hati.
Davin menghela nafas panjang, ia juga memikirkan hal itu. Tapi Nara kamu tidak usah kawatir, aku lebih percaya akan takdir, aku akan berusaha membuat kamu bahagia selama di sampingku.
"Kamu jangan berpikiran macam-macam, aku tidak akan menyakitimu, aku pasti akan berusaha selalu membuat kamu bahagia," dengan tegas Davin menyakinkan Nara.
"Jikapun pada akhirnya aku harus menikahimu tanpa restu dari mamaku, maka aku akan tetap menikah denganmu," sambungnya dengan tegas.
"Tapi Vin, itu tidak akan baik dan...."
Entahlah akan seperti apa lanjutkan kisah cinta Davin dan Nara?
Sesampainya di rumahnya, Davin langsung memarkirkan mobilnya dan ia turun dari dalam mobil, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Nara.
Marlin yang sedang berada di dalam kamar, ia cukup sinis saat melihat cctv dan menunjukkan Davin sedang bergandengan dengan Nara, mereka menuju ke rumahnya.
"Untuk apa anak itu datang membawa gadis kampung itu kesini lagi?"
"Vin, mama itu sudah menyiapkan jodoh yang sepadan untukmu, ada Sintia, Della, Puspa dan Silvia, tapi kamu malah membawa gadis itu ke rumah lagi."
__ADS_1
Marlin menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya jika putra satu-satunya ini begitu kekeh dengan gadis pilihannya itu.
"Maaf tuan, tuan di larang masuk oleh Nyonya Marlin jika datang ke rumah," ujar seorang penjaga rumah mewah milik Marlin itu.
"Katakan pada mama, aku ada urusan penting, setelah itu aku akan pergi," ujar Davin pada sang penjaga rumah itu.
"Biarkan dia masuk, pak!" titah Marlin yang kini sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan begitu sinis.
Davin mengajak Nara masuk ke dalam rumah mamanya.
"Ada apa kamu datang kesini?" tanya Marlin, tanpa menyuruh dua sejoli itu duduk lebih dulu.
"Aku kesini hanya untuk meminta restu pada mama, aku mau menikah dengan Nara," ujar Davin dengan begitu tegas.
"Haha, kamu mau menikah dengan gadis kampung itu. Davin, lihat itu Sintia begitu menyukaimu, dia terus datang ke rumah," tawa Marlin begitu meremehkan Nara. "Dan kamu malah memilih gadis kampung ini," lanjut Marlin semakin meremehkan Nara.
"Jaga mulut mama, dia gadis yang Davin cintai," lawan Davin dengan begitu tegas.
"Makan cinta memangnya kenyang?" tanya Marlin yang diiringi cengiran sinis.
"Mama, aku kesini hanya untuk meminta restu pada mama, jadi mama tidak usah mengatakan hal ini dan itu," jawab Davin.
Marlin tersenyum sinis, tapi Davin terus menggenggam tangan Nara dengan erat. Nara juga tidak ikut bicara, ia yakin Davin bisa menghadapi mamanya.
"Mama...."
Akankah Marlin memberikan restu untuk dua sejoli itu?
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia